Iklan
Views My Own

Inilah Pengalamanku Memakai Aplikasi Kencan Sebagai Pengidap HIV Positif

Awalnya terasa seram, tapi ternyata tak seburuk yang kubayangkan.

oleh Amahl S. Azwar
13 Maret 2018, 8:53am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Saat memberi tahu calon gebetan di Tinder kalau saya positif mengidap HIV, dia tidak bisa menerimanya. “Enggak lucu woy," tulisnya. "HIV jangan dijadiin bahan becanda.”

Saya sudah menduga reaksi macam itu ketika mengungkapkan status kesehatan saya pada laki-laki pertama yang match di Tinder. Saya sudah mempersiapkan diri kalau-kalau dia akan memblok akun Tinder saya (yang sebetulnya disayangkan sih, karena dia cute banget).

Laki-laki kedua yang match di Tinder bilang, “oke” dengan status saya, tapi dia kurang paham kenapa saya masih “mainan Tinder.” Saya menjawabnya dengan lirik Morrissey: I am human and I need to be loved. Just like everyone else does.

Laki-laki ketiga yang match di Tinder kekeuh bahwa saya harus lebih sering membaca Al-Quran, mendengarkan ceramah, dan harus salat lima waktu. Selain itu, dia bilang dia enggak mau berkencan dengan saya karena— jeng jeng!—kita berdua cowok. Terus saya bilang, “Lah, kalau gitu ngapain ngeswipe kanan?”

Saya lanjut chatting sama laki-laki pertama: Mario. Dia bilang bahwa saya adalah orang pertama dengan status positif HIV, atau Poz, yang dia kenal. Dia bilang dia bingung antara merasa kasihan (dia tidak mau menyinggung saya) atau tidak (yang sebetulnya sangat kasar).

“Sebagian besar masyarakat kita masih sangat takut dengan orang-orang Poz dan, sejujur-jujurnya, gue juga merasa begitu,” ujarnya.

Ya, siapa yang bisa menyalahkan Mario?

Setelah melihat-lihat selama tiga hari di aplikasi-aplikasi kencan (Tinder, Grindr) di Jakarta dan Bandung, dua kota terbesar di Indonesia, saya belum melihat satupun profil yang berani memberitahukan status positif HIV. Satu laki-laki akhirnya mengakui dia juga seorang Poz setelah kami ngobrol-ngobrol lebih jauh.

“Gue baru akan ngasih tahu status gue kalau sudah lumayan dekat dengan seseorang,” ujar Donny, 30 tahun.

Jujur nih ya: lumayan tidak masuk akal untuk berasumsi bahwa sebagian besar laki-laki di aplikasi kencan berstatus negatif HIV.

Indonesia adalah satu dari tiga negara selain Cina dan India dengan tiga perempat jumlah total orang yang hidup dengan HIV di Asia dan Pasifik. Laki-laki gay dan laki-laki lainnya yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki adalah populasi kunci yang paling terkena dampak HIV di Indonesia, dengan prevalensi HIV sebesar 25,8 persen.

Jadi mengapa orang-orang cenderung tidak mengungkap fakta kalau mereka Poz?

Nico*, kawan saya yang mengetahui soal penyakitnya pada 2014, mengakui dia tidak akan pernah mengungkapkan statusnya di aplikasi kencan seperti Tinder atau Grindr terlepas dari fakta bahwa kandungan virus di tubuhnya “tidak terdeteksi,” yang berarti dalam tingkatan yang sangat rendah sampai-sampai tes darah tidak dapat mendeteksinya.

Dengan kata lain, Nico tidak berisiko menularkan HIV pada orang lain. Tetap saja, dia menolak untuk memberitahu orang lain selain kawan-kawan terdekatnya, apalagi untuk menuliskannya di profil aplikasi kencan.

“Komunitas gay di Jakarta sangat… kecil? Saya rasa semua laki-laki gay di kota ini akan tahu soal status HIV saya kalau saya menuliskannya di profil Grindr,” ujar Nico, yang mengetahui statusnya di usia 23 tahun.

Bagi Nico, bukan penolakan dari laki-laki di aplikasi kencan yang membuatnya takut mengungkapkan statusnya. Alih-alih, dia khawatir orang-orang akan takut “berdekatan” dengannya meski hanya untuk ngobrol, atau takut “minum dari gelas yang sama” dengannya.

Selain itu, Nico juga memilih untuk tidak memberitahukan statusnya pada pasangan-pasangan seksnya—sebelum ataupun sesudah berhubungan seks.

“Saya merasa bersalah, tapi karena saya “tidak terdeteksi,” saya tidak merasa terlalu bersalah,” ujar Nico.

Stigma, risiko diskriminasi, hinaan, samapi rasa takut kehilangan pekerjaan adalah beberapa faktor yang mempersulit ODHA terbuka soal status mereka. Itulah penjelasan Jonta Saragih, aktivis HIV/AIDS yang mempelajari Global Development and Gender di University of Leeds selama program masternya.

“Di dunia yang ideal, status HIV seseorang seharusnya merupakan informasi rahasia. ODHA seharusnya bisa memilih apakah dia ingin memberitahu soal statusnya atau tidak,” ujar Jonta.
“Meski demikian, jika ada risiko penularan, saya rasa adil juga bila ODHA memberitahukan statusnya pada pasangan seksnya. Lagipula, hanya pasangan seksnya yang akan mengetahui hal ini.”

Kamboja, Laos, dan Singapura adalah tiga negara di Asia Tenggara yang memiliki undang-undang yang dapat menjatuhkan hukuman penjara pada ODHA karena tidak memberitahukan status HIV pada pasangan seksnya. Kelalaian memberitahu soal status positif HIV juga terhitung tindak kriminal di beberapa negara Barat.

Sejauh ini, Indonesia tidak memiliki undang-undang spesifik yang mengkriminalisasi orang yang tidak mengungkapkan status HIV-nya. Meski demikian, negara ini sedang berupaya untuk melarang seks sesama jenis dan seks di luar nikah. Orang-orang (baik yang heteroseksual maupun homoseksual) yang berhubungan seks di luar nikah sudah menghadapi kekerasan dan diskriminasi di masa lalu.

“Kriminalisasi atas ODHA yang tidak mengungkapkan statusnya mungkin akan meningkatkan stigma seputar ODHA di negara ini,” ujar Jonta.

Yang membuat saya terkejut, meski saya dihadapkan dengan reaksi-reaksi yang “tidak menyenangkan,” saya juga menerima reaksi positif dari laki-laki di aplikasi kencan setelah saya memberitahu soal status saya.

Respon yang paling umum, tentu saja, adalah reaksi semacam “gak apa-apa deh kamu Poz tapi kita temenan aja yaa.” Tapi saya menemukan beberapa laki-laki yang kekeuh bahwa kita sebaiknya berhubungan seks atau bahkan pergi kencan.

Chandra, 31 tahun, bilang pada saya bahwa dia punya “teman” yang juga Poz. Dia bilang bahwa, meski dia terkejut saat kawannya itu pertama kali memberitahunya, dia menjadi jauh lebih melek soal isu ini dan tidak keberatan berhubungan seks dengan orang-orang Poz—selama menggunakan pengaman.

“Saya rasa sebagian besar orang di sini takut karena mereka gak tahu apa-apa soal ini,” ujarnya.

Ruli bilang dia tidak khawatir sama sekali soal status HIV saya.

“Ya kenapa enggak?” ujarnya saat saya bertanya apakah kita bisa jadi lebih dari sekadar teman.

Beberapa laki-laki berhenti chatting sama saya tapi beberapa lainnya menghargai kejujuran saya dan melanjutkan obrolan. Beberapa laki-laki menanyakan soal obat-obatan yang saya konsumsi dan apakah saya mengonsumsi obat-obatan tersebut secara rutin.

Beberapa laki-laki bahkan bertanya apakah saya top atau bottom, dan satu di antara mereka meminta foto penis saya. Ya, biasalah.

“Saya rasa ini pertanda masyarakat kita sudah menjadi lebih melek soal isu-isu HIV, dari infeksi, perawatan, atau kampanye. Kita harus mengapresiasi hal ini,” kata Jonta.


*Semua nama diubah untuk melindungi privasi.

Amahl S. Azwar adalah penulis yang sudah melela sebagai gay. Dia tinggal di Shanghai, Cina, bersama suaminya. Dia bekerja paruh waktu sebagai guru Bahasa Inggris sembari berharap bisa mengikuti jejak jadi penyanyi sekelas Anggun.

Tagged:
Tinder
HIV
gay
indonesia
AIDS
kesehatan
Diskriminasi
Kencan
LGBTQ di Indonesia