Pekerja sedang merapikan tembok rumah modul di Brooklyn, New York, AS. Capsys Corp. Fotografer Scott Eells/Bloomberg via Getty Images

Inilah Masa Depan Hunian Urban, Apartemen Semakin Mungil Tapi Tetap Apik

Apartemen mungil menjadi tren di kalangan profesional muda millenials yang berupaya merampingkan ruang hidup mereka. Apakah tren serupa akan menular ke Indonesia?

|
Ags 1 2018, 10:41pagi

Pekerja sedang merapikan tembok rumah modul di Brooklyn, New York, AS. Capsys Corp. Fotografer Scott Eells/Bloomberg via Getty Images

Warga Amerika yang tinggal di kota-kita besar dan mahal terbiasa mendengar keluhan soal tempat tinggal: ada genre khusus blog-blog schadenfreude yang menampilkan Airbnb mungil, sublets sempit, dan ruang-ruang sesak lainnya yang di luar bayangan kita. Di sejumlah kota, termasuk New York, San Francisco, dan Seattle, investasi real estate dan pekerjaan dengan upah tinggi menekan tingkat ketenagakerjaan, meningkatkan harga-harga barang, dan membuat para penyewa terhimpit. Ini menyebabkan pejabat kota, arsitek, dan pengembang mencari cara-cara baru yang efisien untuk membuat tempat tinggal. Dengan situasi gawat begini, tinggal di ruang-ruang sekecil mungkin kini tidak lagi menjadi gagasan gila.

Misalnya, mantan walikota New York Michael Bloomberg membangun program percobaan yang mengeluarkan izin untuk “apartemen mikro”; apartemen mikro adalah apartemen di bawah standar 37 meter persegi yang dipandang sebagai batas minimum untuk apartemen studio sejak 1980-an.

Pengembang dan kelompok-kelompok pro-kepadatan berargumen bahwa dimensi ini sebetulnya besar; ekonomi berbagi, teknologi baru, dan hunian non-tradisional membuat kita tidak memerlukan ruangan besar (belum lagi banyak warga New York memilih makan di luar dan menggunakan oven mereka untuk menyimpan barang). Lagipula, semua pemasaran apartemen mikro awalnya ditujukan bagi warga lajang profesional (alias tech bro) yang tidak menghabiskan banyak waktu di rumah.

Tetapi, sebagian advokat hunian mengaitkan tren ini ke era penggerak reformasi sosial seperti Jacob Riis dan Jane Addams, yang mengejutkan warga Amerika Serikat satu abad lalu dengan laporan-laporan kondisi hunian warga miskin urban. Reformasi Era Progresif adalah alasan New York City memiliki banyak sekali peraturan mengenai hunian, dan sebagian advokat khawatir karena kini tak ada lagi batas minimum luas bangunan, apartemen “mikro” bisa menjadi standar baru, dan warga New York yang rentan akan semakin terdesak dan terhimpit ke dalam ruang-ruang mungil dengan konstruksi teknologi tinggi dan dimensi aneh.

Menara Freitag di Zurich, Swiss, jadi contoh tren penggunaan peti kemas sebagai bangunan kontemporer yang apik. Foto: Zuerich.com

Kemunculan apartemen mikro di New York dimulai pada 2012. Saat itu administrasi Bloomberg mengajukan rancangan tempat tinggal yang kecil, yang akan dibangun di sebuah situs di East 27th Street. (Ini diikuti pada 2013 oleh “Making Room,” sebuah pameran di Museum of the City of New York yang mengeksplorasi tipe-tipe hunian.) Banyak usulan yang masuk menggunakan konstruksi modular, sebuah proses pembangunan di mana unsur-unsurnya dibuat di pabrik, lalu diangkut dan dirakit di tempat. Konstruksi semacam ini bisa lebih murah dan cepat, karena unit dilengkapi dengan kabel dan pipa di lingkungan perakitan, kemudian ditumpuk, seperti dua kali lipat “trailers in the sky.”

Hunian modular telah dibahas oleh para arsitek selama beberapa dekade terakhir: ini adalah upaya untuk menyelesaikan beberapa bagian konstruksi terumit di lingkungan pabrik yang terkendali. Meskipun gagasan ini sekilas menjanjikan (dan menguntungkan), tidak ada momen terobosan. Kompleks perumahaan dikembangkan dengan blok modular, seperti menara 32 lantai di 461 Dean Street di Brooklyn, tidak selalu berjalan mulus, dan efisiensi yang dijanjikan oleh proses konstruksi gagal terwujud.

Sebuah fenomena yang terkait tetapi berbeda adalah penggunaan kontainer pengiriman sebagai elemen bangunan, sebuah tren yang, meskipun diramalkan akan mati, bertahan dengan keras kepala. Dunia arsitektur pertama kali menemukan kontainer pada awal tahun 2000an, ketika struktur seperti Menara Freitag di Zurich dibangun—sembilan kontainer yang tidak beroperasi ditumpuk satu di atas yang lain. Pada tahun-tahun sejak itu, kontainer telah berserakan di semua jenis proyek arsitektur: mereka muncul sebagai kantor sewaan di London, arsitek LOT-EK mengubahnya menjadi kartu panggilan mereka dengan sejumlah proyek perumahan Brooklyn, dan mereka berfungsi sebagai substrat untuk vila fantasi di gurun California.

Diterimanya kontainer pengiriman ini sebagai solusi untuk kota-kota yang sempit dan tidak terjangkau agak ironis mengingat bahwa popularisasi pengiriman kontainer pada tahun 1970-an, menurut beberapa ahli, merupakan faktor penting dalam gelombang global konsolidasi ekonomi yang merupakan bagian penyebab meroketnya biaya perumahan di beberapa kota. Pembangunan perumahan baru yang terjangkau di Bronx dan beberapa lainnya secara nasional akan dibangun dari kontainer. Sementara bentuk ini cocok untuk pasar kaget dan kios makanan, mereka menggunakan terlalu banyak bahan untuk menyekat ruang yang terlalu kecil; mereka tidak terlalu praktis untuk proyek perumahan, dan hanya karena mereka memecahkan masalah logistik untuk produk tidak berarti nilainya sama-sama dapat ditransfer ke tempat tinggal bagi orang-orang.

Unit mikro menjanjikan, tetapi ada sisi negatifnya. Unit-unit di East 27th Street— proyek yang memenangkan Permintaan Proposal Bloomberg—telah disewa selama hampir dua tahun dengan beberapa keluhan. Mereka disewakan seharga US$2.700 (setara Rp38 juta) per bulan, lebih dari harga pasaran pasar di daerah itu, dan tersedia dengan perabotan canggih, yang memaksimalkan ruang.


Namun, proyek ini berlokasi di lahan yang diserahkan dari Otoritas Perumahan Kota New York (NYCHA) dan dapat berfungsi sebagai prototipe rencana kontroversial untuk menyewa lahan yang saat ini diduduki oleh tempat parkir dan ruang publik NYCHA, untuk membangun bangunan standar pasar, atau, dengan sinis, sebagai kerangka untuk proyek perumahan masa depan yang bisa dihuni lebih banyak orang.

Dalam hal apartemen mikro, sejauh ini sasarannya adalah warga urban yang dengan senang menukar “luas ruang demi lokasi” yang mendekatkan mereka pada bar, galeri, dan kafe-kafe yang mereka gemari. Ini adalah orang-orang yang mampu tinggal di ruang kecil dengan furnitur yang efektif dan efisien, yang selalu mampu keluar rumah saat mereka sumpek di dalam rumah. Yang kurang dibahas adalah apa yang akan terjadi saat penghuni hunian umum, orang-orang lanjut usia, dan orang-orang lain diminta untuk mulai tinggal di ruang-ruang sempit—untuk itu, sebaiknya kita kembali membaca sejarah.

More VICE
Vice Channels