Iklan
Terorisme

Nestapa Mahasiswa yang Kuliah di Daerah Konflik

“Kami harus menggelar salat jenazah tiga kali tahun ini untuk beberapa teman kuliah kami yang tewas. Kondisi seperti ini tak pernah berhenti.”

oleh Ahmed Abu Draa
06 Maret 2018, 7:00am

Mahasiswa di Sinai University Mesir saat sedang tidak mengikuti kelas. Semua foto oleh Ahmed Abu Draa.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Arabia.

Saban hari, mahasiswa di Sinai Utara, sebuah provinsi di timur laut Mesir, harus berurusan dengan suara berondongan peluru, pos-pos pemeriksaan yang dikawal ketat oleh polisi dan ancaman insiden pemboman yang bisa terjadi kapan saja untuk bisa kuliah.

Sinai utara memiliki sekitar 100 ribu mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas-universitas setempat, misalnya Suez Canal University yang dikelola pemerintah maupun kampus swasta Sinai University. Tak sedikit mahasiswa dari kota tetangga yang hijrah ke Sinai Utara untuk belajar di tingkat yang lebih tinggi lantaran satu alasan: hampir tak ada perguruan tinggi lain di sekitar Sinai Utara.

Sejak enam tahun lalu, pejuang yang berafilisasi pada Negera Islam Irak dan Syam (ISIS) makin gencar menyerang anggota militer Mesir yang ditempatkan di sana. Teror kelompok ini mulai dilancarkan pada 2011 ketika mereka secara sistematis membom pipa minyak yang melintasi Sinai Utara menuju Yordania dan Israel. Mei 2012, ISIS mulai terang-terangan mengincar militer Mesir. Tak ayal, ratusan penduduk setempat harus meregang nyawa dalam jual beli serangan antara ISIS dan personel militer Mesir.

Khuloud saat diwawancarai VICE Arabia.

"Saya sudah kuliah selama empat tahun di Sinai Utara," kata Khuloud, seorang mahasiswa jurusan Media. "Selama empat itu, saya beberapa kali melewati hari-hari paling buruk dalam hidup saya. Bakal susah bagi orang luar untuk memahami betapa susahnya kuliah kalau kotamu terus dikepung.” Khuloud, yang berusia 21 tahun, lahir dan dibesarkan di Mansoura, sekitar 482 km ke arah barat Sinai Utara. Kendati demikian, Khuloud tinggal di Sinai Utara selama kuliah. “Kamu bisa pergi kuliah pagi hari tanpa tahu kalau kami bakal bisa kembali sore harinya,” imbuhnya. “Kami harus menggelar solat jenazah tiga kali tahun ini untuk beberapa teman kuliah kami yang tewas. Kondisi seperti ini seperti tak pernah berhenti.”

Khuloud mengaku sering merasa direndahkan oleh polisi yang menggeledahnya dengan agresif tiap kali kembali dari kampungnya. “Kebanyakan mahasiswa adalah ekspatriat jadi mereka diperlakukan dengan baik, sementara kami penduduk asli Mesir sering dikerjai dan dipermalukan di pos-pos pemeriksaan,” jelasnya. “Suatu hari, ketika saya kembali untuk kuliah di Sinai, saya pergi pukul enam pagi agar bisa naik feri yang menghubungan dua bagian Terusan Suez sebelum siang. Lalu, saya menunggu selama tiga jam untuk bisa sampai di tepian timur terusan. Di pos pemeriksaan, koper-koper saya bakal digeledah—benar-benar buang-buang waktu karena prosesnya akan diulang di pos pemeriksaan selanjutnya.”

"Kami hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Kendaraan bersenjata terus berpatroli di jalanan. Saya pernah melihat seorang milisi bertopeng dan bersenjata berlari di jalanan serta menyaksikan tentara Mesir dihabisi di siang bolong.”

Roqaya

Roqaya mahasiswa jurusan media lainnya mengatakan "selain ancaman kekerasan yang kami terima setiap hari, yang paling menyebalkan adalah jaringan internet dan kanal komunikasi sering kali diputus selama operasi militer Mesir atau gara-gara infrastrukturnya dihancurkan oleh ISIS. Masalahnya, saya kuliah Kajian Media. Kondisi macam ini bikin tugas-tugas kuliah saya terbengkalai. Belum lagi, kalau terjadi apa-apa, tak ada satupun cara mengabari keluarga jika kamu baik-baik saja. Beberapa orang mulai mengirim surat ke rumah mereka untuk memberi tahu mereka sehat walafiat. Jika musibah menimpa saya, keluarga saya baru tahu kabarnya dua atau tiga hari setelahnya.”

“Salah satu tugas kuliah Kajian Media adalah menyusun artikel berita dan membuat dokumenter. Masalahnya, di Sinai Utara, kalian tak bisa seenaknya menenteng kamera di jalan—itu sudah termasuk tindakan yang nekat,” imbuh Roqaya. “Lalu tiap kali kami memulai awal semester, kamu mengucapakan selamat tinggal pada keluarga kami seperti prajurit yang dikirim ke medan perang. Ketakutan kami tak pernah hilang. Kami khawatir kami tak akan kembali dengan selamat. Belum lagi apa yang saya saksikan di siang hari menghantui di malam hari. Saya tak pernah ketemu orang di Sinai Utara yang tak terpengaruh secara emosional oleh konflik yang berkecamuk di sini.”

Justina

Justina, mahasiswa jurusan farmasi di Sinai, kehilangan beberapa teman kuliahnya beberapa bulan lalu. Justina masih mengenang Mohammaed Rashid, seorang mahasiswa tehnik dan saudarinya, yang sama-sama kuliah di jurusan farmasi. Keduanya tewas dalam sebuah serangan bom di sisi jalan.

Kecuali untuk kuliah, Jamal Eldin jarang mau meninggalkan asrama kampusnya. Lagipula, Jamal bokek. Sering putusnya kanal komunikasi di Sinai Utara memaksa Jamal mengirit. Pasalnya, uang kiriman dari Kuwait, kampung halamannya, mustahil datang tepat waktu. Jika ada yang terus bikin dia bertahan, itu adalah fakta kalau Jamal bakal diwisuda dalam waktu dekat. Sementara itu, Jamal harus terus berutang budi pada mahasiswa asal Mesir yang mau berbagi dan menolongnya melewati ketegangan yang terus merundung Sinai Utara.

Kecuali untuk kuliah, Jamal Eldin jarang mau meninggalkan asrama kampusnya. Lagipula, Jamal bokek. Seringnya putusnya kanal komunikasi di Sinai Utara memaksa Jamal mengirit. Pasalnya, uang kiriman dari Kuwait, kampung halamannya, mustahil datang tepat waktu. Jika ada yang terus bikin dia bertahan, itu adalah fakta kalau Jamal bakal diwisuda dalam waktu dekat. Sementara itu, Jamal harus terus berhutang budi pada mahasiswa asal Mesir yang mau berbagi dan menolongnya melewati ketegangan yang terus merundung Sinai Utara.

Sebagian mahasiswa yang saya wawancarai geram dengan perlakuan buruk yang merea terima dari personel militer Mesir. Alaa, misalnya, pernah ditahan pos pemeriksaan suatu pagi saat hendak kuliah. “Petugas pos penjagan meminta saya mengeluarkan tanda pengenal. Saya lantas memberikan kartu mahasiswa saya, tapi mereka tetap menahan saya.” dari pos pemeriksaan, Alaa diserahkan pada pasukan khusus anti-terorisme Mesir yang menahan Alaa selama dua malam tanpa alasan jelas. Selama dalam tahanan, Alaa tak diperkenankan mengabari keluarganya.

Sekelompok mahasiswa Jurusan Ilmu Media di halaman Sinai University.

Pengalaman ini barangkali traumatis, tapi Alaa merasa cukup merasa beruntung. Setidaknya, dia kenal beberapa orang yang ditahan lebih lama dengan kondisi yang lebih menyedihkan. Penduduk Sinai Utara kadung percaya bahwa warga setempat selalu diperlakukan lebih buruk karena, menurut militer Mesir, mereka lebih berpeluang jadi mata-mata ISIS dibanding para pendatang.

Meski keluarga Asma tinggal hanya 30 menit perjalanan dari salah universitas, Asma, mahasiswa berumur 20 tahun, memilih tinggal di asrama kampus daripada harus bolak-balik dan menggadaikan nyawa tiap hari.

“Sebelum pindah ke sini, saya butuh beberapa jam untuk melalui semua post pemeriksaan,” katanya. “Kadang, saya memilih berjalan kaki sampai ke kampus.”

Bangunan utama di rektorat universitas yang porak poranda akibat serangan bom yang diarahkan pada pos pemeriksaan militer dekat kampus.

Sehati-hati apapun para mahasiswa-mahasiswa ini, musibah tetap mengetuk pintu mereka kapanpun. Beberapa bulan lalu, sebagian bangunan salah satu universitas hancur setelah pos pemeriksaan paling dekat dari kampus terkena serangan bom.

“Kami mengalami nestapa yang sama—baik mahasiswa atau dosen. Bedanya, kami para dosen bertanggung jawab atas keselamatan mahasiswa,” ujar Amal Nasrudin, Ketua Jurusan departemen Sastra Inggris. “Cuma akhir-akhir ini makin susah menjamin keselamatan mereka. Serangan ISIS makin gencar dan sasaran meluas sampai ke seluruh penjuru Sinai Utara. Saya kehilangan banyak mahasiswa sejak 2014. Yang terakhir namanya Mohammad Abu. namun berkaca pada apa yang belakangan terjadi di sini, saya tahu dia bukan korban terakhir.”