The Business of Babies

Tren Membayar Puluhan Juta Agar Bayi Bisa Bahasa Asing, nge-Gym, dan Pakai Sempoa

Daycare elit kian menjamur di berbagai kota besar Indonesia satu windu belakangan. Namun apakah bayi betulan akan 'pintar' seperti iming-imingnya? Psikolog anak sih tak terlalu optimis.

oleh Sattwika Duhita
13 Maret 2018, 7:11am

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman.

"The Business of Babies" adalah seri liputan yang digarap VICE menelisik fenomena di Indonesia, tentang cara orang-orang memanfaatkan isu reproduksi menjadi bisnis bernilai miliaran Rupiah. Dalam artikel kali ini, kami mengangkat jasa penitipan bayi yang bertarif jutaan. Kurikulum daycare elit itu bikin geleng-geleng, karena ada fasilitas gym, spa, bahasa asing, sampai sempoa. Kami mendalami, benarkah semua layanan tersebut bermanfaat bagi bayi? Dalam seri artikel lainnya, VICE menyoroti bisnis bintang iklan bayi, jasa antar jemput ASI, hingga kemampuan korporasi besar meyakinkan para ibu kalau susu formula lebih baik dari ASI.


Bocah laki-laki yang belum genap dua tahun melompat-lompat, walaupun kakinya masih belum betul kuat menapak. Seorang pengasuh pun memegang kedua tangan anak itu. Lantunan lagu Gummy Bear nyaring terdengar, mengiringi tiap usaha anak itu melompat sesuai irama.

“Come on, jump! Jump! Jump!” seru seorang pengasuh yang lain. “Good, jump! Jump!” lanjutnya tiap kali si anak berhasil melompat. Setiap instruksi dan pujian diberikan dalam Bahasa Inggris, sedang si anak masih berumur tak lebih dari setahun. Tentu sulit mengetahui apakah si bayi sudah paham tiap kata yang diucapkan pengasuhnya.

Di kebun depan kelas, bocah laki-laki berseragam biru. Usianya belum genap empat tahun. tengah menyiram tanaman. Satu-satu pot tanaman disinggahi, tanah dan daunnya disirami. Selagi kawan-kawan lain asyik menyanyi, anak ini tampak nyaman dan tenang berada di kebun. Seorang guru mengawasi di sisinya, sambil satu persatu menjelaskan nama tanaman yang sedang disirami.

Di ruangan lain, dua anak perempuan yang saya tengarai umurnya lebih muda dari kawan lainnya, asyik mengisi dua ember kecil dengan pasir pantai kecokelatan. Bermodal sekop dan sendok, keduanya mengisi ember pasir untuk lalu dituang kembali ke wadah penampung. Begitulah sekilas kegiatan di Little Owl Daycare , satu dari ratusan penitipian anak (daycare) elit yang sedang menjamur di kota-kota besar Indonesia. Pasar bisnis penitipian anak plus terus membesar. Pakar psikologi anak Tika Bisono menyebut daycare saat ini sebagai salah satu kebutuhan kelas menengah ke atas. Profil orang tua yang memasukkan anaknya ke daycare rata-rata mirip. Keduanya bekerja, tak punya opsi menitipkan bayi ke keluarga, serta ingin anaknya sejak bayi sudah mendapat pendidikan memadai. Jika mengacu data terbaru pemerintah, ada 43,1 juta pekerja perempuan. Sebanyak 25 juta di antaranya dari usia produktif. Merekalah target pasar daycare-daycare dengan tarif mahal tersebut.

“Sekarang banyak pembantu rumah tangga yang berperan sebagai nanny, tapi standarnya masih belum cukup dan berbeda-beda. Sementara, peristiwa penganiayaan anak juga banyak. Maka, kebutuhan daycare semakin tinggi,” kata Tikat saat dihubungi VICE. Namun, karena mengiming-imingi orang tua lewat fasilitas, kurikulum, dan tenaga pengajar mumpuni, daycare akhirnya bukan untuk semua lapisan masyarakat. “Sayangnya bukan untuk kelas menengah ke bawah.”

Daycare, apalagi yang ditanggap elit, bakal memaksa orang tua merogoh koceknya dalam-dalam bila ingin menitipkan buah hatinya di sana. Program daycare mematok harga lebih tinggi dari uang SPP bulanan sekolah dasar, rata-rata di kisaran Rp4-8 juta per bulan. Itu bukan angka yang terjangkau untuk negara seperti Indonesia dengan upah rata-rata nasional di kisaran Rp2 juta per bulan. Tingginya ongkos daycare ditopang jaminan infrastruktur bermain berkualitas, pengasuh tersertifikasi, dan pola pengasuhan yang dijanjikan aman. Beberapa rumah main, sebutan lain daycare, bahkan berani mematok biaya masuk Rp30 juta untuk setahun. Selain fasilitas dan pengajar, pengelola daycare di Jakarta berani mematok tarif mahal bila lokasi tempat penitipan anak mereka ada di kawasan strategis, misalnya dekat mal. Jadi sebagian orang bisa langsung mengajak buah hatinya jalan-jalan ke mal sepulang kerja.

“Di indonesia sebenenarnya permintaan jasa penitipan anak tinggi, tapi karena kepentingan bisnis ada kebutuhan untung, jadi mahal. Pengasuhnya sendiri memang dilatih dan tersertifikasi, infrastrukturnya juga bukan barang murah,” kata Tika.

Pola bisnis penitipan bayi sudah beralih dari pantauan Tika. Satu dekade lalu orang tua tajir masih mempercayakan bayi di bawah tiga tahun kepada nanny (pengasuh). Kini kelas menengah atas di kota-kota besar lebih melirik program daycare yang menawarkan serba-serbi promosi dan janji ‘tumbuh kembang anak yang lebih baik’.

Ada berbagai pertimbangan yang melatari niat orang tua menitipkan buah hatinya ke daycare. Selain tuntutan pekerjaan, ada juga tren kurang percaya dengan jasa babysitter rumahan. Tapi, menurut Tika, janji kualitas pengasuhan yang jauh lebih baik dari pola tradisional membuat banyak orang tua kelas menengah tertarik. Mereka secara sadar berharap dengan masuk daycare mewah, kemampuan intelektual anak lebih pesat nantinya. Tak hanya itu, iming-iming pendidikan berbasis kurikulum internasional menjadi daya tarik tersendiri bagi para orang tua.

Misalnya, sebut saja kurikulum Montessori yang mengedepankan kemandirian anak memilih sendiri konsep yang ingin ia pelajari melalui alat permainan edukatif, sehingga anak punya ruang untuk belajar melalui kesalahan (trial and error) yang ia temui dari pilihannya sendiri dan belajar mengoreksi diri. Selanjutnya muncul program Glenn Doman yang tengah meroket reputasinya, bertujuan menstimulasi otak anak dengan ajaran membaca, matematika, pengetahuan umum, dan aktivitas bermain sambil belajar.

VICE menghubungi beberapa tempat penitipan anak yang konon memiliki fasilitas mutakhir untuk tumbuh kembang anak di seputaran Jakarta, yakni Jayakarta Montessori, Gymnademics dan Little Owl Daycare.

Jayakarta adalah salah satu daycare paling elit di kawasan Kemang Selatan. Daycare dan preschool ini memberi materi pendidikan buat bayi sejak 1981, mulanya lebih banyak menampung batita ekspatriat. Gedung milik Jayakarta Montessori terlihat mewah. Seluruh desain arsitektur dan fasilitas dihadirkan sesuai dengan filosofi kurikulum Montessori. Bahkan, perlengkapan pendukung kegiatan belajar-mengajar secara eksklusif diimpor dari Belanda. Iya, harus banget dari Belanda.

Dibanding dua daycare lain yang kami hubungi, selisih biaya masuk Jayakarta jauh lebih tinggi. Ongkos belajar per tahun yang dipatok sekolah ini mencapai US$10 ribu (setara Rp137 juta). Itu belum termasuk uang pendaftaran US$300. Jelas angka yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari SD atau SMP elit Jabodetabek sekalipun.

Gymnademics Indonesia, berlokasi di Gading Serpong dan Bintaro, menjadi salah satu lembaga yang menjanjikan tumbuh kembang anak lebih baik dengan berjargon children growth and development center. Berbasis program Glenn Doman, Gymnademics menggunakan flashcard untuk program kognitif, mencakup pengenalan kata, musik, seni, hingga keragaman budaya Indonesia bagi bayi.

Sementara untuk program fisik, Gymnademics menyediakan program baby gym bertujuan mendorong motorik kasar dan halus bayi yang mencakup merangkak dan berjalan, serta latihan otot kecil, seperti mengambil benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk. Tak hanya itu, panca indra anak dan bayi dilatih melalui kegiatan seperti makan yang mengenalkan anak pada berbagai makanan. Para bayi dibiarkan melihat, memegang, mencium hingga merasakan apa yang disajikan.

Sudah sebulan terakhir Niken Rury membawa anaknya Arzy yang baru berusia satu tahun lebih sedikit ke Gymnademics Gading Serpong, menjajal pendidikan ala Glenn Doman Baby. Niken mengaku puas karena kegiatan Gymnademics menyenangkan sang buah hati.

“Kakak-kakak [pengasuhnya] murah senyum dan selalu menyanyi. Untuk intelektual, dilakukan pengenalan kata di papan dan setiap hari materinya berbeda. Bisa tentang olahraga, musik, atau kebudayaan Indonesia,” ungkapnya kepada VICE Sebagai bukti, Niken menunjukkan video Arzy yang sedang menggelayut di tangga kayu dengan pengawasan seorang guru.

“Seru pokoknya,” katanya. Untuk keseruan buah hatinya tersebut, Niken dibebani tarif Rp500 ribu buat lima kali pertemuan awal. Angka yang sekilas terjangkau, tetapi Niken mengakui biaya tersebut baru ongkos kelas percobaan. Jika akhirnya mengikuti program rutin, peserta dikenakan hingga Rp13 juta hanya untuk uang pangkal, ditambah Rp2,5 juta biaya bulanan.

Ketika Gymnademics mengunggulkan program Glenn Doman, sebaliknya Little Owl Daycare hadir menawarkan konsep berbeda. Dengan cabang daycare di Cideng, Jakarta Pusat, Little Owl menggunakan kurikulum Montessori sebagai basis kegiatan. Program disediakan untuk bayi usia 3-11 bulan dan anak usia 1-7 tahun. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Inggris supaya anak menjadi berwawasan internasional. Beda kelompok umur pun memiliki program yang berlainan. Untuk bayi, program dikemas dalam bentuk baby gym dan baby spa.

FYI, baby spa adalah perawatan yang dirancang memberi stimulus positif bagi bayi berusia 3 minggu hingga 3 tahun. Umumnya, baby spa dibagi dalam dua sesi. Awalnya bayi berendam di dalam kolam khusus mengenakan pelampung. Sesi ini umumnya berjalan 15 menit, tetapi dapat diperpanjang hingga 30 menit jika bayi merespons dengan baik. Di sesi kedua bayi akan dipijat terapis selama kira-kira 15 menit.

Tak cukup dengan program baby spa-nya, Little Owl menyimpan program lain yang membuatnya berbeda dengan daycare lainnya. Kala daycare menjamin keamanan melalui pengasuh tersetifikasi, tangkas dan andal, Little Owl berani maju selangkah: akses CCTV online langsung ke ponsel orang tua.

“Jadi untuk yang sudah program bulanan kami sediakan akses CCTV secara online dari handphone. Jadi mom bisa pantau anak lewat streaming CCTV,” kata Erwina, staf Little Owl Daycare, saat dihubungi VICE.

Tentu saja, tidak semua orang tua bisa nikmati fasilitas akses CCTV lewat ponsel ini. Sebab, hanya mereka yang mengambil program bulanan saja berhak mendapatkan aksesnya. Tak perlu kaget bila biaya yang harus dibayar hanya untuk fasilitas CCTV online adalah Rp3,8 juta per bulan, ditambah biaya pendaftaran Rp4 juta. Gusti nu agung. Little Owl Daycare hadirkan program belajar Bahasa Mandarin, sempoa dan alat musik untuk bayi. Jujur, nih, saya cukup syok mendengar dan membayangkan bayi belum genap dua tahun diajari berhitung pakai sempoa.

Erwina mengatakan, kelas sempoa menjadi salah satu program yang diunggulkan Little Owl Daycare. Namun, kelas ini membutuhkan biaya tambahan di luar uang pendaftaran dan bulanan.

“Wah, saya lupa berapa biayanya,” kata Erwina saat ditanya besaran biaya kelas sempoa. Sementara, kelas Bahasa Mandarin sudah masuk dalam program reguler tanpa ongkos tambahan dibebankan ke orang tua.

Psikolog anak Mira Amir menjelaskan program bahasa asing sampai sempoa bisa jadi baik bagi tumbuh kembang anak, asal tidak dipaksakan. Menurutnya, anak berkembang lebih baik saat mereka boleh memilih permainannya sendiri.

“Kalau bahasa psikolognya 'diperkenalkan' gitu ya tidak apa, karena anak bisa punya preferensi berbeda-beda gitu kan. Ada anak yang memang mungkin tertarik, ada yang anak yang mungkin carinya bola lagi, mobil-mobilan lagi, rumah-rumahan lagi. Tapi kalau jadi kurikulum sendiri ya saya tidak bilang 100 persen anak kita akan seperti yang diharapkan,” ungkap Mira.

Sedangkan menurut Tika, buat anak umur tiga bulan sampai balita, kegiatan outdoor adalah komponen aktivitas terpenting yang mendukung tumbuh kembang anak. Permainan luar ruangan, seperti bermain bola, bermain pasir pantai, atau kolam air akan meningkatkan kemampuan interaksi anak secara sosial. Tak hanya itu, kegiatan outdoor turut mengasah panca indra anak secara alamiah. Tika menyayangkan bila kegiatan daycare yang lebih banyak dalam ruangan ketimbang mengajak bayi ke luar ruangan.

“Harusnya kegiatan outdoor itu lebih banyak. Engggak tahu kenapa kegiatan outdoor-nya lebih sedikit. Entah karena ruangnya nggak ada. Harusnya lebih banyak outdoor, terutama pagi hari," kata Tika. "Permainan luar, semisal kolam pasir, kolam batu-batu kecil, kolam air, tempat untuk tanam-tanam untuk berkebun itu masuk akal karena mereka berinteraksi, jadi lebih sehat dan kemampuan motorik berkembang."

Bukan berarti kegiatan indoor sebaiknya ditiadakan. Bagi psikolog, akan lebih baik jika ada pembagian jadwal yang seimbang bagi dua jenis kegiatan tersebut. Tika berpendapat, kegiatan outdoor dapat dilakukan di pagi hari saat matahari masih belum terik bersinar. Lalu, kegiatan akan dilanjutkan secara indoor saat hari menjelang siang. Baginya, anak-anak harus berinteraksi dengan alam untuk menajamkan nalurinya.

Lalu, buat psikolog seperti Tika, sepenting apakah apa tren program flashcard untuk bayi, kelas sempoa, hingga pengenalan bahasa asing ketika anak bahkan belum bisa berbicara?

“Enggak penting,” kata Tika Bisono. Waduh. “Pokoknya harus banyak main, bukan cuma yang kognitif!”