Iklan
Sepakbola

Indonesia dan Serbia Perlu Belajar Cara Mengekang Kultur Kekerasan Suporter Sepakbola

VICE World of Sports merilis dokumenter yang meliput rivalitas terpanas di sepakbola Eropa—antara Red Star vs Partizan Belgrade. Kami ngobrol bareng pakar, mencari tahu bisakah kekerasan antar suporter diatasi.

oleh Brian Blickenstaff
04 Oktober 2018, 11:00am

Foto oleh EPA/KOCA SULEJMANOVIC 

Eternal Derby adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan persaingan sengit antara klub sepakbola Red Star dan Partizan—keduanya bermarkas di Ibu kota Belgrade—di Serbia. Jarak stadion kedua klub ini berdekatan. Setiap kali berlangsung pertandingan derby, ada satu hal yang didambakan suporter tim selain kemenangan. Mereka butuh kerusuhan. Pertandingannya sampai dihentikan karena keributannya sering berakhir fatal. Penggemar bola yang waras pasti tidak terbiasa melihat aksi premanisme seperti ini (sayangnya di Indonesia, kematian suporter dan rivalitas sengit yang cenderung tolol sudah dianggap normal).

Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa fanatisme brutal semacam ini masih saja terjadi. Pada dekade 1980-an, hooliganisme sepakbola menjadi masalah serius di sejumlah negara Eropa Barat. Sepakbola Inggris sempat terkenal dengan perilaku barbar ini, meskipun sekarang sudah jarang terjadi.

Sudah 29 tahun berlalu sejak tragedi Hillsborough. Inggris segera berbenah dan meningkatkan keamanan stadion, yang kemudian diikuti oleh stadion-stadion lainnya di Eropa. Lalu, kenapa masih saja ada stadion yang berbahaya dan suporter barbar?

Film dokumenter VICE membahas pertanyaan tersebut. Kerusuhan yang kami abadikan pada musim semi 2015 belum juga berakhir sampai sekarang. Terbukti, seorang pendukung Red Star terbunuh saat bertikai dengan suporter lawan pada April 2016.

Sembari menonton dokumenternya di tautan bawah, kamu bisa mempertimbangkan beberapa hal berikut:

1. Seberapa besar peran infrastruktur? Adakah hal lain yang bisa dilakukan supaya kedua belah suporter terpisah saat sudah masuk stadion?

2. Apa peran polisi dalam hal ini? Adakah yang bisa mereka lakukan untuk mencegah perilaku ekstrem yang ditampilkan dalam dokumenter? Kalau ada, kenapa mereka tidak melakukannya?

3. Apa kaitannya sejarah Serbia dengan tindakan kekerasan suporter?

4. Bagaimana faktor ekonomi memengaruhi budaya penggemar di Beograd (Belgrade)?

5. Adakah langkah praktis yang bisa diambil pihak berwenang untuk menghentikan kerusuhan? Apa yang perlu diselesaikan?

Menurut Ivan Loncarevic, jurnalis dan pakar sepak bola Serbia, salah satu masalah utamanya yaitu dugaan "hubungan yang kuat antara pendukung dan tim, serta partai politik dan polisinya." Kelompok suporter "seringkali lebih terorganisir, mampu secara finansial, dan jumlahnya lebih banyak dari satuan khusus kepolisian (gendarmerie)."

Meski begitu, Loncarevic yakin keamanan di sekitar maupun dalam stadion bisa ditingkatkan. Yang penting ada keinginan dari regulator (dalam kasus Indonesia adalah PSSI dan PT LIB) untuk mengubah keadaan. "Pastinya banyak yang bisa dipelajari [dari kasus Inggris]," katanya.

Dia bukan orang pertama yang berpikir demikian. Sebelum Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina, BBC meluncurkan film dokumenter yang sangat kritis berjudul 'Stadiums of Hate', isinya menyinggung aksi kekerasan penggemar dan rasisme dalam dunia sepakbola di Polandia dan Ukraina.

Penonton BBC sudah terbiasa menyaksikan adegan-adegan brutal yang ada di dokumenter tersebut, seperti cekcok di tribun atau nyanyian rasis. Sepanjang kurun 1980-an dan awal ‘90-an, pendukung sepakbola Inggris rutin terlibat kerusuhan. Saking parahnya, beberapa orang menyebut aksi hooliganisme sepakbola ini sebagai "English disease." Beruntung, "penyakit" ini sebagian besar sudah teratasi.

Setelah turnamen, pengacara Amerika Matthew R. Watson lebih mempertimbangkan contoh Inggris — bagaimana hal ini bisa mengubah keadaan di Polandia dan Ukraina. Pada 2013, dia menerbitkan jurnal yang berjudul “The Dark Heart of Eastern Europe: Applying the British Model to Football-Related Violence and Racism” dalam Emory International Law Review. Meskipun judulnya agak sensasional, kesimpulan Watson sebetulnya praktis. Dia menyarankan agar negara-negara "memberlakukan undang-undang yang membatasi dan melarang orang datang ke stadion kalau mereka pernah dihukum karena kejahatan terkait sepakbola" dan "menyebarkan ungkapan kebencian."

Melarang pembuat onar masuk stadion, bahkan sekedar nongkrong di luar juga tidak boleh, adalah gagasan dari otoritas keamanan Inggris. Setelah tragedi Hillsborough, Inggris meniadakan tribun berdiri dan memaksa semua orang berada di tribun duduk. Pemerintah juga mulai melarang pembuat onar masuk dari stadion pada 1999. Tindakan ini ampuh mengurangi kerusuhan.

Malcolm Tarbitt, Direktur Utama Safety and Security di International Centre for Sport Security (ICSS), menyarankan bahwa pengurangan tugas polisi, meskipun berlawanan dengan intuisi, mungkin bisa meningkatkan keamanan. "Memerangi hooliganisme seringkali meliputi kepolisian dan penegakan hukum saat pertandingan," katanya lewat email, "Namun, ICSS yakin kalau cara paling efektif untuk mengatasi kerusuhan di stadion yaitu dengan melibatkan komunitas dan penggemar." Dengan kata lain, adanya polisi huru-hara di stadion malah meningkatkan ketegangan di antara suporter.

Cukup unik karena baik Watson maupun Tarbitt tidak melihat situasi di Serbia: Perang Saudara Yugoslavia masih memengaruhi kehidupan di Serbia. Rupanya Loncarevic memberi saran serupa, seperti melarang pembuat onar, meningkatkan keefektifan polisi, dan mengajak klub dan pendukung untuk bekerja sama menyelesaikan masalahnya.

Meskipun penurunan aksi barbar suporter sebagian besar sejalan dengan peningkatan pendapatan pertandingan di Inggris, mereka yang berkuasa dalam sepakbola Serbia mungkin tidak menganggap komersialisasi sebagai solusi yang masuk akal—ada kemungkinan bahwa status quo yang tampaknya menakutkan sebenarnya menguntungkan mereka, dengan asumsi tindakan barbar suporter turut membantu tujuan politik.

Loncarevic yakin kalau banyak penggemar bola di Serbia percaya ini. Pada akhirnya, Loncarevic menyimpulkan bahwa administrator sepakbola di Serbia lah yang punya kekuasaan untuk melakukan perubahan. Mereka bisa menghukum kelompok tertentu atau membatalkan pertandingannya apabila kerusuhan terus berlanjut. Sayangnya, menurut Loncarevic, "tidak ada yang bersedia melakukan itu sekarang."

"Siapa saja berhak mendukung klub favoritnya tapi ada batasannya," kata Loncarevic. "Langkah awal yang bisa diambil yaitu melarang pembuat onar dan kriminal dari stadion. Masalahnya bisa diatasi asalkan semua pihak bersedia melakukannya."

Tagged:
Serbia
Derby
liga
Kriminalitas
Olah Raga
Kerusuhan
Liga Indonesia
Sepakbola Indonesia
eternal derby
Rivalitas Klub
korban
pertikaian suporter
kerusuhan suporter
pertandingan sepakbola
Kekerasan Suporter