hiking

Sineas Ini Menjabarkan Alasan Manusia Terobsesi Naik Gunung Lewat Dokumenter 'Mountain'

Jennifer Peedom membuat film tentang pegunungan dan orang-orang nekat dan tolol yang mendakinya. Kami ngobrol dengannya sebelum karya dokumenter terbarunya “Mountain” dirilis.

oleh Sirin Kale
18 Desember 2017, 6:29am

Jennifer Peedom, sutradara di lokasi syuting. Foto milik Dogwoof

Setelah menyaksikan Mountain, dokumenter yang dibikin sutradara Australia bernama Jennifer Peedom, saya menyelami salah satu fase semi-obsesif periodik dalam hidup saya. Saya jadi terobsesi dengan gunung! Gunung-gunung, bagi saya, adalah segalanya.

Dalam bus menuju tempat kerja, saya membaca artikel Wikipedia soal kecelakaan naik gunung legendaris sampai saya hapal setiap rinci insiden tersebut (jangan mulai mendaki saat matahari mulai turun, geng). Saya menonton setiap film dan dokumenter naik gunung yang bisa saya temukan. Banyak yang bagus, tapi yang jelek lebih banyak.

Saya belajar banyak hal, seperti bagaimana Khumbu Icefall adalah bagian paling berbahaya dari Everest. Saya membaca makalah akademik soal kapasitas paru-paru dan ketahanan umum Nepalese Sherpas. Saya mebaca forum-forum yang memperdebatkan mendaki gunung dengan gaya Alpine, dibandingkan gaya ekspedisi yang lebih tradisional (Alpin menang, selalu). Saya akan menggunakan Touching the Void untuk bisa melalui basian yang parah banget di kantor, bayangkan rasanya ditinggal sahabat karib di gunung dengan kaki patah dan tanpa makanan selama empat hari.
Pembaca yang budiman, saya tahu hampir segalanya soal pegunungan, kecuali rasanya naik gunung, karena saya enggak sinting, dan lemah secara fisik, dan saya enggak mau mati konyol (plis!). Untungnya, pengalaman nonton Mountain bikin saya merasa cukup puas tanpa harus naik gunung beneran.

Honnold mendaki El Sendero Luminoso. Foto: Dogwoof

Direkam bareng sinematografer pegunungan legendaris Renan Ozturk, Mountain adalah dokumenter bergaya esai minim dialog tapi kaya akan soundtrack yang menghanyutkan dari Australian Chamber Orchestra. Dengan nukilan dari Mountains of the Mind milik Rovert macfarlane, dinarasikan oleh Willem Dafoe, Mountain intinya membahas satu pertanyaan: Kenapa orang naik gunung? Pinder menjawabnya dengan footage mengesankan yang membantu kita semua memahami keinginan manusia untuk mendaki. Visual Mountain bikin kita terkesima dari adegan pembuka solois Alex Honnold mendaki gunung El Sendero Luminoso di Meksiko tanpa tali yang membuat saya deg-degan abis, hingga rentetan Dany MacAskill naik sepeda gunung yang seru banget. Mountain menjadi penanda kembalinya Peedom ke puncak setelah dokumenternya, Sherpa, yang mendapatkan nominasi Bafta 2015, yang direkam setelah longsor es pada 2014 yang menewaskan 16 pemandu Nepal. Awal tahun ini, saya ngobrol-ngobrol sama Peedom untuk ngomongin Mountain, pesona pegunungan, dan rasanya mendokumentasikan kehidupan di puncak dunia.

BROADLY: Saya nonton Mountain di laptop dan rasanya menyesal, deh, enggak nonton di layar lebar. Gimana sejauh ini penonton bereaksi pada film ini?
Jennifer Peedom: Menurut saya itu adalah salah satu kenikmatan membuat film ini. Saat premier di Sydney Opera House, rasanya meledak-ledak, karena penontonnya lantang sekali dan sangat ekspresif saat bereaksi pada adegan-adegannya. Saya sempat khawatir orkestranya akan terganggu dan teralihkan karena penonton berisik sekali. Tapi mereka menyukainya.

Foto milik Dogwoof

Ini adalah film yang mendalam banget—ada momen-momen saya teriak, “Woy jangan woy!”
Ya, itulah yang kamu inginkan dari sinema, kamu ingin memantik reaksi. Kalau kami berhasil membuat tanganmu keringetan, kami merasa sukses. Saya juga pendaki gunung dan saya merasa lagu sirene seperti itu di pegunungan. Jadi sebagain diri saya paham mentalitas para pendaki gunung, apa yang mereka pikirkan. Ini soal mencoba menguji batasanmu—kapabilitas spiritual, lah, intinya—karena kamu pengin mendorong diri sendiri mendaki gunung-gunung seperti Everest, di mana penderitaannya besar dan menuntut secara fisik. Sebagian besar orang mikir ini gila banget, dan saya juga memahaminya. Jadi, film ini adalah kesempatan untuk mengeksplor kedua pandangan tersebut, dan jarak di antara keduanya. Ini adalah sebuah kesempatan memandang lanskap paling spektakuler di dunia.

Bagaimana Anda mendapatkan rekaman gambar yang sangat luar biasa?
Saya pikir ini adalah bukti nyata bagi semua sineas yang kami pekerjakan, khususnya Renan Ozturk, di mana saya berkolaborasi dengannya di Sherpa. Dia memotret pegunungan dengan sangat indah, dengan cara yang belum tentu beberapa ahli sinematografi Hollywood bisa lakukan. Dan karena dia hanya mengambil gambar di pegunungan, dan dia sangat menyukainya, dia memiliki pendekatan yang inovatif dan segar. Pada adegan pembuka di mana Alex Honnald memanjat wajah batu itu, Ozturk benar-benar menggantung di atasnya dengan tali. Anda bisa melihatnya keadaannya yang terburu-buru, di mana dia berayun keluar, melompati Alex, dan Alex yang tanpa seutas tali, hanya merunduk saat dia melompat ke atas kepalanya. Mereka juga sebenarnya teman yang sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukan itu. Aku selalu khawatir dengan Renan saat sedang mengambil gambar Alex-itu membuatku takut.

Ada satu adegan di
Mountain di mana para pendaki sedang mengantri ke puncak Everest yang ternyata benar-benar mengejutkan. Karena semua yang kita pernah lihat yaitu ruang terbuka yang luas, hingga saat itu tiba-tiba Anda berada dalam antrian. Apakah Anda merasa semangat mendaki gunung sedang dirusak oleh budaya konsumsi yang sekarang mengelilingi Everest? Jika sudah punya cukup uang, pada dasarnya siapapun bisa mendaki Everest saat ini.
Ya, tentu saja. Aku pikir garis utama dalam film ini adalah, "Ini bukan pendakian lagi, ini mengantri. Dan ini bukan eksplorasi, ini pengendalian keramian." Everest adalah latihan pengendalian keramaian akhir-akhir ini. Kami telah menempuh perjalanan jauh dari masa penjelajahan awal Everest, ketika penjelajahannya dulu merupakan pencarian yang romantis. Mallory hanya 100 tahun yang lalu, dan sekarang kami memiliki antrian di Everest. Ini menjadi simbol prestasi di masyarakat kita dengan cara yang sangat konsumeristis. Anda membeli Everest, Anda membayar uang dan Anda berharap untuk dibawa ke puncak.

Ada perasaan hebat dalam film ini bahwa ketika Anda naik ke pegunungan, seperti saat Yesus pergi ke padang pasir. Dan ketika Anda kembali—meskipun waktu telah berlalu dengan cara yang sama—Anda sudah menjadi tidak sama. Semuanya berbeda.
Pastinya, itulah pengalaman saya ketika berada di pegunungan. Anda akan melalui musim Himalaya dua kali setahun, dan Anda akan mengalami banyak masalah saat menyesuaikan diri dengan kehidupan Anda pada sedia kala sesudahnya. Hanya mencoba untuk memahami pengalaman ini tidak bisa diekspresikan dan tak ternilai, yang sangat sulit untuk diartikulasikan, dan telah mengubah Anda di suatu tempat yang jauh di dalam diri Anda.

Photo courtesy of Dogwoof

Ada bagian dalam film yang menelusuri dunia olahraga ekstrim yang disponsori perusahaan, yang benar-benar membuat rambut naik namun dengan cara yang berbeda—di mana mereka melakukan aksi-aksi gila. Apakah Anda khawatir bahwa Anda mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang berbahaya dan berpotensi terluka demi kamera?
Kami tidak benar-benar memotret banyak materi itu, dan saya rasa kami memberi komentar di film tentang bagaimana merek seperti Red Bull mendorong banyak anak muda ini untuk mengambil risiko yang sangat ekstrem. Semua orang ingin mendapatkan lebih banyak jumlah tontonan di YouTube dan melakukan sesuatu yang lebih ekstrem daripada orang sebelumnya, dan banyak dari orang-orang ini telah meninggal, termasuk dua orang yang tampil di film tersebut. Jadi itu bagian dari aspek negatif dan lebih gelap dari dunia gunung yang ingin kita jelajahi.

Apakah Anda berencana untuk melakukan lebih banyak pekerjaan di gunung?
Saya telah mengembangkan sebuah film drama tentang Tenzing Norgay [orang pertama yang mendaki Everest, berbarengan dengan Edmund Hillary] beberapa waktu ini, yang sangat saya sukai. Itu akan menyelesaikan trilogy film gunung, dari Sherpa sampai Mountain hingga ke cerita tentang Norgay.

Mountains sekarang sudah tersedia di bioskop Inggris.