Iklan
Di Balik Bui

Mantan Kalapas Sukamiskin Masuk Bui Karena Suap, Menurut Bekas Napi Bakal Diapain Tahanan Lain?

Kami minta mantan pesakitan di berbagai kota memprediksi 'Ritual Penyambutan' terhadap Wahid Husein saat pertama kali masuk penjara, berdasarkan apa yang mereka alami dulu.

oleh Adi Renaldi
30 April 2019, 7:21am

Penghuni sel padat di Lapas Sialang Bungkuk di Pekanbaru, Riau. Foto dari Kantor Berita Antara/Priyatno via Reuters

Akhir pekan lalu, mantan kepala lapas Sukamiskin terpaksa pulang ke 'rumah' yang selama ini dia pimpin. Tentu tidak menyandang status sebagai kepala lapas, tapi sebagai narapidana. Wahid Husein dijebloskan ke lapas Sukamiskin lantaran terbukti menerima suap dari sejumlah narapidana kelas kakap untuk menyulap sel mereka jadi lebih nyaman, serta dapat izin keluar lapas dengan leluasa. Wahid dijatuhi hukuman penjara 8 tahun dan denda Rp400 juta.

Nasib orang memang enggak ada yang tahu. Jika dulu Wahid berada dalam posisi yang berkuasa atas para narapidana, kini dia harus rela mendekam di sel para pesakitan. Wahid sempat memohon kepada jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi agar tidak dimasukkan ke lapas Sukamiskin. Sebab dia khawatir akan mengalami beban psikologis dan kemungkinan di-bully tahanan lain. Tapi permintaan tersebut ditolak.

Kehidupan penjara tentu keras. Tapi apakah bekas kepala lapas akan merasakan kondisi sebagaimana narapidana lain?

VICE Indonesia berbincang dengan bekas narapidana dari tiga kota berbeda di Pulau Jawa. Kami ingin tahu, seperti apa penyambutan narapidana baru, ritual bagi anak baru dalam bui, dan kira-kira akan seperti apa jika orang penting seperti kalapas harus dipenjara. Tentu saja, karena persoalan keamanan, topik yang dibahas, serta untuk menghormati privasi, nama kota dan lokasi penjara ketiga narasumber tidak disebut.

Begini jawaban mereka:

Udin, 21 tahun

VICE: Halo bung. Seingatmu kayak gimana sih sambutan buat napi saat pertama kali masuk penjara?
Udin: Pertama itu ada kayak masa orientasi. Tahanan harus masuk sel karantina yang isinya overload banget, diisi 180 orang kalau enggak salah dulu. Nah, ruangannya enggak seberapa besar. Mungkin kayak ruang kelas sekolah gitu dan untuk masalah kebersihan sangat sangat jauh dari kelayakan. Total riot pokoknya. Di sel karantina ini yang parah, jadi saking sempitnya aku enggak bisa tidur. Aku enggak bisa ngapa-ngapain selain berdoa dan berdoa. Sampai akhirnya aku bisa ‘nebus’, dan ditempatkan di sel yang layak. Ritual pertama ya berdoa, agar bisa membayar jaminan.

Perasaan kamu saat pertama masuk penjara gimana?
Depresi ya. Karena di sini semuanya serba duit. Kita enggak akan bisa ngapa-ngapain kalau enggak ada duit. Bagi yang enggak punya uang ya harus siap-siap sengsara.

Apa ritual yang biasanya dijalankan napi baru?
Kalau ritual napi baru sih berbeda-beda ya. Ada yang disuruh buat memijat napi-napi yang sudah tua, atau kawak. Atau bisa juga dirampas rokoknya, atau makanan yang didapat dari luar. Aku melihat itu sendiri. Untungnya aku enggak, sih.

Misalnya ada bekas sipir/kalapas yang masuk penjara gara-gara korupsi, menurutmu dia bakal disambut seperti apa?
Shit! Haha. Walau aku enggak suka dengan mereka, aku enggak akan membalas perbuatan mereka [Kalapas/Sipir-red]. Sebisa mungkin aku akan terus Positive Mental Attitude.

Sammy, 27 tahun

VICE: Halo Sammy. Biasanya gimana sih penyambutan napi baru di penjara?
Sammy: Biasanya ada pembinaan dan karantina. Sebagai tahanan baru harus mengeluarkan uang Rp100 ribu untuk membeli tempat duduk per tiga keramik untuk beristirahat malam itu. Aku terus berdoa, hahaha sambil melempar senyum ke beberapa penghuni karantina, buat sedikit berinteraksi karena tidak pernah membayangkan menempati tempat ini. Ditambah dengan pikiran yang kacau, energi yang sangat minim di malam pertama. Untungnya aku enggak pernah diapa-apain.

Apa yang kamu alami saat pertama kali masuk penjara?
Wah aku stres parah. Karena setiap jam kunjungan lapas tutup, aku hampir selalu melihat orang bertengkar. Itu sudah menjadi sehari-hari pemandangan. Apalagi, aku juga terbebani pikiran tentang keluarga.


Tonton dokumenter VICE setelah mendatangi kontes kecantikan bagi narapidana di Brasil:


Ada enggak sih orientasi yang enggak resmi dilakukan penghuni lama terhadap napi baru?
Biasanya tuh ada orientasi buat anak baru. Pernah suatu ketika, waktu baru satu minggu aku masuk, waktu itu masih di ‘kamar besar’—sebutan buat kamar umum, yang ditujukan bagi mereka yang enggak punya biaya—aku ditawarin sabu. Aku tolak. Meskipun aku masuk karena kasus narkoba, aku emang enggak pernah mau pakai sabu. Tapi aku dipaksa. Kemudian, aku harus bertarung melawan dua orang, karena menolak pakai sabu. Mungkin itu termasuk ritual? Setiap pindah blok, aku selalu duel setidaknya satu kali.

Misalnya ada pejabat atau orang besar yang masuk ke penjara, menurutmu dia bakal diapain?
Rasanya kok mustahil jika [Wahid] prosesnya sama dengan napi yang "tidak punya jabatan". Secara pribadi soalnya selalu ada pungli atau permainan yang sangat rapi di lapas. Jadi susah kalau memang diaudit secara prosedural. Karena itu tadi, aku melewati beberapa proses yang ditawarkan oleh bantuan hukum di rutan yang jelas-jelas bertuliskan besar "TANPA DIPUNGUT BIAYA", teorinya begitu, tapi secara praktik enggak ada yang gratis di penjara [tertawa].

Sinyo, 34 tahun, Empat Kali Masuk Bui

VICE: Bung, dulu awal rasanya 'masuk sekolah' bagaimana?
Sinyo: Yang mana dulu nih? Waktu dulu pertama kali masuk? Atau sekarang? Hehe... Kalau dulu keras di tahun 2000-an awal. Karena waktu itu masih kecil, aku ditahan di penjara kota kecil yang keras banget. Kalau akhir-akhir ini, sudah santai. Karena sudah ada relasi di sana. Jadi malah dilindungi sama ‘jaringan’.

Nah, cerita yang awal masuk penjara dulu deh
Kalau dulu sih stres parah, bung. Karena kan dulu masih ada tanggungan orang tua. Wah aku emang nakal, tapi paling takut dicap durhaka. Jadi kepikiran ibu terus.

Apa saja ritual yang kamu lakukan pas pertama kali masuk?
Beda-beda sih. Kalau aku sih selalu memakai kaos baru. Karena aku anggap itu sebagai fase baru, dan selalu kutinggalkan semua barang-barangku kalau sudah keluar. Itu menurutku adalah membuang apes ya, kalau kata orang Jawa.

Nah, menurutmu sipir atau kalapas yang tiba-tiba dihukum penjara yang sama karena korupsi bakal diapain sama napi lain?
Hahaha.. kita ketawain aja di kupingnya. Dulu orang kayak gitu suka malak, sekarang gantian kita palakin. Dia selalu nyuruh kita ‘tampil’—yang artinya adalah membayar mereka agar bisa ngapain aja—sekarang dia yang harus kita paksa ‘tampil’. Kalau bisa sih, emang harus dibuat stres kayak kita dibuat sumpek dulu. Dia harus ngerasain ‘sel tikus’ yang mereka bangun sendiri. Ini lho karyamu, silahkan dinikmati.