Daw Har Young, perempuan Chin dari Mindat. Foto oleh Amanda Saxton

Perempuan dengan Tato di Wajah dan Masalah Pariwisata Foto di Myanmar

Bagi perempuan Chin di Myanmar Barat, kecantikan dimulai dengan wajah bertato. Tetapi pemerintah telah melarang adat tersebut, dan para turis membanjiri Chin demi mendokumentasi tradisi yang sekarat ini.

|
10 Desember 2018, 3:50pm

Daw Har Young, perempuan Chin dari Mindat. Foto oleh Amanda Saxton

Kuiyaw Neinpai tidak tahu kapan dia lahir. Tapi semua orang setuju umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Dia tengah jongkok di berandanya di Mindat, kota kecil di pegunungan yang terletak di Provinsi Chin, Myanmar (yang sebelumnya dikenal sebagai Burma), memeluk lututnya sembari tersenyum. Tato pada wajahnya sudah luntur tapi masih terlihat jelas 85 tahun setelah ibunya mentato wajahnya. Sehabis proses sepanjang tiga jam itu selesai, ibunya membersihkan dada Neinpai yang berlumuran darah.

Jika kamu bertanya kepada perempuan-perempuan Mindat mengapa wajah mereka ditato, mereka hanya tersenyum dan memberi jawaban yang sama: “Kami tidak tahu, kami melakukannya karena itu tradisi kami.”

“Menurut legenda, penatoan wajah perempuan dimulai demi mencegah penculikan perempuan-perempuan Chin oleh raja Burma,” kata Frederic K Lehman, mantan profesor Universitas Illinois dan antropolog yang telah meneliti suku Chin. “Lalu tato dilakukan untuk alasan kecantikan.”

Shwekey Hoipang, seorang pendeta Chin, setuju dalam sebuah wawancara dengan Chinland Guardian (Sebagian besar suku Chin menganut perpaduan antara Kristen dan animisme sejak penjajahan Inggris pada akhir abad ke-19). Tetapi dia juga mempunyai cerita yang berbeda. “Menurut sebuah lagu yang dulu dinyanyikan ibuku… seorang perempuan tanpa tato yang meninggal… harus menghadapi hakim (" Monuoi" dalam dialek Chin) di pintu surga ( "Mopi"). Si Monuoi tidak akan mengizinkan mereka yang tidak bertato masuk ke surga… Tato wajah merupakan perlindungan spiritual bagi perempuan Chin.”

myanmars-tattooed-tribeswomen-body-image-1448022801

Foto oleh Amanda Saxton

Kini perempuan-perempuan Chin yang muda dan berpendidikan tidak lagi ditato. Neinpei adalah salah satu perempuan bertato yang tersisa. Penatoan dilarang pemerintah Burma pada 1960. “Pemerintah sosialis Burma yang ingin memodernisasikan negara menganggap tradisi tersebut kuno dan biadab,” ucap Ashley South, ahli Myanmar di Universitas Chiang Mai di Thailand. Meskipun penatoan terus berlanjut kendati larangan pemerintah, jumlahnya sudah menurun secara drastis. Kini praktek adat tersebut terus berkurang.

“Kebudayaan tato wajah suku Chin menarik turis, fotografer, dan antropolog internasional,” kata Hoipang. “Ada pengakuan bahwa kebudayaan tato tersebut akan punah suatu hari dan kesempatan untuk menelitinya sudah mulai menghilang.” Provinsi Chin dibuka untuk turis oleh pemerintah Myanmar pada 2011, dan wilayah lebih luas dibuka pada 2013. Perempuan seperti Neinpai semakin sering menjadi sasaran lensa kamera.

“Saya suka dengan para turis,” kata Daw Har Young, anak Neinpai berumur 50-an tahun. “Tapi saya bingung mengapa mereka ingin memotret kami,” ucapnya sembari memainkan rambutnya dan matahari bersinar pada wajahnya yang bertato. “Apakah karena kami cantik atau jelek? Saya takut foto itu nanti digunakan untuk mengejek kami.”

myanmars-tattooed-tribeswomen-body-image-1448022893

Lin Tee merokok pakai pipa. Foto oleh Nathan Thompson

Lin Tee berdiri di antara tanaman jagungnya di sebelah rumah kayunya sembari merokok pipa panjang. Kekhawatirannya sama dengan Young. “Saya pernah dipotret beberapa turis ketika saya sedang balik dari ladang. Saya kotor dan belum siap dipotret,” katanya. “Saya merasa malu.” Menurut kedua perempuan tersebut, memotret seseorang tanpa izin mereka sama sekali tidak sopan.

“Semua orang pasti ingin terlihat bagus dalam foto, jadi saya lebih memilih memakai kostum dan topi tradisional,” kata Tee. “Tapi saya membuang waktu setiap kali saya berhenti untuk dipotret, jadi saya harus minta bayaran.” Pendapat Young sangat berbeda. “Saya tidak mau uang,” katanya. “Tapi saya mau mereka mengirim saya fotonya.” Saya bercanda dengan Young bahwa temboknya nanti akan penuh foto. Dia tertawa. “Benar juga.”

myanmars-tattooed-tribeswomen-body-image-1448023048

Foto oleh Amanda Saxton

Dulu Tee mentato wajah-wajah perempuan muda, tetapi dia terpaksa berhenti setelah pihak lokal hendak mendendanya. Biasanya perempuan lebih tua atau saudara perempuan yang membuat tatonya. Biasanya tatonya dibuat di antara umur 14 dan 16. Para laki-laki tidak membuat tato, karena mewakili kecantikan feminin. “Tatonya indah,” ujar Tee. “Para perempuan tahu prosesnya akan menyakitkan, jadi saya tidak begitu mengasihani mereka saat saya mentato mereka.”

Pada zaman dulu, perempuan yang tidak bertato susah mendapatkan suami. Ada pun yang rela ditolak calon suami karena tidak ingin ditato. “Saya ingat ada beberapa teman saya yang menolak ditato,” kata Young. “Semua orang berpikir wajah mereka jelek dan tidak akan ada yang melamar mereka.”

myanmars-tattooed-tribeswomen-body-image-1448023223

Foto oleh Amanda Saxton

Suku-suku di daerah paling terpencil dilaporkan masih mentato perempuan-perempuan mereka, tetapi perempuan suku Chin kini menolak tradisi tersebut. Di desa-desa yang saya kunjungi, saya tidak melihat perempuan di bawah umur 40 yang wajahnya ditato. Tapi tradisi tersebut sempat bangkit pada saat pemberontakan pro-demokrasi pada 1988, ketika struktur pemerintah hancur.

Pemandu wisata menyuruh mereka berdiri di situ sembari 20 orang memotret mereka; itu yang saya tidak mau terjadi di sini.

“Akibat kejadian 1988, penato perempuan senior Chin mentato enam perempuan muda Chin, termasuk anaknya sendiri,” kata Hoipang. Penato ini ditangkap pihak pemerintah, lalu dibebaskan setelah dia berjanji untuk tidak membuat tato lagi.

myanmars-tattooed-tribeswomen-body-image-1448023350

Foto oleh Nathan Thompson

Pariwisata di Mindat dan daerah-daerah sekitarnya masih terbatas. Perjalanan menuju ke Chin membuat mual—12 jam melalui jalan pegunungan yang rusak dan menginap di losmen sederhana. Mencapai desa-desa terpencil memerlukan treking melalui hutan basah. Tapi kini jalan-jalan baru sedang dibangun. Semakin banyak turis datang setiap tahun, dan ada yang khawatir perempuan-perempuan Chin akan menjadi seperti obyek di pertunjukan sirkus.

Malam itu di sebuah warung, seorang pekerja yayasan letih meminum segelas bir. “Orang selalu bilang mereka ingin mengunjungi tempat ini sebelum ia ‘hancur,’” tuturnya. Jochen Meissner, laki-laki tinggi dan teguh asal Austria, duduk bersama kami. Dia berencana membawa moped 110cc melalui pegunungan menuju ke provinsi tetangga Rakhine—sesuatu yang rupanya belum pernah dilakukan siapapun. Pemandu kami, Naing Kee Shein, tidak menganjurkan perjalanan tersebut—“terlalu ekstrem,” katanya. Meissner tidak bermasalah. “Saya orangnya ekstrem, kok.”

Meissner sedang mendirikan perusahaan adventure tourism di daerah ini dan bertekad ingin menghormati para warga lokal. “Beberapa turis Swedia pernah mengunjungi Mrauk U [kota di provinsi Rakhine yang lebih mudah dicapai] dan melapor ke saya bahwa para perempuan Chin diseret dari rumah mereka,” kata Meissner. “Pemandu wisata menyuruh mereka berdiri di situ sembari 20 orang memotret mereka; itu yang saya tidak mau terjadi di sini.” Beberapa perempuan Chin percaya bahwa turis-turis ini kembali ke tempat asal mereka dan menjual foto-foto yang mereka ambil; ini dikabarkan seorang pendeta lokal dan telah menimbulkan rasa kebencian dalam komunitas tersebut.

myanmars-tattooed-tribeswomen-body-image-1448023540

Foto oleh Amanda Saxton

“Jika foto-fotonya hanya untuk kenangan, saya tidak bermasalah,” kata Young, menantu Neinpai yang juga bertato. “Tapi jika kamu membuat keuntungan dari foto-foto tersebut, menurutku kami harus dibayar.” Sebagian besar suku Chin bekerja sebagai petani—jelas tidak begitu kaya. Program Perkembangan PBB menemukan pada 2013 bahwa tingkat kemiskinan di provinsi Chin merupakan yang “tertinggi di seluruh negara,” tetapi juga bahwa angka tersebut sedang “menurun dengan cepat.”

Pada hari terakhir, saya membawa motor melalui rumah Neinpai. Dia masih di situ, berjongkok di berandanya, memeluk lututnya. Saya duduk di moped yang disetir sepupu pemandu wisata kami, yang seperti banyak orang muda di Chin, berbicara tanpa henti tentang injil Kristus. Saya menghadapi Neinpai dan berpamit dengannya. Neinpai pun tersenyum ompong kepada saya dan berpamitan juga dengan saya.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.