Quantcast
Indonesia 2038

Persembahan VICE: 'Pekan Fiksi Indonesia 2038'

Talenta berbakat kancah sastra Indonesia—dari Norman Erikson Pasaribu, Ziggy Zezsya, Sabda Armandio, hingga Andina Dwifatma—mempublikasikan cerpen bercorak sains fiksi lewat VICE untuk mengawali 2018, membayangkan potret bangsa di masa depan.

VICE Staff

VICE Staff

Selamat datang 2018. Selamat tinggal 2017 yang memberi banyak ingatan buruk bagi penduduk Indonesia.

Banyak hal terjadi di negeri maritim ini selama 12 bulan. Sebagian terhitung kabar buruk. Mulai dari konflik horizontal di dunia nyata maupun dunia maya (akibat isu politik DKI Jakarta), maraknya hoax, paranoia perang nuklir dari Semenanjung Korea, semakin sering terjadi pelanggaran privasi memakai kedok kampanye moral, persekusi bagi minoritas LGBTQ, ancaman blokir situs atau aplikasi makin sering dilontarkan pemerintah, dan banyak lagi lainnya.

Tentu tidak adil bila kita hanya fokus pada yang negatif saja. Cabang olahraga bulu tangkis memberi bangsa ini kebanggaan untuk kali kesekian. Dari ranah film, karya bermutu seperti remake Pengabdi Setan atau Marlina Sang Pembunuh Dalam Empat Babak meraih apresiasi tinggi dari penonton dalam negeri. Plus, setidaknya Setya "Papa" Novanto yang dikenal politikus licin akhirnya benar-benar diadili Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, membuka kemungkinan menuntaskan skandal korupsi E-KTP, sekaligus mengakhiri ancaman terhadap para pembuat meme di Internet.

Dalam kesempatan ini, redaksi VICE Indonesia hendak mengingatkan pembaca tentang kabar baik lainnya yang menyongsong kita di masa depan: bakat-bakat baru kancah fiksi lokal senantiasa bermunculan. Penulis seperti Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Norman Erikson Pasaribu, Andina Dwifatma, Sabda Armandio, Rio Johan, Ratri Ninditya, Mikael Johani, hingga Madina Malahayati adalah nama-nama yang sepatutnya terus kita perhatikan kiprahnya di masa mendatang.

Sebagian nama tadi sukses menggebrak berkat karya-karya prosa maupun puisi yang meraup penghargaan. Sementara sebagian lain menyodorkan kebaruan tema dalam karya, terutama karena para penulis muda ini berani menawarkan topik jarang dikulik seperti fiksi ilmiah, kisah cinta LGBTQ, ataupun psikologi kriminal.

Adanya kabar baik dari ranah fiksi itu kami angkat sebagai tema besar untuk menyongsong 2018. VICE meminta penulis-penulis muda potensial berbagi cerpen dengan benang merah prediksi masa depan bangsa ini dalam balutan gaya tutur sains fiksi yang kental.

Kita semua terlalu sering berkutat pada kaleidoskop atau prediksi yang berjangka pendek saja. Tak ada salahnya, berdasarkan rapat redaksi VICE, giliran kita meminta penulis fiksi urun pendapat soal masa depan. Daripada menyajikan resolusi awal tahun yang kering, sekalian saja toh kami menghadirkan spekulasi yang enak dibaca siapapun. Fiksi adalah solusi yang cukup masuk akal.

Alih-alih fokus pada apa saja peristiwa bakal terjadi sepanjang 2018, kami meminta penulis-penulis muda potensial negara ini menjelajahi kemungkinan perubahan yang dialami Indonesia pada 2038. Apakah ibu kota republik ini masih bertahan di Jakarta? Seperti apa wajah-wajah startup dari masa tersebut? Apakah manusia Indonesia lepas dari sentimen primordial dan agama yang selama ini merongrong demokrasi? Mungkinkah 'kematian alamiah' sudah berhasil ditaklukkan teknologi? Bisakah membuat meme di masa mendatang masuk kategori kejahatan?

Prediksi ataupun spekulasi tak bisa kita sejajarkan dengan akurasi. Keduanya adalah cermin yang berpijak pada kenyataan saat ini. Medium fiksi bisa menjadi bahan spekulasi terbaik, sebab prosa adalah format yang mampu mengolah kenyataan secara kreatif: baik secara gagasan maupun dari sisi bahasa.

Ilustrasi oleh (dari kiri atas searah jarum jam): Dini Lestari, Sarkodit, Nadira Julia, dan Haris


Dari naskah cerpen yang kami peroleh, ragam prediksi para penulis muda tadi sangatlah menarik. Macam-macam tema diangkat, mulai dari relevansi agama, sensor negara, otomatisasi di jalan raya, sampai ancaman kepunahan bahasa yang kita kenal selama ini. Terbukti, bila difasilitasi, penulis fiksi dapat menyorongkan karya yang mengajak pembacanya berefleksi dengan cara tak biasa—atau malah mengejutkan. Tiap cerpen nantinya bisa kalian baca lewat tagar 'Fiction Week Indonesia 2038'.

Seluruh cerpen tayang disertai ilustrasi memikat, hasil karya desainer maupun ilustrator muda berbakat. Nadira Julia, Sarkodit, Dini Lestari, hingga Dwiky KA bersedia menyumbangkan karya terbaik mereka meramaikan Pekan Fiksi VICE: Indonesia 2038.

Redaksi berharap pekan fiksi ini, serta kolaborasi dengan penulis maupun ilustrator muda berbakat Indonesia, dapat rutin digelar saban tahun. VICE ingin sekali terlibat lebih aktif dalam kancah sastra Indonesia yang terus bergairah walaupun berulang kali dihajar pesimisme, intrik antar pengarang, politik sastra yang ruwet, ataupun pertanyaan klise "quo vadis?"

Akhir kata, selamat membaca. Semoga sepilihan karya yang dihadirkan VICE bisa memberi kalian hiburan berkualitas mengawali 2018, syukur-syukur menyediakan bejana perenungan tentang masa depan kita—sebagai manusia maupun sebagai bangsa.