Kuliah Arsitektur Membuat Saya Mengidap Depresi Parah

Mau dengar cerita horor? Saya mahasiswa arsitektur tahun kedua. Saya didiagnosa menderita depresi klinis. Jangan lupa, arsitek terancam digaji kecil setelah lulus sementara kuliahnya luar biasa berat.

|
Nov 23 2016, 12:34siang

Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina

Selamat datang di artikel pertama seri Rock Bottom, ini adalah kolom VICE Indonesia untuk membahas isu-isu kesehatan mental. Setiap dua kali sebulan, Katyusha Methanisa akan menulis bermacam artikel mengenai gangguan mental dari sudut pandang personal. Tulisan pertamanya kali ini membahas mengenai perjuangan mengatasi depresi selama menjalani kuliah arsitektur.

Mau dengar cerita horor? Saya mahasiswa arsitektur tahun kedua. Saya didiagnosa menderita depresi klinis. Setiap kali depresi itu menyerang, saya tidak bisa menjadi seorang mahasiswa 'normal'. Hidup saya bak seseorang berkepribadian ganda, saling bertolak belakang bagaikan Hannah Montana dan Miley Cyrus. Ketika jadi 'Hannah', saya akan sangat sibuk menjadi arsitek di studio. Sedangkan setiap fase 'Miley' datang, saya bakal lama menangis di kamar. Akhir-akhir ini dua dunia saya yang berbeda itu berbenturan. Saya sering menangis sendirian di studio. Saya tidak lagi meminum obat antidepresan secara teratur, karena efeknya memicu kantuk. Padahal tugas dari kampus menggunung. Tanpa obat, saya semakin sulit berkonsentrasi menyelesaikan tugas kuliah.

Sumpah, saya sering hanya ingin berbaring dan tiduran di lantai. Kadang-kadang saya menyalahkan diri saya yang lelet menyelesaikan tugas. Semakin kurang istirahat, semakin buruk kesehatan mental saya. Beban mental bertambah melihat semua teman kampus yang normal juga begadang setiap kali ngebut menyelesaikan tugas. Saya pernah membaca sebuah laporan yang menyatakan mahasiswa arsitektur rata-rata kurang tidur.

Saya mengamini pernyataan tersebut. Ketika melakukan survei untuk penulisan artikel ini, rata-rata semua kawan yang kuliah di jurusan arsitektur mengeluhkan seringnya mereka terpaksa begadang. Linga, salah satu teman di kampus, mengatakan begadang membuatnya gampang marah dan kehilangan fokus seharian penuh. Beberapa mahasiswa memilih menginap di studio mengerjakan tugas, biarpun besoknya pasti ketiduran di kelas.

Kurang tidur sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa arsitektur lantaran tugas-tugas kampus tuntutannya tinggi. Teman sekelas saya, Risna, mengatakan kekurangan tidur menyebabkan mood-nya naik turun. Kondisi ini mempengaruhi hubungannya dengan pacar dan keluarga.

Tiga semester terakhir, jika sedang tidak begadang saya paling hanya bisa tidur dua jam sehari. Jadinya mirip tidur siang saja. Ya mirip waktu tidur anak TK, minus tidur malam. Sewaktu masih sering mendengar podcast horor untuk mengisi masa-masa kurang tidur, begadang terasa mudah. Begitu efek positifnya hilang, saya mulai ganti mendengar podcast metode pendidikan anak. Ibu-ibu yang bicara di podcast itu selalu berhasil meyakinkan saya, bahwa mendidik anak jauh lebih menyeramkan daripada mengidap depresi klinis.

Saya duduk di ranjang bersama teman sekampus bernama Kinar, selagi menulis artikel ini. Kami bernostalgia, membicarakan bagaimana separuh murid sekelas di studio berharap ditabrak mobil saja, agar besoknya tak usah memikirkan tugas. Kami semua tertawa biarpun kami sadar ide itu dipikirkan setengah serius. "Gue sampe sempet kepikiran bunuh diri," kata Kinar. "Gara-gara masuk arsitektur, gue sadar pentingnya kesehatan mental."

Mahasiswa arsitektur dituntut mengutamakan pekerjaan di atas segalanya. Selain harus memutar otak, kamu juga harus berkarya menggunakan tangan (kadang-kadang kaki jika tak ada teman yang bisa membantu memegang perkakas gambar). "Secara emosional berat banget harus selalu fokus biarpun pikiran elo sebenarnya kemana-mana," kata Risna, "Yang paling ngeri adalah mikirin gimana abis lulus paling digaji kecil juga."

"Kadang-kadang saat sedang bekerja di studio, saya dikelilingi material-material tajam. Keberadaan benda-benda itu kerap memicu saya memikirkan bermacam cara untuk mati."

Kakak lelaki Risna, lulusan jurusan arsitektur dari universitas kami, baru-baru ini keluar dari pekerjaannya karena digaji terlalu rendah. Kakak perempuannya yang merupakan lulusan sekolah arsitektur di Surabaya berpredikat cum laude mengalami masalah yang sama. "Intinya sekolah arsitektur lebih banyak ruginya buat gue," katanya sambil tertawa.

Diperkirakan 25 persen mahasiswa arsitektur di Inggris memiliki masalah kesehatan mental. Data ini membuat saya sedih sekaligus menenangkan. Saya tidak sendiri. Para penderita depresi kerap mengalami breakdown, namun kami tidak punya waktu sekadar menangis saking banyaknya tugas yang harus dikerjakan.

Kadang-kadang saat sedang bekerja di studio, saya dikelilingi material-material tajam. Keberadaan benda-benda itu kerap memicu saya memikirkan bermacam cara untuk mati. Enggak jadi ding. Pisau X-ACTO terlalu mahal buat bunuh diri. Hal paling menyebalkan dari sekolah arsitektur itu banyaknya uang yang mesti dihabiskan membeli material model atau display. Apalagi sesudah dinilai dosen, model itu pasti langsung dibuang. Tahun pertama berat sekali. Soalnya saya tak ada waktu nongkrong sama teman-teman lintas jurusan. Setiap ada waktu kosong, saya gunakan sebisanya buat tidur. Saya hanya bersosialisasi dengan teman-teman di studio.

Banyak teman merasa bersalah jika mereka terkesan punya waktu menjalani hobi. Buku-buku bacaan saya menumpuk di pojokan kamar tak tersentuh. Saya tidak pernah lagi pergi ke bioskop atau konser musik. Hidup saya dihabiskan di kampus. Dari pengalaman itulah—pengalaman anak arsitektur yang penuh penderitaan—sangat menyebalkan tiap kali mendengar komentar orang-orang yang tidak pernah merasakan perjuangan kami. Mereka kadang komentar, "wah gue juga kemaren gak sempet tidur tuh" atau "gue juga pernah kayak gitu dulu, tenang aja entar juga lewat." Rasanya tidak ada mahasiswa yang lebih sibuk dari anak jurusan arsitektur karena kami harus kerja nyaris 24 jam sehari.

"Buku-buku bacaan saya menumpuk di pojokan kamar tak tersentuh. Saya tidak pernah lagi pergi ke bioskop atau konser musik."

Anda boleh komentar kalau sudah pernah merasakan capek-capek tak tidur demi membuat model, lalu besoknya dosen dengan entengnya menyuruh anda mulai dari nol lagi. Satu hal lagi yang bikin frustrasi adalah sistem penilaian jurusan arsitektur. Standar kelas bergantung kepada nilai-nilai mahasiswanya. Kalau ada yang dapat nilai bagus, standar kelas otomatis naik. Dengan sistem semacam ini, tidak heran apabila anda cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Hal semacam ini merosotkan rasa percaya diri dan membuat anda meragukan kemampuan. Kalau sedang begitu, sudah pasti saya tidak akan bisa bikin karya yang bagus. Untungnya saya bertemu Maitri, seorang lulusan universitas lokal yang memang terkenal dengan jurusan arsitekturnya.

Dia kini menjabat sebagai arsitek yunior di sebuah perusahaan. Maitri bercerita banyak ke saya. Dia mengaku sering merasa tertekan karena ayahnya juga arsitek. Dia kerap dibanding-bandingkan dengan ayahnya. "Saya keras banget ke diri sendiri. Di beberapa semester awal, saya selalu waswas," katanya.

"Terus saya sadar setiap orang perkembangannya berbeda-beda," ujarnya. "Akhirnya saya berhenti ngejar nilai dan berkarya sesuai keinginan saya. Saya jadi merasa cocok belajar arsitektur dan yakin ini passion saya."

"Jurusan arsitektur kerap dipandang sebelah mata. Namun anda baru bisa mengerti esensi jurusan ini kalau sudah merasakan sendiri," imbuh Maitri. "Cuma jujur aja, kuliah itu lebih stres daripada kerja. Kalau kamu udah mulai kerja, kamu akan lebih santai karena engga harus membela karya terus-terusan."

Biarpun mendapat sedikit pencerahan mengenai masa depan karir di bidang arsitektur, perasaan saya tetap sama. Kadang saya suka dengan jurusan ini, kadang benci setengah mati. Biarpun kerap memperburuk kesehatan jasmani dan mental saya, sebetulnya belajar arsitektur tidak pernah membosankan. Setiap hari selalu ada tantangan baru, sekaligus mematikan, yang membuat saya bergairah. Saya belum yakin apakah arsitektur adalah bidang profesional yang saya ingin geluti selamanya. Satu yang pasti: jurusan ini membuat saya menjadi pelanggan layanan antar 24 jam McDonald. Setidaknya saya punya motivasi yang cukup untuk terus melanjutkan hidup.

More VICE
VICE Channels