Bedchamber Menuju Pendewasaan di Album Baru

Band independen dari Jakarta ini tengah menggarap album penuh berisi 10 lagu. Mereka ingin menjauh dari formula reverb melankolis yang bertebaran dalam debut EP.

|
Des 31 2016, 7:36pagi

Debut minialbum Bedchamber Perennial digarap susah payah selama liburan semester. Saat itu seluruh personelnya masih menempuh perkuliahan. Hasil kerja keras mereka menghasilkan EP yang bernuansa dreamy, menggabungkan pengaruh post-punk, pop 80-an, serta beach rock yang didominasi sound treble.  Kini, band dari Jakarta itu sedang berkutat di studio, dalam proses pengerjaan album penuh mereka yang perdana. Para personelnya berharap bisa menghasilkan rekaman yang terdengar lebih "dewasa".

Marcel Thee dari VICE Indonesia berbincang bersama vokalis/gitaris Ratta Bill, membicarakan tekanan yang mereka alami menjelang rilis LP perdana. Apalagi EP mereka sebelumnya berhasil meraih sambutan hangat dari pemerhati kancah musik independen lokal.

VICE: Bedchamber berhasil merebut perhatian pecinta musik lewat EP berisi lima lagu yang kalian rilis tiga tahun lalu. Saat itu status kalian masih mahasiswa. Sekarang, setelah tidak lagi kuliah, apa ada perbedaan?
Ratta Bill: Usia band ini memang baru tiga tahun, masih sangat muda untuk ukuran band sampai bisa menjadi matang. Tetapi, karena formasi personel masih sama sejak awal berdiri, ikatan antara kami semua sangat terjaga. Kami menjalani semua pengalaman menarik ini bersama-sama. Kami juga beruntung berhasil merilis dua album sejauh ini, sehingga sebagai band kami tertantang agar tidak stuck di gaya bermusik yang sama. Band ini kami bentuk untuk bersenang-senang, jadi kami semua ingin suasana tetap menyenangkan. Caranya ya dengan terus melakukan eksperimentasi terhadap musik kami. Engga akan fun kalau kami melakukan formula yang sama terus-menerus.

Bagaimana caramu menjelaskan genre Bedchamber pada orang yang baru pertama kali mendengar musik kalian?
Memang engga gampang sih ya. Kami sendiri selalu tidak yakin sebenarnya sedang memainkan musik dari genre apa. Jadi supaya orang ngerti, kami biasanya menyitir nama musisi yang populer sebagai petunjuk. MIsalnya nih, kita bilang musiknya kayak 'The Cure' atau ya biar gampang kami nyebutnya indie pop. Biasanya sih ada pertanyaan lanjutan, atau ya kami biarkan saja orang bertanya-tanya. Biarkan jenis musik yang dimainkan Bedchamber tetap menjadi misteri.

Apa rahasianya sehingga musik kalian bisa penuh reverb?
Engga ada rahasia sih rasanya. Kita pakai segala jenis efek reverb dan delay buat gitar dan vokalnya. Abi (gitaris Bedchamber-red) biasanya lebih prefer efek delay yang pendek-pendek gitu untuk mengisi ruang dengan sound reverb. Kuncinya sih barangkali pas mixing ya. Di situ kita biasanya ngakalin banyak hal supaya hasil akhirnya sesuai visi artistik yang kami mau. Kami mengusahakan sebelum masuk rekaman sudah punya lagu demo, jadi kami punya waktu apa yang bisa dibuang dan mana yang bisa dipertahankan. Kami engga terlalu khawatir apakah nanti feel lagunya bisa tetap sama ketika dimainkan live, karena versi album dan live itu dua dunia yang beda.

Kalian sedang menulis dan merekam lagu-lagu baru. Bisa diceritakan kali ini konsepnya seperti apa?
Betul, kami memang sedang mempersiapkan materi-materi baru, kami inginnya kali ini LP. Lagu-lagunya kami tulis dalam periode yang beda-beda, jadi karakter sound-nya juga terasa berbeda satu sama lain. Di luar itu, kami merasa sound-nya gimana ya... mungkin lebih dewasa kali ya?

Kalian banyak bereksperimen dalam proses pengerjaan album baru ini?
Kalau dari segi songwriting sebenarnya sama saja dengan album-album sebelumnya. Kami menyebutnya pseudo-jam. Jadi sekarang kami lebih merasakan kebutuhan untuk melampaui batas. Apalagi kami kan mengerjakan lebih dari 10 track untuk album baru. Kami tidak mau bosan, jadi untuk ngakalinya kami bereksperimen di sana-sini, mencoba semua kemungkinan, dan berusaha sebisa mungkin menjauh dari karya yang sudah kami hasilkan di album pertama. Beberapa teman yang sudah mendengarkan rekaman mentahnya bilang musik kami sekarang lebih 'dewasa'. Kami kurang paham juga sebenarnya dewasa itu seperti apa. Ya nanti kita lihat saja hasil akhirnya.

Formula penulisan lagu seperti apa yang coba kalian hindari?
Kami mencoba banyak hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Kami ingin spektrum setiap lagu lebih lebar. Jadi ada lagu-lagu yang nge-pop dan bisa buat sing-along.  Sementara sebagian lagu lainnya durasinya lebih lama dan banyak distorsinya. Kami juga meminta semua personel menyumbangkan suara untuk beberapa lagu. Atau, di beberapa lagu, kami menonjolkan sound dari instrumen selain gitar untuk jadi elemen utama lagu itu.

Judul-judul lagunya sudah ketemu?
Belum. Kami belum menamai album dan lagu-lagu di dalamnya. Track-track yang sudah direkam masih kami simpan di ponsel, dinamai asal aja supaya kami engga lupa. Misalnya 'CBGB' dan 'CABE'. Kalau didengar sekarang kesannya kayak main-main, tapi memang itu baru rekaman progresi chord.

More VICE
Vice Channels