Iklan
LGBTQ

Sejarah Parade Pride Mewarnai Jalanan Negeri Mayoritas Katolik Timor Leste

Negara termuda Asia bekas provinsi Indonesia itu terhitung paling progresif memberi dukungan bagi komunitas LGBTQ. Tapi diskriminasi tentu masih ada. Begini kronologi sejarahnya.

oleh Adi Renaldi ; foto oleh Rizky Rahad
19 Mei 2019, 6:52am

Ribuan orang memadati jalanan Dili, Ibu Kota Timor Leste di satu hari yang cerah Juli 2018. Itu pemandangan langka di ibu kota berpenduduk 222 ribu jiwa tersebut. Memakai kaos putih, sekira 1.500 orang siang itu berjalan beriringan dengan membawa bendera dan spanduk bermotif pelangi. Salah seorang peserta memegang poster berbunyi "Simu Malu", yang artinya 'penerimaan'. Suasana tambah semarak setelah rombongan marching band dan penampilan DJ di atas truk memandu setiap langkah peserta parade.

Itulah sekelumit suasana Pride march yang diikuti orang dari berbagai latar belakang. Pride march pertama kali di Timor Leste digelar pada 2017, sebagai bentuk selebrasi, pernyataan, dan rasa kebersamaan bagi komunitas LGBTQ di Timor Leste. Dalam awal selebrasi tersebut, hanya 500 orang datang. Angka tersebut akhirnya bertambah terus, bukti partisipasi dan dukungan masyarakat meningkat. Sekarang parade tersebut menjadi sinonim rasa bangga komunitas LGBTQ dan perjuangan dalam merayakan inklusivitas.

"Kami kedatangan banyak orang dari beragam latar belakang kali ini," kata aktivis LGBTQ dan panitia Pride march Natalino Guterres. "Rasanya menyenangkan melihat mereka berparade dan bangga atas dirinya."


Tonton dokumenter VICE saat menyambangi Parade Pride di Timor Leste:


Parade Pride hanyalah sepenggal kisah bagaimana komunitas LGBTQ di Timor Leste memperjuangkan hak dan suaranya. Seorang aktivis kemerdekaan dan hak LGBTQ, Bella Galhos, mengatakan diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas seksual di negaranya lebih banyak dilakukan anggota keluarga dekat. Bella pernah melakukan penelitian yang melibatkan 57 orang yang diterbitkan Asean Sogie Caucus, disimpulkan bila 86 persen dari responden di Timor Leste pernah mengalami kekerasan fisik dan psikis.

"Rintangan terbesar komunitas LGBTQ di negara ini adalah keluarga," kata Bella. "Setelah mereka melela kepada orang tua atau keluarga besar, yang ada hanyalah penolakan. Penyangkalan. Kekerasan, fisik, mental, seksual. Itu baru dari keluarga, dimulai dari keluarga. Lantas apa yang bisa kamu harapkan dari masyarakat?"

Bella sendiri amat akrab dengan kekerasan. Cerita hidupnya bak kisah sebuah fiksi. Saat Timor Leste masih menjadi provinsi Indonesia, ketika dia berusia tiga tahun, sang ayah menjual dirinya seharga US$3 kepada seorang tentara Indonesia. Bella dijual karena memiliki "kepribadian dominan, dan sangat laki-laki." Dia mengalami kekerasan seksual sejak usia belia yang dilakukan keluarga dan aparat keamanan Indonesia.

Di luar kehidupan pribadinya, Bella kerap menyaksikan bagaimana seorang transgender dihajar anggota keluarganya dan diseret menggunakan mobil keliling kampung, semata agar si transpuan “sembuh.”

"Saudara laki-lakinya mengikatnya, menelanjanginya, dan menyeretnya menggunakan mobil," kata Bella. "Keliling kampung tempat tinggalnya, cuma untuk mempermalukan dia."

Awal 2000, Bella dan pasangannya mendirikan sebuah yayasan bernama Arcoiris, yang berarti pelangi dalam bahasa Portugis. Itu adalah sebuah shelter yang menampung komunitas LGBTQ korban kekerasan. Saat ini ada empat orang yang ditampung Bella di shelter tersebut.

Kekerasan juga sempat menjadi bagian dari kehidupan Romiaty da Costa Barreto, seorang transpuan dan aktivis LGBTQ setempat. Sejak kecil Romiaty sadar identitas seksual dirinya, dan selalu ingin memakai baju perempuan. Tapi setiap kali dia mencoba, orang kampung selalu mengoloknya, menuduh dia "membuat malu keluarga.” Dia memilih mengajak berdialog demi mengedukasi mereka. Kini Romiaty bebas mengekspresikan diri.

"Aku biasa mendekati orang secara langsung," kata Romiaty. “Kita perlu menjadi teman dan mengedukasi mereka."

Kendati kekerasan, persekusi, dan diskriminasi terhadap komunitas LGBTQ masih marak terjadi, Timor Leste adalah negara yang dianggap paling maju dalam menjunjung hak-hak minoritas seksual di Asia. Pada 2017 misalnya, Perdana Menteri Rui Maria De Araujo secara terbuka dalam pidatonya mendukung hak-hak LGBTQ, dan menjadi pemimpin negara pertama di Asia yang melakukan hal itu.

"Setiap orang punya potensi untuk berkontribusi dalam perkembangan negara, termasuk komunitas LGBTQ," kata Araujo.

Pernyataan Araujo bukan main-main. Dalam Pride march 2018, dia mengirim utusan pemerintah bergabung dalam parade, berjalan bersampingan tanpa memandang gender.

Lantas bagaimana dengan sikap gereja Katolik, sebagai otoritas keagamaan yang dominan di Timor Leste?

Kendati tidak secara langsung mendukung komunitas LGBTQ, beberapa elemen gereja menyepakati aksi komunitas tersebut. Pada Pride march 2017, misalnya, seorang biarawati juga turut serta. Sang biarawati memimpin doa sebelum acara berlangsung.

Via*, yang minta namanya diubah agar tidak mengalami masalah dengan keuskupan, adalah salah seorang biarawati dan relawan komunitas LGBTQ yang turut serta pada Pride march 2018. Dia mengatakan gereja tidak bisa mendukung orientasi seksual LGBTQ, tapi turut merasa prihatin atas banyaknya diskriminasi dari keluarga dan masyarakat.

"Kami melihat dari gereja Katolik, pernyataan kami itu ya LGBTI itu ya sebagai ciptaan Tuhan. Karena LGBTI itu bukan, bukan dibuat-buat tapi ini sejak lahir sudah ada," kata Via.

Dukungan dari gereja dan pemerintah tidak lantas membuka ruang seluas-luasnya bagi kehidupan komunitas LGBTQ. Hingga saat ini belum ada regulasi pemerintah yang benar-benar melindungi hak LGBTQ, meski pada 2011 Timor Leste menandatangani pakta internasional untuk mengakhiri kekerasan berbasis orientasi seksual dan identitas gender bersama negara anggota PBB lainnya.

Diskriminasi pun pada akhirnya masih mengakar di Timor Leste. Seperti diakui Romiaty. Salah satunya adalah, komunitas LGBTQ susah mengakses fasilitas kesehatan umum. Romiaty juga kesulitan mengganti nama karena status gendernya.

"Kalau trans masalah terbesarnya, tantangan yang trans hadapi itu salah satunya susah untuk bekerja di kementrian, semacam kantor-kantor gubernur. Berpakaian perempuan, kalau melamar kerja di pemerintah, itu juga susah sekali," kata Romiaty.

Terlepas dari semua kesulitan tersebut, Bella Galhos optimis masa depan LGBTQ di Timor Leste akan berwarna seperti pelangi.

"Timor akan berubah. Harus berubah. Karena, kami tidak cuma bicara. Kami bertindak."