Iklan
feminisme

Kisah Mahasiswi Muslim di India Melawan Jam Malam, Simbol Debat Islam dan Feminisme

Setiap kelompok mahasiswa punya pandangan berbeda tentang feminisme, karenanya mereka terpecah. Konflik gagasan di Aligarh Muslim University ini menggambarkan realitas menjadi muslim modern di negeri yang konservatif.

oleh Zeyad Masroor Khan
23 April 2018, 2:33pm

Students participate in a protest for gender rights on the campus of Aligarh Muslim University. Image: Qafila

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India

Lingkungan Aligarh Muslim University masih sangat tertutup dan konservatif. Bagi orang luar, AMU sekilas tampak seperti lembaga pendidikan tinggi biasa di India. Namun, bagi para mahasiswa, kampus ini adalah simbol dua kebudayaan (tehzeeb) yang berbeda. Kampus tersebut sekaligus simbol kebudayaan Islam terakhir di India, yang membuat aktivitas di dalamnya sering menjadi pusat kontroversi.

AMU merupakan universitas Islam penuh bangunan tua yang dikelilingi oleh pohon eukaliptus. Banyak mahasiswa laki-laki keliling kampus mengendarai sepeda atau motornya, sementara mahasiswi perempuan yang menaiki becak atau skuter merupakan pemandangan sehari-hari di sana. Poster-poster pemilu mahasiswa sebelumnya masih tertempel di dinding-dinding kampus.

Kampus yang didirikan pada 1875 dan oleh pelopor Aligarh Movement merupakan peninggalan Islam di abad ke-19. Tak heran jika AMU sering mengadakan acara debat bagi mahasiswanya. Belakangan ini, isu feminisme semakin ramai dikumandangkan di kampus. Pada November 2014, AMU menjadi berita utama lokal setelah Mantan Wakil Rektor Zameeruddin Shah melayangkan pernyataan yang sarat seksisme. Karenanya, para mahasiswa mengadakan aksi protes dan menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia India menuntut pembenaran dari pihak kampus.

Para mahasiswa mengikut demonstrasi menuntut kesetaraan gender di kampus Aligarh Muslim University. Foto oleh: Qafila

Feminisme menjadi topik utama percakapan saat para mahasiswa sedang berkumpul bersama di kantin (dhabas) dekat kampus. Dhabas biasanya menjadi tempat tongkrongan bagi mahasiswa laki-laki di sore hari (mahasiswi jarang mendatangi kantin). Mereka mulai membahas kesetaraan gender yang tadinya hanya bisa didiskusikan bersama teman di asrama, panel diskusi atau diangkat menjadi karya ilmiah.

Banyak perubahan yang terjadi dalam empat tahun terakhir. Isu feminisme mulai dibahas di media sosial dan mahasiswi semakin sering mengangkat isu gender yang terjadi di lingkungan kampus, di mana mereka harus berhadapan dengan wakil rektor yang menghakimi dan penjaga asrama yang melarang mereka keluar di malam hari.

Dua Wajah Feminisme

“Saya pakai hijab bukan karena diwajibkan agama, menjaga kesopanan atau identitas budaya. Saya memakainya karena sudah terbiasa,” kata Fizza Husain, seorang peneliti di jurusan ekonomi. Ketika kami mewawancarainya tahun lalu, dia baru saja berdebat dengan petugas kampus untuk mengizinkan mahasiswi keluar asrama setelah 17:30, jam malam saat musim dingin. Sedangkan jam malam pada musim panas adalah 18:30.

Husain, 28, merupakan salah satu pendiri Qafila, perkumpulan mahasiswi yang (menurut blognya) memiliki misi “mengangkat pembahasan soal keadilan dan kesetaraan gender dalam sudut pandang feminisme interseksional.” Komunitas yang anggotanya berkisar 70 mahasiswi ini membincangkan feminisme meskipun universitas tempatnya berkuliah tidak mengindahkan keadilan gender.

Fizza Husain, anggota Organisasi Qafila di Aligarh Muslim University. Sumber foto: Facebook

“Salah seorang wakil rektor memberi tahu kami apabila ada mahasiswi yang diperkosa setelah jam malam, maka petugas kampus akan angkat tangan.” Menurutnya, mantan Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa membandingkan perempuan dengan berlian yang harus dijaga baik-baik—“ meri behna mera gehna." Terinspirasi tulisan Mary Wollstonecraft, Kimberle Crenshaw, Gloria Steinem dan aktivis perempuan India seperti Kamla Bhasin dan Nivedita Menon, Husain merasa jam malam sangat membatasi kebebasan mahasiswi.

Hiba Kakul yang juga merupakan anggota Qafila mengatakan bahwa ada dosen, mahasiswa dan petugas kampus yang tidak menyetujui perdebatan isu gender di kampus. “Banyak yang berusaha menghentikan kami. Bahkan mereka sengaja membuat Himpunan Mahasiswa terpisah untuk Women’s College karena tidak menginginkan mahasiswi memegang jabatan di Himpunan Mahasiswa utama.” Mahasiswa MBA berusia 24 ini menyatakan bahwa kelompok kontra takut akan runtuhnya sistem patriarki yang sudah sangat berakar di sana.

Husain dan Kakul sepakat bahwa masalah terbesar yang dialami mahasiswi yang tinggal di asrama saat ini adalah jam malam. “Peraturan ini sudah tidak berlaku di zaman sekarang. Mereka tidak bisa membatasi kebebasan kami. Apa salah kalau saya masih pengin belajar di perpustakaan setelah jam 17:30?” tanya Husain.

Menurut Kakul, peraturan di AMU masih sangat tertutup dan konservatif. “Ada kelompok yang merasa terancam. Mereka takut diungguli oleh perempuan. Bahkan sekarang mahasiswi semakin sulit mengungkapkan pendapatnya tanpa dicerca. Kami ingin menyadarkan para perempuan pentingnya pemberdayaan diri.”

Hiba Kakul, salah satu anggota aktif Qafila. Sumber: Qafila


Dia menganggap mahasiswi AMU harus membahas isu kesetaraan lebih sering lagi agar topik tersebut menjadi perdebatan umum di kampus. “Sudah saatnya situasi yang mengungkung berubah. Mahasiswi bisa bertanding dengan mahasiswa laki-laki apabila mereka berpartisipasi dalam lomba debat di luar kampus khusus perempuan,” katanya.

Anggota komunitas Qafila datang dari mahasiswi dan dosen. Mereka sering membahas feminisme lewat panel diskusi, sesi pembacaan puisi dan seminar gender di lingkungan kampus. Omelan seksis yang dilontarkan kelompok kontra adalah santapan mereka sehari-hari.

Selain Qafila, ada juga komunitas Vicharak di kampus. Tujuan dua komunitas ini sama-sama membahas feminisme. Bedanya, anggota Vicharak dianggap “lebih bebas berpikir, rasionalis, dan filosofis dalam membahas hal-hal filsafat, politik, budaya, agama dan sosial dari sudut pandang yang tidak memihak.”

“Kita tidak bisa menyamakan dua ideologi yang berlawanan. Feminisme dan Islam tidak bisa digabungkan,” ujar Fahad Zuberi, 25, mantan mahasiswa arsitektur dan ketua Vicharak. Dia merasa masalah utamanya yaitu “banyak orang yang berusaha mendamaikan pandangan liberalnya dengan agama yang mereka anut.”

Fahad Zuberi, anggota organisasi Vicharak. Sumber: Facebook

Nashra Ahmad, 20, mahasiswa psikologi semester lima, sekaligus anggota Vicharak, sepakat dengan pendapat Zuberi. “Banyak ayat di Al-Quran dan Hadis sahih yang menunjukkan kalau perempuan dan laki-laki tidak diciptakan setara. Feminis Muslim mengatakan hijab adalah pilihan, padahal mereka jelas diwajibkan memakainya oleh Quran.”

Akan tetapi, Ahmad dan Zuberi menganggap feminisme sangat dibutuhkan di Aligarh. “Melarang mahasiswi meninggalkan Abdullah Hall (salah satu asrama perempuan) selama seminggu dan hanya mengizinkan mereka keluar di hari Minggu melanggar pedoman kampus sendiri,” tutur Zuberi.

Nashra Ahmad, anggota Vicharak. Foto: Facebook

Ahmad memutuskan keluar dari asrama karena sikap petugas kampus yang diskriminatif. “Dulu saya sering pergi ke Cultural Education Centre karena suka musik. Wakil rektor merendahkan kami layaknya pelacur kalau pergi ke sana. Setiap kali ke sana, saya harus diawasi oleh kepala petugas. Mereka menganggap saya sebagai perempuan yang boleh keluar asrama sampai pukul 8 malam.”

Para Pemburu Feminis

Feminis di AMU tak cukup harus menghadapi tingkah polah petugas administrasi menyebalkan dan perbedaan ideologi.

Nabeeel Firoz [28] adalah mantan mahasiiswa dan sineas yang lulus dari kuliah S1 Ekonomi pada 2010. Dia sangat aktif menggunakan media sosial dan memiliki 5.000 teman di Facebook (jumlah maksimal yang diizinkan website medsos itu]. Tanpa tedeng aling-aling, Firoz mendaku sebagai seorang “Pemburu Feminis yang sangat menghormati perempuan.” unggahan-unggahan di laman Facebooknya kerap membandingkan feminisme dengan kanker. Suatu kali, dia pernah menulis satus bahwa dirinya ingin “menghajar kaum feminis.”

Kepada kami, Firoz mengatakan bahwa sebagian besar feminis di Aligarh cuma pengin terlihat “keren” dan bergaya bak “kaum intelektual.” Firoz menjuluki mereka “feminis farzi.”

“Beberapa kawan pria yang saya kenal mengaku doyan ngobrol tentang feminisme karena perempuan senang ngobrol tentang itu bersama mereka,” katanya.”

Nabeel Firoz di salah satu kafe dekat kampus Aligarh. Foto oleh: Zeyad Masroor Khan

Menurut Firoz, Aligarh belum siap menerima perempuan yang berkeliaran di malam hari. Baginya pula, kamu feminis di AMU tak lebih dari perwujudan “kultur PC” yang kebablasan. “Beberapa waktu lalu, seorang perempuan memposting bahwa mereka dikomentari beberapa pria karena merokok di kampus. Intinya, saya cuma mau bilang mereka itu baru cuma dikomentari. Tak ada juga yang bakal memukuli mereka.”

Kakul menuduh Firoz sebagai seorang lelaki yang menyimpan dendam terhadap perempuan.

Perang Gagasan Antar Mahasiswa

Baik Qafila ataupun Vicharak sepakat mereka tengah berjuang mencapai tujuan yang lebih besar yang sama. Namun, masing-masing dari mereka memegang teguh keyakinan yang bersebrangan. “Kamu tetap bisa jadi muslim dan seorang feminis. Tapi agamamu biarlah untukmu sendiri dan praktekan feminisme,” ujar Zuberi.

Husain sebaliknya percaya bahwa kita tak bisa mengatasi penindasan budaya kecuali kita bisa merangkul semua perempuan, terlepas dari kelas sosial, kasta, warna kulit, preferensi seksual dan agama mereka. Dia menuding Vicharak terjebak dalam alam pemikiran masa kolonial “Mereka menganggap perempuan yang tertindas adalah yang mengenakan jilbab. Itu sama saja dengan menilai orang dari pakaian yang mereka pakai. Kami sangat yakin bahwa kalau kita ingin bicara tentang hak-hak perempuan, kita tak bisa melupakan perempuan-perempuan yang mengimani Qur’an dan menganggap diri mereka relijius. Kalau kita melakukannya, kita sudah kalah perang duluan.”

Mahasiswa mengikut unjuk rasa menuntut kesetaraan gender di Kampus AMU. foto: Qafila

Kakul merasa kelompok macam Vicharak cuma bermulut besar. “Bicara itu gampang, namun yang paling penting adalah mengubah teori menjadi aksi nyata. Kalau tak diwujudkan di dunia nyata, segala macam ide tak ada gunanya.”

Ahmad tak sepakat. “Terus, aku harus berbuat apa untuk membuktikan aku seorang feminis?Apa aku harus pergi dari pintu ke pintu membagikan mesin jahit?”

Kendati demikian, kedua belah pihak satu kata mengenai pentingnya mendobrak stereotip gender di Aligarh. Husain percaya bahwa kerja sama dengan berbagai ideologi feminis yang berbeda akan bisa membantu mereka mencapai tujuan yang lebih besar. “Menurutku, memerangi diskriminasi gender di kampus sangat penting dan jika kelompok lain melakukannya dalam tingkatan apapun, kami akan mendukung mereka.”

kendati ada banyak perbedaan-perbedaan kecil dalam debat tentang bagaimana feminisme harus diterapkan. Satu hal yang pasti, feminisme sebetulnya telah mengakar kuat di kampus Islam tersebut.