Iklan
Serba-Serbi Kuliah

Saran Soal Kuliah dari Kakek 75 Tahun Yang Punya 30 Gelar Sarjana

Michael Nicholson kuliah terus selama 55 tahun terakhir. Pesannya untuk anak muda yang bersiap kuliah: Jangan mudah menyerah.

oleh Michael Nicholson; seperti diceritakan pada Emma Collins
26 Maret 2018, 9:59am

Photo courtesy of Michael Nicholson

Michael Nicholson adalah laki-laki berusia 75 tahun yang seneng banget kuliah. Sampai artikel ini dipublikasikan, dia memiliki satu gelar sarjana, dua gelar D3, tiga gelar master, dan satu gelar doktor. Dia berkuliah selama 55 tahun dan memiliki total 30 gelar kesarjaanaan. Ini adalah sarannya untuk anak muda yang mau kuliah di tahun ajaran 2019/2020


Saya bangun tidur pada pukul empat subuh, lalu saya berjalan kaki sepanjang tiga kilometer. Saya gak bilang semua orang harus bangun pukul empat pagi, tapi kamu harus punya semacam rutinitas. Kalau kamu ketiduran dan gak sempat masuk kelas pagi, pada akhirnya kamu akan keteteran dan repot sendiri.

Saat saya berada di sekolah seminari, kami wajib mengenakan kemeja dan dasi dan jas. Sekarang beda banget ya. Yang saya lihat di kelas-kelas perkuliahan hari gini… bikin malu sejujurnya. Semua orang tampak berantakan. Mereka gak tahu, ya, caranya berpakaian? Saat saya masuk ke kelas, saya mengenakan khakis, dan kaus berkerah. Saya gak akan pernah pakai T-shirt, atau jins. Dan saya gak akan pakai celana pendek, sandal, seperti yang dikenakan para mahasiswi. Lima puluh atau enam puluh tahun yang lalu, mahasiswi mengenakan sepatu dan kaus kaki, rok dan terusan. Mereka juga menata rambut mereka.

Hari-hari gini, mahasiswa sering makan di kelas, selama kuliah berlangsung. Mereka masuk kelas membawa bekal, botol air minum, lengkap deh. Meja mereka penuh juga karena laptop. Mereka tampaknya bersenang-senang. Saya biasanya duduk di baris terakhir, dan saya bisa melihat apa yang mereka lakukan dengan laptop mereka. Saya paham kenapa dosen-dosen frustrasi. Mereka mengajar dan menyampaikan materi, tapi murid-murid mereka menatap laptop mereka dan fokus ke hal lain. Dulu di zaman saya, sih, kami gak berani macam-macam. Sekarang, apa juga boleh.

Saya sekolah selama 55 tahun berturut-turut. Saya senang dan ini merupakan sebuah pencapaian. Saya sangat terbiasa dengan lingkungan sekolah dan kampus, dan ingin lanjut selama yang saya mampu. Semakin banyak yang saya pelajari, semakin banyak yang ingin saya ketahui. Saya kepengin banget balik ke kelas, ya mulai minggu ini. Tapi beberapa tahun lalu saya sering ditolak. Seperti yang disampaikan seorang doktor, “Kamu tuh udah tua.” Day saya mencoba menyesuaikan diri.

Saya tidak yakin mau ngapain dalam hidup saat saya kuliah pertama kali, tapi saya punya gambaran umum soal apa yang saya perlu ketahui. Saya kuliah di Detroit Bible College, dan setiap tahun, kepala kampus akan memberikan pesan kepada murid-murid yang dijuduli “Don’t quit too soon.” Dia mencoba membantu kami bertahan sampai lulus. Itu adalah pesan saya kepada anak muda: Jangan cepat menyerah.

Kamu bisa mengambil jurusan dan mata kuliah apa pun yang kamu mau. Yang pasti, kamu memang menyukainya. Kalau kamu membencinya, kamu akan kesulitan mengikuti proses pembelajaran dan dapat menghambat kelulusan. Kita kuliah karena butuh gelar. Setelah lulus kuliah, kamu bisa menentukan mau lanjut kuliah lagi, atau kerja yang tidak sesuai dengan apa yang kamu pelajari saat kuliah. Seperti istri saya misalnya. Dulu dia mengambil jurusan keguruan, tapi akhirnya dia bekerja di bidang pemrosesan data selama 37 tahun ini.

Saya pertama kali bertemu dengan istri waktu sedang kuliah di Bible College. Setelah itu, saya pindah ke Dallas untuk mengikuti kelas seminari selama tiga tahun. Kami berhubungan jarak jauh lewat surat dan teleponan. Kami menikah di antara tahun ketiga dan keempat.

Michael Nicholson dan istrinya Sharon. Foto dari arsip pribadi Michael Nicholson

Saya sangat menyukai pengalaman sekolah di seminari. Di sana saya belajar sebagai mahasiswa sesungguhnya. Saya jauh dari rumah dan sendirian di sana. Saya harus mempertahankan performa belajar. Karena itu saya tidak bisa menunda-nunda tugas. Kalau ada esai yang harus dikerjakan untuk ujian semester, saya akan memulai beberapa minggu sebelumnya.

Sebenarnya ya, saya tidak terlalu akrab dengan teman sekamar saat kuliah di sana. Dia sangat ekspresif dan emosional, sedangkan saya orangnya sangat pendiam. Memang sih dia sangat banyak bicara, tapi banyak hal-hal bagus yang dia jelaskan kepadaku. Dia dua tingkat di atas saya, jadi dia memberikan buku-buku pelajaran dan tugas-tugasnya kepadaku. Saya sarankan jangan cari masalah dengan teman sekamar meskipun kamu tidak menyukai mereka, karena siapa tahu ada yang bisa kamu dapatkan darinya.

Tidak ada salahnya untuk tetap tenang dan menjaga omongan kita. Kebanyakan orang suka ngomong. Entah kenapa, orang akan memerhatikan ucapan kita kalau kita mendengarkan omongannya. Saya akan bertanya kepada mereka, tetapi tidak akan bersikap menggurui. Mereka juga cenderung jauh lebih tahu daripadaku.

Kamu juga bisa belajar langsung dari mahasiswa lain saat sedang di kelas; kamu bisa mencatat bagaimana pendapat atau pemahaman mereka akan suatu hal. Kamu bisa cari tahu asal mereka, latar belakangnya, atau apa yang mereka bawa ke kelas. Selain itu, dosen bisa menceritakan pengalamannya saat sedang mengajar. Mereka tidak perlu terus-terusan mengajari materi kuliah saja.

Selain demi memperoleh pekerjaan, kita kuliah untuk memperluas wawasan dan pandangan terhadap dunia. Seperti apa tujuan hidup kita? Apa keterkaitan setiap manusia di dunia ini? Pertanyaan-pertanyaan mendasar macam itulah.

Kamu juga harus mendengarkan apa kata profesormu. Namanya juga dia yang punya kelas. Tak baik kalau kamu kelihatan nantangin beliau. Tapi, kalau kamu merasa kamu benar, ya ajak dia ngobrol. Demi bisa lulus dan mendapatkan gelar di bidang hukum kriminal—gelar ke-30 saya—saya harus menulis makalah tugas akhir sepanjang 75 halaman. Lantaran latar belakang saya sebagai seorang penganut agama kristen, saya memilih topik pelayanan gereja di penjara. Saya lantas dapat informasi tentang seorang narapidana yang kembali ke ajaran Kristen saat mendekam dalam penjara. Pria ini, saya yakin, adalah orang yang melepaskan tembakan fatal dalam kasus pembunuhan Presiden Kennedy dari sebuah bukit kecil. Saya sudah menjenguk pria ini dua kali dalam beberapa tahun. Kami sudah berkirim surat 27 kali.

Selama masa penyusunan tugas akhir, saya beberapa kali bimbingan dengan profesor pembimbing saya. Kami berdebat tentang penembakan Kennedy dan saya selalu bilang, “kalau dari sudut pandang saya, kejadiannya seperti ini.” Ini cara yang lebih diplomatis menurut saya. Kalau kamu ngomong, “Prof salah deh, Prof enggak paham apa yang kita bicarakan,” itu sama saja dengan cari maslaah. Makanya, biar lancar, bilang saja, “Sudut pandang saya seperti ini dan ini buktinya.” Nah itu dia, saya selalu punya bukti untuk ditunjukkan padanya—jadi kamu bisa selalu bertukar pikiran dengan Profesor pembimbingmy.

Saya berhasil menyelesaikan makalah tersebut dengan sebauh presentasi sudut pandang saya tentang insiden pembunuhan Kennedy dan pertobatan pelakunya di penjara. Beruntung, profesor saya mau menandatanganinya. Dia adalah satu dari lima orang bergelar PhD, termasuk satu pengacara, yang menandatangani makalah saya, kendati kami semua bersebrangan pendapat. Ini bisa terjadi karena saya mengajukan argumen kuat yang susah dibantah. Jadi, kira-kira begitulah cara saya menghadapi dosen-dosen saya.

Meski bergelimang gelar, saya tak punya hutang sepeserpun. Saya mulai jadi loper surat kabar Detroit pada umur 11 tahun dan saya mengantarkan koran dengan rute yang sama selama 11, sampai saya lulus kuliah. Beginilah cara saya menghidupi diri selama empat tahun pertama kuliah: dengan jadi loper koran, setiap hari selama seminggu. Iya sih, biaya kuliah waktu itu masih murah. Cuma yang jelas, saya tak pernah bermasalah dengan biaya kuliah. Saya pernah mengajar sembari mengejar gelar—saya pernah jadi penulis surat tilang di satu universitas selama 11 tahun. Intinya, selama saya kuliah, saya selalu bekerja.

Saya sadar, setelah empat tahun kuliah, seorang mahasiswa bakal terjerat hutang sebesar $30.000 [Sekitar Rp412 juta]. Pertanyaannya? Setimpal enggak sih? Saya enggak tahu. Saya pribadi takut dengan namanya hutang. Saya paling anti berutang pada siapapun. Begitu kamu berutang pada seseorang, kamu bakal berada di bawah pengaruh orang itu. Tapi, saya enggak tahu opsi apa yang tersedia bagi kalian karena kalian enggak bisa dapat pekerjaan seperti dulu lagi.

Maksudnya begini, dulu saya pernah kerja di pabrik dalam beberapa kali liburan musim panas. Kalian mungkin akan susah dapat kerja kayak begini. Bayangkan saya pernah dapat pekerjaan di pabrik otomatif Chrysler hanya dengan langsung datang ke pabriknya. Cuma, itu kan dulu, pas masih era 60'an. Sekarang, kalau kamu pengin bekerja seperti itu, kamu harus ke Cina atau tempat lainnya dulu. Intinya, sekarang cari kerja lebih susah. Makanya saya ngerti kenapa anak muda juga enggak terlalu semangat lulus cepat. Daripada langsung kerja, semua berebut cari beasiswa S2 dan seterusnya. Intinya sih tetap, jangan mudah menyerah ya!

Cerita ini dituturkan Michael kepada Emma Collins. Follow Emma di Twitter.