Iklan
komik

Pencipta Wonder Woman Adalah Pria Feminis Pencinta Bondage dan Matriarki

William Moulton adalah laki-laki nyentrik yang kehidupannya banyak dikelilingi pembela hak perempuan, wanita simpanan, sampai aktivis kontrasepsi.

oleh Kristin Hunt
05 Juni 2017, 8:30am

Photo via Flickr user jamiesrabbits

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Kehidupan pencipta karakter Wonder Woman, William Moulston Marston terdengar melelahkan. Dia menulis delapan buku non-fiksi, memiliki tiga gelar universitas, menciptakan satu film bisu dan menulis satu volume fan fiction erotis tentang Kaisar Romawi Caesar. Dengan pengalaman segambreng, Marston ternyata sering dipecat sebagai dosen di kampus-kampus. Dia menikahi kekasih masa kecilnya, tapi tetap membiarkan selirnya tinggal di rumah. Mereka bertiga membesarkan anak-anak bersama-sama. (Mereka mengarang cerita bahwa suami sang selir sudah meninggal untuk menjaga perasaan anak-anak). Kadang-kadang bahkan perempuan ketiga hadir ketika mereka sedang melakukan kegiatan seks.

Namun dari semua pencapaian, kegagalan dan seluk-beluk kehidupan Marston, ada satu karyanya yang bersifat abadi: Wonder Woman. Lahir di 1893, latar belakang Marston yang unik mendorongnya untuk menciptakan superhero perempuan sebagai penangkal "maskulinitas mengerikan" yang menguasai buku-buku komik Amerika Serikat di 1940an. Karakter Wonder Woman sebagai prajurit Amazon merupakan buah dari sudut pandang Marston tentang cinta, bondage, matriarki, dan sosok-sosok perempuan dalam hidupnya yang sibuk membela hak perempuan. Salah satu dari mereka bahkan mempunyai hubungan darah dengan Margaret Sanger, pendiri klinik kontrasepsi pertama di AS.

Asal muasal cerita Wonder Woman dimulai dalam sebuah kastil di luar Boston, Moulton Castle, tempat dimana Ibu Marston tumbuh di tengah keluarganya yang aristokrat. Setelah bersedia menikahi lelaki dari kasta yang lebih 'rendah', barulah William Marston dilahirkan ke dunia. Marston mendapat edukasi bangsawan berdarah biru dan mendapat gelar dari Harvard tiga kali: sarjana di 1915, J.D (juris doctor) di 1918, dan PhD psikologi di 1921. Istrinya, Sadie Elizabeth Holloway, memiliki gelar sarjana dari Mount Holyoke dan mendapat gelar hukum dari Boston University. ("Orang-orang brengsek di Harvard tidak mau menerima perempuan," ujarnya.) Setelah menerima gelar magister seni dari Radcliffe, dia memiliki tiga gelar, sama seperti sang suami. Namun berhubung Holloway kesulitan mencari pekerjaan sebagai pengacara perempuan di akhir 1910, dia akhirnya terjun ke bidang penerbitan untuk mendukung suaminya. Biarpun dia kerap menjadi pencari nafkah nomer satu dalam keluarga, Marston memaksa sang istri menggunakan nama keluarganya. Holloway membenci hal ini.

Sebagai profesor di universitas, Marston kerap menggunakan murid-murid kelas psikologi sebagai subyek survei dan eksperimen. Dia pernah menanyakan muridnya apabila mereka memilih menjadi majikan budak yang tidak bahagia atau seorang budak yang bahagia (Para lelaki kebanyakan memilih pilihan pertama.)

Marston selalu terobsesi mencari kebenaran. Alhasil, dia berhasil menciptakan mesin polygraf versi awal. Biarpun akhirnya pengadilan memutuskan alat ciptaannya tidak layak pakai di kasus Frye v. Pemerintah AS, dia selalu berhasil menciptakan variasi alat pendeteksi kebohongan ini di bisnis-bisnisnya yang lain. (Pernah juga digunakan dalam sebuah iklan Gillette). Seiring waktu, penemuannya ini berevolusi menjadi alat "pendeteksi cinta." Marston sempat mendemostrasikan alat ini secara teatrikal dengan cara memasang alat di murid-murid perempuan yang cantik dan 'membaca' lelaki idaman mereka.

Alat deteksi ciptaan Marston menjadi ide dasar lasso emas Wonder Woman yang memaksa orang mengatakan kebenaran. Namun sesungguhnya, banyak faktor-faktor lain dalam hidup Marston yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan karakter Wonder Woman. Semenaj kecil, dia selalu tertarik dengan kekuatan perempuan. Menurut laporan Jill Lepore di The Secret History of Wonder Woman, Marston sempat menyaksikan pembela hak perempuan asal Inggris, Emmeline Pankhurst berpidato di Harvard di 1911 dan langsung tertarik. Nantinya, lingkaran sosial Marston dipenuhi oleh pembela hak perempuan, aktivis kontrasepsi dan tokoh revolusioner. Perempuan kedua di kehidupan Marston, Olive Byrne merupakan keponakan dari Margaret Sanger.

Marston dan Byrne pertama kali bertemu di 1925 ketika Bryne masuk ke dalam kelas Marston yang bekerja sebagai profesor. Setelah lulus kuliah, Bryne pindah ke dalam rumah Marston bersama Holloway. Berikut susunan peran di rumah: Holloway bekerja, sementara Byrne di rumah menjaga anak-anak. Ketika Byrne juga mulai hamil, mereka semua khawatir akan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilemparkan orang, dan membuat-buat cerita tentang suami Byrne yang sudah meninggal, William Richard.

Kisah cinta segitiga ini bertambah semakin rumit ketika Marjorie Wilkes Huntley, selir kedua Marston mulai terlibat dalam penciptaan Wonder Woman. Mereka berempat kerap menyambangi pertemuan di apartemen Carolyn, tante Marston yang juga seorang hippie aneh. Pertemuan ini kerap membahas peran mereka masing-masing dalam keluarga. Topik favorit Marston, submission juga sering dibahas. Ketertarikannya terhadap bondage tercermin dalam komik-komik awal Wonder Woman. Medium yang digunakan tidak selalu sama—tali, borgol, tentakel—tapi hanya dengan cara diikat inilah Wonder Woman bisa dihentikan. Salah satu kelemahan Wonder Woman adalah ketika gelang emasnya diikat oleh laki-laki. Ini disebut "Hukum Aphrodite" dan menguatkan kepercayaan Marston bahwa kepasrahan merupakan faktor penting yang membuat hubungan romantis sukses. Sayangnya, ini tidak sesuai dengan imej Wonder Woman sebagai prajurit perempuan yang independen.

Dalam setengah milenium, Moulston meramal akan terjadi pertempuran antar gender. Sementara dalam 1.000 tahun, dia yakin perempuan akan menguasai Bumi.

Adegan Wonder Woman diikat atau dirantai dalam buku komik berhubungan dengan ilustrasi pamflet pro-kontrasepsi yang dibagikan secara ilegal oleh Ibu dan tante Bryne. Rantai adalah simbol pergerakan hak perempuan di masa itu—banyak aktivis perempuan merantai diri mereka sendiri ke pagar Gedung Putih untuk menarik perhatian Presiden AS, Woodrow Wilson di 1917. Rantai juga kerap muncul dalam kolom kartun politik karya Lou Rogers. Dia kerap menggambar perempuan yang sedang dirantai sebagai simbol penindasan. Illustrasinya yang bertajuk "Tearing Off the Bonds" di 1912 sering ditampilkan berdampingan dengan sketsa awal Wonder Woman dan terlihat sangat mirip.

Saat diwawancarai Harvard Club di 1937, Marston mengatakan bahwa kebangkitan matriarki tidak terelakkan, dan akan menguasai Amerika di 2937. "Dalam 100 tahun ke depan, kita akan menyaksikan awal kebangkitan matriarki di AS—penuh perempuan kuat secara psikologis, bukan fisik," jelasnya. "500 tahun lagi, akan ada pertempuran gender besar-besaran. Seribu tahun lagi, perempuan akan menguasai Amerika Serikat." Tidak heran Marston akhirnya menciptakan Paradise Island, rumah dari kaum Amazon dan Wonder Woman. Pulau ini bebas dari laki-laki, penuh tanaman hijau dan tentunya damai.

Di 1940, semua ide Marston mulai bersatu padu. Dia diperkerjakan sebagai konsultan di Detective Comics (DC) berkat artikel Family Circle yang menarik perhatian penerbit, Maxwell Charles Gaines.

Gaines memberi Marston izin untuk menguji coba karakter baru, Wonder Woman di All-Star Comics di 1941. Saat itu, dia dianggap sebagai distraksi dari plot utama keadilan masyarakat AS, tapi penampilannya yang menarik perhatian menjadi sangat populer dan tidak lama kemudian Wonder Woman dibuatkan serinya sendiri. Ciri khas dan senjata karakter Wonder Woman merupakan hasil jerih payah Marston, Bryne dan Holloway bersama-sama yang dibangun selama enam tahun.

Di 1947, kanker kulit mengambil nyawa Marston. Setelah itu, karakter Wonder Woman justru mengalami banyak kemunduran. Dia kelewat sayang dengan karakter lelaki Steve Trevor, melepaskan banyak kekuatannya, bahkan sampai membuka bisnis butik. Namun sama seperti kaum feminis gelombang pertama yang membantu pembentukan karakter Wonder Woman, feminis gelombang kedua membantu Wonder Woman keluar dari karakter buku komiknya yang semakin tidak karuan. Berkat Gloria Steinem dan editor Majalah Ms., karakter Wonder Woman kembali ke jalur yang benar di dekade 70-an—karakter yang diciptakan oleh seorang lelaki aneh, istri-istrinya, dan sederetan perempuan-perempuan bohemian yang lantang dan vokal dalam hidupnya.