Radiohead adalah Sebuah Sekte dan Panggung adalah Tempat Ibadahnya
Rene Johnston/Toronto Star via Getty Images
Musik

Radiohead adalah Sebuah Sekte dan Panggung adalah Tempat Ibadahnya

Menonton Radiohead manggung adalah salah satu cara memahami misteri-misteri menyelimuti ini
04 Agustus 2018, 9:49am

Radiohead punya reputasi sebagai pembikin lagu kedoyanan nerds. Ada terlalu banyak kanal atau forum yang dibuat khusus untuk membongkar aneka rupa detail teknis dari album-album mereka serta segala atribut aneh dari artwork-artworknya. Walaupun Radiohead tak bisa dipungkiri sudah merebut hati penggemar dan kritikus musik, Thom Yorke dkk justru mengabadikan nama mereka lewat sekumpulan misteri. Terlepas dari segala macam debat kusir tentang betapa luhurnya atau malah kacrutnya band asal Oxfordshire ini, kita harus akui bahwa keahlian utama band ini adalah memanipulasi impuls alami kita. Misalnya, rasa penasaran—yang senantiasa dipicu oleh Thom Yorke dkk—justru makin menonjolkan betapa istimewanya band ini. Tak pelak, satu-satunya cara untuk memblejeti misteri yang sengaja dibuat oleh Radiohead adalah dengan menonton mereka manggung secara live.

Saya beruntung, baru-baru ini, Radiohead memutuskan kembali melawat Toronto, Kanada setelah melompati kota ini selama satu dekade lamanya.

Semestinya, Radiohead menggelar show di Toronto pada bulan Juni 2012. Nahas, panggung yang mereka pakai ambruk sebelum hari pertunjukkan dan merenggut nyawa teman dan teknisi drum mereka, Scott Johnson. Pasca kejadian tragis ini, Thom Yorke cs mengurungkan sisa jadwal panggung mereka. Kelambanan sistem peradilan Toronto menyeret pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini berimbas pada pencoretan nama Toronto dari rangkaian tur mereka selama enam tahun. Februari lalu, kabar bahwa Radiohead akan kembali menyambangi Toronto ditingkahi dengan histeria penggemarnya. Saking ramainya, fan Radiohead cuma punya waktu 10 menit untuk mendapatkan 1 dari 40.000 tiket yang tak bisa dipindahtangankan sebelum semuanya habis terjual. Riuhnya penjualan tiket ini mau tak mau mengingatkan saya pada histeria di sekitar band macam Pink Floyd dan The Beatles. Satu yang pasti, Radiohead punya fan yang menonton konser-konsernya cuma untuk membuktikan asumsi-asumsi pintar mereka tentang band ini benar adanya.

Penggunaan instrumen-instrumen yang tak umum dan tempo-tempo ganjil memancing kita untuk mengkaji musik rock secara akademis. Dan, di panggung-panggung mereka kita mencoba membongkar kerumitan karya-karya mereka. Apa yang tepat disebut oleh kolumnis New Yorker Anna Petrusich “amal cerdas” kini mulai lebih mirip seperti pencarian ilmu pengetahuan oleh pendengar Radiohead. Menonton Radiohead manggung adalah kesempatan emas menyaksikan detail-detail musik Radiohead digarap secara langsung. Itu juga mengapa menonton Radiohead beraksi di atas panggung bisa mengubah hidup seseorang.

Cahaya monokrom membias dari Scotiabank Arena saat satu persatu anggota Radiohead satu persatu muncul ke atas panggung. Thom Yorke membuka setlist malam itu dengan “Daydreaming” dari album A Moon Shaped Pool . Suara falsetto Thom Yorke yang menghantui dalam sekejap membuat audiens senyap. Pancaran sorotan cahaya menyusuri instalasi artifisial yang terpancang di dinding stadion, dan bunyi bel dari synthesizer mengalun memecah kerumuman penonton 20 ribu oang—semua terpukau oleh sihir Radiohead.

Aksi Radiohead yang dikenal sangat presisi memang harus dinikmati dengan konsentrasi penuh. Lagipula, orang nonton pertunjukan Radiohead umumnya memang berniat untuk mendengarkan musik mereka dengan sungguh-sungguh. Begitu juga di Toronto, kesungguhan penggemar Radiohead begitu terlihat. Buktinya, sebagian rela mengantre hingga tidur di dalam tenda seadanya demi mendapatkan satu tiket. Saya juga mencuri dengar cerita seorang penonton yang mengantre hingga 30 jam atau malah lebih. Cerita-cerita ini mengingatkan saya akan obsesi seorang fan terhadap band kesayangannya dalam rockumentary band-band classic rock ternama.

Dengan katalog sepanjang diskografi Radiohead, bukan suatu yang mencengangkan bila Thom Yorke bisa menyusun setlist dua jam untuk dua pertunjukan di Toronto dengan hanya mengulang tiga lagu saja: “Daydreaming”, “Ful Stop”, dan “Bloom”. Sususan lagu yang tampaknya dipikirkan matang-matang ini ditaati semua personel Radiohead hingga bagian encore sekalipun. Malam itu, Toronto seperti dicemburui seluruh isi dunia karena Radiohead memainkan “Talk Show Host” yang absen dari setlist Radiohead sejak 2015 serta “Exit Music (For A Film)” dengan klimaks pahitnya yang memaparkan seperti cara alami kita memproses amarah. Kenyataan bahwa Radiohead bisa bikin internet heboh dengan hanya memilih lagu mana yang mereka dan mana yang mereka simpan—selama bertahun-tahun—makin membuktikan sepenting posisi apa Radiohead dalam kancah musik global.

Dari bermacam-macam jenis orang yang hadir malam itu, kalian bisa merunut kembali tahap-tahap hidup yang sudah kamu sudah, atau akan, kamu lalui. Mulai dari anak baru gede yang mirip seperti kita dulu saat pertama suka Radiohead, hingga om-om yang memberi gambaran seperti kita dalam satu dekade ke depan serta tetap meggandrungi Radiohead. Orang-orang ini, terlepas usia mereka, menyisihkan waktu mereka untuk benar-benar memahami musik Radiohead. Bisa jadi inilah yang tadi tautan emosional yang mengaitkan fan-fan ini dengan Radiohead. Pasalnya, Radiohead memang kondang sebagai band yang membentengi dirinya dengan misteri serta tak begitu royal memberikan petunjuk pada fannya.

Dalam profil Radiohead yang dimuat di New Yorker, Alex Ross memaparkan ada “semacam sensasi bahwa semua anggota Radiohead memoles habis-habisan setiap aspek karya mereka. Setelah tiap anggota kembali ke posisinya masing-masing di panggung, lagu “You And Whose Army?” dimainkan. Mata Thom Yorke tampak awas mengamati penonton ditunjukkan di layar televisi agar bisa dilihat oleh semua penonton. Penggabungan antara visual yang dingin dan lirik yang sumir menyiratkan sebuah komentar politis yang menegaskan transendensi musik Radiohead. Pun, transendensi ini juga dicapai dengan lagi-lagi misteri. Dari diagram gambar tangan yang dijadikan cover art album-album mereka hingga gambar beruang buas menyeringai yang menghiasi merchandise eksklusif show mereka di Toronto, Radiohead adalah band yang kaya dengan misteri, dan teka-teki itu sengaja diciptakan karena mereka mafhum betul pendengarnya akan dengan senang hati berusaha memecahkannya.

Di hadapan lirik-lirik Radiohead yang sumir, kita tak bisa tidak terpancing untuk menempatkan diri kita dalam narasi yang mereka bangun. Radiohead datang dari masa ketika album masih punya wujud dan didengarkan dari awal hingga akhir. Misalnya, mahakarya Radiohead, OK Computer, seperti yang dikatakan kritikus Tim Footman, “adalah kumpulan lagu yang urutannya sengaja disusun seperti itu.” Radiohead lewat album-albumnya mendongengkan kisah-kisah yang kelewat absurd dan menyisakan cukup ruang untuk kita masuki. Acapkali karena saking penasarannya, kita berusaha menautkan diri dan memahami karya-karya Radiohead. Inilah yang menjadi dasar cult pemujaan di sekitar Radiohead.

Dalam dokumenter impresionis garapan Grant Gee, Meeting People Is Easy , Thom Yorke secara personal menggambarkan bagaimana band macam The Smiths mempengaruhi pembentukan selera musiknya. “Yang paling aneh dari semua ini adalah kamu bisa jadi salah satu band seperti itu (The Smiths) bagi beberapa orang,’ ujarnya. “Karyamu akan terpatri di hati mereka, ngerti kan? Setiap notnya terpatri dalam hati mereka.”

Paduan suara orang-orang yang saling tak kenal menyambut lagu “Reckoner” makin menjelaskan bagaimana Radiohead memanfaatkan pengalaman manusia selagi mereka terombang-ambing antara yang emosional dan serebral. Thom Yorke menutup pertunjukan malam itu dengan menghaturkan rasa terimakasih pada Toronto yang membuat mereka merasa berada di rumah sendiri. Sekian detik setelah audiens membalas ucapan Thom dengan tepuk tangan, Yorke menggenjreng kord pembuka “Fake Plastic Trees”, lagu yang paling pantas mengakhiri konser malam itu.

Radiohead memberi kesempatan bagi kita untuk bertanya-tanya akan segala teka-teki yang merela lemparkan. Sayang, kegigihan mereka menyingkir dari sorotan kamera menihilkan kesempatan kita mendapatkan jawaban-jawaban yang memuaskan. Mereka menyisipkan “bisikan penuh peringatan” dalam lagu-lagu mereka dan menyamarkan pesan-pesan samar dalam artworknya. Dengan semua personel yang diberkahi bakat bermusik dan terdidik, semua langkah kreatif band ini sudah barang tentu diambil dengan penuh perhitungan. Kendati begitu, kita masih saja belum bisa menjelaskan kenapa Radiohead dengan sengaja salah mengeja beberapa kata dalam lirik dan lagu mereka. Pun, Radiohead terus menebar pertanyaan yang tak terjawab. Apa mau dikata, toh kita dihadapkan dengan band yang gemar mengumbar teka-teki.

Apa yang terjadi di Scotiabank Arena adalah sebuah peristiwa bersejarah dalam hikayah musik Toronto. Radiohead mampu menyentuh sentimen yang tak bisa diungkapkan oleh bahasa. Di antara lirik-lirik pedih dan narasi yang puitis yang sudah memukau fan Radiohead selama lebih dari 20 tahun, renungan eksistensial Thom Yorke mengimbungi corak musik 90an—yang mayoritas diwarnai Grunge—dengan palet yang lebih lembut sekaligus eksperimental. Lebih jauh lagi, imbas kultural, sejarah dan emosional dari lirik-lirik Thom Yorke yang terangkum dalam musik Radiohead adalah substansi langka yang membawa pengalaman menonton mereka manggung sebagai pengalaman yang nyaris susah ditandingi.