Iklan
Sepakbola

Aku Benar-Benar Membenci Pengalaman Gabung Akademi Yunior Real Madrid

"Awalnya diterima Madrid bagai mimpi jadi kenyataan. Faktanya, kami dipaksa makan fast food terus dan berjam-jam latihan tanpa sempat belajar yang lain." Berikut pengakuan rekan satu akademi Álvaro Morata yang tersiksa selama di La Fábrica.

oleh Ignacio Martín
08 September 2017, 8:07am

Penulis artikel ini di usia 15 tahun, masih gabung akademi Madrid. Semua foto dari arsip pribadinya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Spanyol.

Tiap pukul delapan pagi, aku dan rekan setim menyerbu kamar mandi sambil membawa pelurus rambut, wax, serta gel. Anak yang lebih pendek biasanya akan berebut tempat di toilet lawan anak yang jauh lebih tinggi, demi mendapat spot strategis di depan cermin. Kami sebenarnya sangat menghargai senioritas. Tapi ya namanya cowok masih remaja, kami semua selalu doyan dandan di pagi hari.

Aku selalu ingat bau keratin hangus di ruang ganti, eek yang disetor anak-anak lain pada pagi hari, serta suara lagu reggaeton yang disetel keras-keras lewat radio portable milik salah satu rekan setimku. Semua itu adalah pengalaman selama aku bergabung di La Fábrica (resminya dikenal dengan nama Real Madrid Youth Academy). Kami hanyalah sekumpulan bocah bau kencur yang berusaha meniru pria-pria metroseksual idola kami di lapangan hijau.

Beberapa teman satu timku, di usia masih belasan, sudah punya pendapatan yang jauh lebih besar dari kedua orang tuanya. Kami semua berusaha keras meraih sesuatu yang, kalau dipikir-pikir lagi, di luar jangkauan kebanyakan manusia. Masuk dan meneken kontrak dengan Real Madrid Youth Academy jelas sebuah kehormatan. Tapi, malang bagiku, itu adalah pengalaman paling berat yang kualami sepanjang hidup.

Sebelum aku masuk akademi sepakbola terkenal ini, aku tinggal bersama orang tuaku di Pulau Tenerife. Aku sempat bermain untuk kesebelasan setempat, U.D. Orotava. Suatu hari, permainanku terpantau seorang pemandu bakat lokal. Aku dapat undangan untuk bermain dalam turnamen melawan akademi Yunior AC Milan, yang punya cabang di Avila, Spanyol.

Saat bermain dalam turnamen itulah, pemandu bakat Real Madrid tertarik dengan kemampuanku bermain sepakbola. Tak lama kemudian, mereka mengajak aku dan ayah ibu ngobrol di kantor Ciudad Real Madrid (sebutan bagi fasilitas pelatihan tim yunior Real Madrid). Tanpa banyak cingcong, mereka menawariku kontrak. Isinya lumayan menggiurkan: sepanjang musim kompetisi 2008/2009 semua kebutuhan hidup, biaya penerbangan dari Tenerife ke Madrid, ongkos pindahan, uang sekolah, uang asrama, serta gaji bulananku sebesar 200 Euro, akan ditanggung oleh klub. Aku langsung teken kontrak tanpa pikir panjang. Umurku baru lima belas. Dalam pikiranku, cuma ada satu bayangan cemerlang: aku akan jadi salah satu permain terbaik di La Fábrica atau bahkan di tingkat dunia. Masa depan, kupikir, tak pernah secerah ini sebelumnya.

Tak berapa lama, aku hidup di asrama di Ibu Kota Spanyol, jauh dari orang tuaku. Aku segera sadar kalau bakatku tidak spesial. Di saat yang sama, beberapa rekan satu timku tinggal di apartemen bersama orang tua mereka. Real kebelet menggaet bocah-bocah sepantaranku ini, sampai-sampai mereka memboyong orang tua mereka juga ke Madrid. Teman seangkatanku itu sudah diincar pula oleh merek peralatan olahraga raksasa, sebagian malah sudah sudah teken kontrak iklan sepatu. Aku dan teman-temanku yang lain, yang ternyata cuma dianggap bakat bagus biasa, cuma bisa iri melihat para bocah istimewa ini membolak-balik katalog sponsor, memilih jersey dan sepatu yang mereka mau. Aku malah dengar cerita dari seniorku tentang sobatnya di akademi dulu yang dibelikan sedan Audi baru, padahal dia belum punya SIM.


Baca juga liputan sepakbola unik lainnya dari VICE:

Hari-hari di asrama La Fábrica berjalan sangat monoton. Rutinitasnya itu-itu saja. Kami semua bangun pukul 8 pagi dan langsung sarapan. Menu sarapan kami terdiri dari biskuit, sandwich paketan, jus jeruk, beberapa helai roti, dan sepotong buah. Berselang sejam kemudian, kami pergi sekolah. Kelas kami berlangsung sampai pukul 5 sore. Kami istirahat sekali pada pukul 2 buat makan siang. Beres sekolah, kami kembali ke asrama sekadar untuk ngemil biskuit dan milkshake yang ditaruh pengasuh asrama di atas kasur-kasur kami. Setelah itu, kami antre menunggu bus yang akan membawa kami ke lapangan latihan. Di lapangan, kami akan menempa kemampuan mengolah si kulit bundar sampai pukul 10 malam.

Kalau aku ingat-ingat lagi, sebagai calon atlet, nutrisi yang kami dapatkan di akademi yunior Real Madrid sebenarnya tak mencukupi. Apalagi kalau mengingat apa yang mereka harapkan dari kami, rasa-rasanya tak ada yang mengawasi asupan dan pola makan para peserta didik. Perjalanan dari asrama ke tempat latihan memakan waktu 45 menit. Durasi selama ini biasanya aku habiskan untuk berdoa, agar aku bisa cukup punya waktu untuk beli cemilan di kantin atau di vending machine. Masalahnya, kalaupun kamu punya waktu makan sebelum latihan, kami pasti menghadapi sebuah dilema: makan terlalu banyak bisa bikin muntah saat latihan; sementara kurang makan hasilnya tak punya cukup tenaga sampai akhir latihan.

Penyedia katering tak resmi La Fábrica adalah sebuah restoran kecil dekat asrama bernama Giardino. Sering banget, tiap sore, aku dan teman-teman bergerombol di gerbang asrama menanti pelayan restoran mengantar pesanan kami: waffle rasa coklat dan hotdog yang dicelup ke saus barbekyu. Kami sadar itu bukan makanan sehat bagi anak berusia 15 tahun. Tapi gimana dong, kami lapar. Jajanan itu mengganjal perut yang minta jatah.

Di samping kelaparan, fakta asupan makanan kami tak diawasi memengaruhi performaku selama latihan. Kurangnya asupan makan sebelum latihan mengakibatkan kami rentan cedera dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Akibatnya jika cedera, kami butuh waktu lebih lama untuk pulih. Selama aku berada di akademi, aku pernah mengalami cedera otot paha, tendinitas, lonjakan cairan persendian, hingga dengkul terkilir. Pernah, dalam satu musim kompetisi, aku lima kali cedera karena sebab berbeda-beda. Kendati diagnosa dari petugas media akademi selalu benar dan membantuku pulih, mereka cuma fokus mencari cara agar aku cepat kembali merumput. Mereka tidak pernah serius mencari penyebab utama kenapa aku gampang cedera.

Penulis artikel ini bermain untuk klub Blue Hens di kompetisi internal University of Delaware, Amerika Serikat.

Tiap sesi latihan di akademi selalu terasa berat dan ketat. Kesalahan mengoper bola, gerakan yang tak sesuai instruksi pelatih, atau kegagalan mengeksekusi gerakan latihan tertentu sudah pasti diganjar omelan pelatih di depan teman-teman lain. Di La Fábrica, kami tak hanya bersaing dengan tim lain, tapi juga melawan kawan-kawan setim.

Tiap asrama terdiri dari 15 kamar tidur. Tiap kamar dihuni tiga atlet. Testosteron yang melimpah, dorongan seks yang terpasung, serta ego yang besar, jadi resep sempurna bagi perkelahian-perkelahian kecil dalam asrama. Bocah remaja bisa sangat kejam dan paham betul bagaimana cara melukai atau mem- bully orang. Aku tak tega membeberkan semua detailnya di tulisan ini. Yang pasti, satu teman kami sampai ngompol gara-gara diganggu oleh kawan satu asrama. Kalian mungkin tahu kengerian macam apa yang dihadapi anak malang itu sebelumnya.

Dua teman yang tinggal di sebelah kamar kerap mengunci pintu kamar mereka, lalu berkelahi. Aku dan dua teman sekamar kadang diundang sebagai penonton. Tugas kami adalah jadi wasit yang melerai kalau-kalau perkelahian sudah mulai kelewatan. Ini terjadi beberapa kali selama aku sekolah di La Fábrica. Uniknya, pertemanan kami baik-baik saja walau sering berkelahi.

Aku sendiri berusaha mengatasi tekanan luar biasa di asrama dengan menyanyikan lagu-lagu pembangkit semangat. Biasanya aku menyanyi selama perjalanan 45 menit menuju lapangan latihan. Cara lain yang kerap kulakukan untuk meredam stres adalah menyakinkan diriku kalau aku punya semangat yang kokoh. Aku selalu mengingatkan diri ini, bahwa bergabung akademi Real Madrid adalah hal yang selama ini aku inginkan.

Saudaraku pernah bertanya, setelah mendengar ceritaku, kenapa aku masih keukeuh tinggal di asarama jika kondisinya seberat itu. Sejujurnya, saat aku meninggalkan Tenerife untuk bermain bersama Real Madrid, satu pulau tempatku tinggal mendukung dan cemburu padaku. Gara-gara itulah, aku tak mau bikin keluarga, terutama ayahku, kecewa jika sampai harus bilang kalau aku bukan bakat terbaik di di La Fábrica. Aku tak terbiasa belajar mengakui dan mengeluarkan perasaanku pada orang tua. Aku cuma mikir: akademi ini sudah memberiku kesempatan, aku harus bersyukur. Menggerutu cuma bakal bikin aku kelihatan kayak bocah tak tahu diuntung.

Setelah dikenang lagi, menurutku hal yang paling mengganggu La Fábrica adalah kurangnya pendidikan formal yang kami dapatkan. Saban hari, setelah sekolah selesai, kami langsung pergi latihan, baru pulang jam 10 malam. Waktu setelah makan dan sebelum mata mengantuk adalah celah satu-satunya kalau kalian mau belajar matematika, bahasa, atau fisika. Pada praktiknya kami terlalu capek setelah menjalani berjam-jam latihan berat, terutama ketika latihan jadi bagian dari tanggung jawab kami. Wajarlah kalau kamu capek, namanya juga baru 15 tahun. Kami kembali sekolah dan mengulang rutinitas yang sama. Setiap Sabtu dan Minggu, kami libur sekolah. Libur bukan berarti kami istirahat. Ada pertandingan di akhir pekan.

Penulis artikel ini memakai sepatu merah. Screenshot dari Real Madrid Television.

Saat menonton pertandingan semifinal Piala Champion antara Real Madrid vs Manchester City Mei 2016 lalu, aku mengenali salah satu rekan satu asramaku dulu sudah sukses masuk line up. Gestur dan ekspresinya masih sama seperti saat kami masih satu tim. Aku bahagia dan lega melihat pria yang begitu berbakat itu berhasil menembus tim utama Los Blancos.

Namun yang tak diketahui semua penonton malam itu, si lelaki kawan seangkatanku itu tinggal kelas dua kali selama di akademi. Ada aturan tak tertulis La Fábrica: semakin kamu jago di lapangan, semakin sedikit tekanan untuk belajar. Celakanya, anak-anak di akademi senang-senang saja sama kondisi ini. Toh kami menekuni sepakbola, olahraga yang paling kami sukai di dunia. Saya dan teman-teman dididik untuk yakin bahwa kami bakal seumur hidup menggantungkan hidup pada sepakbola. Salah satu korban dari pandangan ini, karena nilai pelajarannya hancur lebur, adalah kawanku yang sukses menembus skuad utama Real Madrid di atas. Dia selalu duduk di baris belakang. Kami dulu suka mengoloknya, karena dia satu-satunya di kelas yang punya jenggot. Kami tak tahu dia punya jenggot karena dia lebih tua dua tahun dari kami semua.

Bertahun-tahun kemudian, setelah aku memutuskan lanjut sekolah di Amerika Serikat, aku melihat sistem yang berbeda pada penerima beasiswa olahraga. Aturan di AS sederhana: kalau nilai-nilai pelajaranmu belum bagus, kamu tak boleh bermain kecuali ada perbaikan yang signifikan. Pendekatan ini menumbuhkan etos belajar yang sangat berbeda di kalangan atlet AS. Sebuah sistem yang lebih baik, menurutku.

Beberapa alumni angkatanku di La Fábrica berhasil menjadi pemain sepakbola ternama. Di antaranya Lucas Vázquez, Álvaro Morata, Denis Cheryshev, Dani Carvajal, Jesé Rodríguez, Diego Llorente, dan Enrique Castaño. Alumni-alumni lainnya, meski tak ketiban pulung main di La Liga, berkarir sebagai pemain sepakbola profesional divisi dua dan tiga. Kenyataannya, alumni La Fábrica yang beraksi di kancah sepakbola dunia termasuk barang langka.

Karena itulah, kurasa tak adil kalau bocah-bocah angkatanku dulu diminta cuma fokus mengembangkan skill sepakbola. Kesuksesan segelintir alumni kerap jadi justifikasi pelatih dan para staf menerapkan metode latihan keras. Lalu bagaimana nasib mereka yang tak sukses?

Tentu saja, aku cuma bisa menceritakan ini semua berdasarkan pengalaman pribadiku. Setelah lewat satu musim kompetisi, aku diberitahu pengelola akademi skillku tak mencukupi untuk terus berada di La Fábrica. Bukannya sedih, aku senang bukan kepalang. Dua hari setelah berita itu aku terima, aku mengemasi semua barang-barangku, menjejalkannya ke mobil pamanku yang datang menjemput. Kami pun cabut dari Madrid. Tak pernah aku merasakan kebahagiaan seperti pada hari itu.

Di rumah, semua orang menyambutku dengan tangan terbuka. Ternyata, ketakutan yang selama ini kupendam kalau sampai gagal meniti karir sepakbola tak berdasar. Ayah tak kecewa padaku.

Kadang, keluargaku bertanya apa aku masih mendukung Los Blancos. Aku selalu memastikan untuk bilang iya. Namun, ketika aku kembali merumput untuk kesebelasan di kampung halamanmu, aku baru sadar bahwa setahun tinggal di La Fábrica mengubah pandanganku tentang sepakbola. Aku baru sadar sepakbola yang sesungguhnya, sepakbola yang selama ini aku mainkan, hanya bisa hadir di jalanan oleh tim yang isinya teman-temanmu semua.

Tentu, aku tak akan bisa membenci Real Madrid. Program pembinaan atlet sepakbola remaja yang kudapatkan dulu memudahkanku mendapat beasiswa sepakbola dari universitas di Negeri Paman Sam. Setelah lulus, aku lanjut kuliah S2 bidang HAM di Belanda. Sejak 2016, aku pindah kuliah di UCL, tepatnya di jurusan hukum.

Seperti yang kubilang sebelumnya, latihan di Real Madrid's Youth Academy adalah pengalaman terberat dalam hidupku. Masa-masa itu memang menempaku menjadi pribadi lebih kuat menghadapi tantangan hidup di masa depan. Namun, pertanyaannya, apakah situasi berat dan gizi kurang seperti di La Fábrica harus banget dialami bocah berumur 15 tahun yang masih penuh mimpi?

Kalaupun ada pesan moralnya, ceritaku ini hendak bilang, masa-masa puber rasanya memang waktu paling tepat bagi kita untuk menyadari pemain sepakbola profesional hanyalah komoditas industri belaka.


Ini artikel-artikel VICE lain yang tak kalah keren membahas sepakbola:

Bangkitnya Gerakan Ultras Melawan Sepakbola Modern Yang Kapitalistis

Apakah Premier League Sedang di Ambang Kebangkrutan?

Sudah Waktunya Diving Dianggap Sebagai Seni Khusus Bermain Sepakbola

Tagged:
Stress
VICE Spain
real madrid
la fabrica
Olahraga
Sekolah
spanyol
Nutrisi
Depresi
Atlet
Tim Yunior
Pesepakbola
U-19