Musik

Prontaxan Mengoplos Indie dan Funkot di Lantai Dansa, Hasilnya 'Remuk Bro...'

Kolektif Prontaxan dari Jogja memandu penikmat musik 'indie' agar rela mengganti kopi dengan ciu, hikmatnya senja beralih gemerlap diskotek pinggiran, lalu berjoget liar melepas segala bias seleranya.

oleh Titah AW; foto oleh Noe Prasetya
24 Juli 2019, 7:07am

Foto Prontaxan oleh Noe Prasetya.

Sebagian penikmat musik "indie" (terlepas dari rancunya definisi istilah ini) masih membentengi diri dari genre yang dikesankan punya strata sosial lebih "rendah". Mereka yang playlist-nya terdiri dari Efek Rumah Kaca, Fiersa Besari, atau Fourtwenty kadang sinis memandang kiprah pemain sirkuit koplo Pantura, macam Acha Kumala, atau yang lebih populis sekelas Via Vallen hingga Sodiq Monata.

Tak percaya? Gampang kok menemukan template komentar kayak gini di video band 'indie' yang diunggah via YouTube:

1563902629932-Screen-Shot-2019-07-24-at-002330

Kalaupun jiwa hipster membuat mereka sanggup menolerir dangdut bersama varian koplonya, nasib lebih tragis terpaksa ditanggung funkot. Tak sedikit anak 'indie' sulit menikmati kiprah DJ Jocky Saputra, Fuad Gasanov, Wahyu Koyaq, atau Herman Barus (yang terakhir disebut padahal jagoan betul lho). Malah sebagian besar pecinta genre EDM, saudara jauh anak indie senja+kopi dari segi demografi dan kelas sosial, menjauhi funkot layaknya sampar yang bisa menular.

Funkot diperlakukan bagai sambal di sepiring ayam geprek, selalu terpinggirkan. Meski secara de facto musik mereka massif di pasaran, karakter funkot dianggap marjinal, seronok, dan norak. Itu sebabnya kalian susah menemukan wakil kancah funkot di DWP.

Dikotomi macam itu teramati oleh aktivis lantai dansa Uji Hahan, Yahya Dwi Kurniawan, Egha, dan Lana Pranaya. Demi memerangi kejumudan ini, keempatnya bersepakat membentuk kolektif Prontaxan di Yogyakarta.

"Kami melihat di beberapa gig, musik itu seperti ada kelas sosialnya. Kayak techno itu orang-orang kaya, sementara funkot sama dangdut pinggiran. Musik Prontaxan itu [agendanya] gimana caranya biar status sosial itu dikaburkan, menghapus eksklusivitas di lantai dansa," ujar Egha ketika ditemui VICE di Royal Ink Studio, Yogyakarta.

Berbekal misi tersebut, Prontaxan membawakan lagu-lagu remix dengan pakem funkot memakai bahan playlist indie kebanggaan kawula muda. Di kanal Youtube Prontaxan, lagu “Cinta Melulu” dari Efek Rumah Kaca, atau “Perempuan Dalam Pelukan” milik Payung Teduh—yang biasanya jadi anthem menikmati rindu, kopi, dan senja— jadi terdengar ngebut, penuh triplet bass kick dan sampling mencolok disana-sini.

Jangan dilawan, lemesin aja sob~

Keempat lelaki ini sempat malang melintang sebagai DJ kancah elektronik Yogyakarta. Tapi panggung resmi pertama mereka memakai bendera Prontaxan adalah Indonesian Netlabel Festival 2018 lalu.

Keempat personil Prontaxan ini punya kedekatan dengan musik funkot. "Sejak kecil paling sering denger funkot, enggak muter sendiri ya, tapi ada aja sopir angkot, tetangga, warung kopi, bahkan nikahan musiknya funkot," ujar Hahan.

Egha yang berasal dari pulau Sumatera—salah satu habitat subur persebaran musik funkot— merasakan hal serupa. "Jauh-jauh merantau ke Jawa, ketemunya funkot lagi. Padahal sebagai musisi saya inginnya dikenal dengan musik flamboyan dan berkelas lho," balasnya lalu terkekeh.

Prontaxan diambil dari nama kampung halaman Yahya, yaitu Desa Wates Prontaan di Magelang, Jawa Tengah. Lokasi desanya mepet terminal dan pasar membuatnya akrab mendengar funkot sejak kecil. "Desaku itu auto-funky lah."

Funkot—singkatan Funky kota—merupakan hasil penggabungan banyak genre lain yang merebak di diskotek kawasan Jakarta Barat awal 1990'an. Musik ini meraih popularitas karena cocok mengiringi hobi muda-mudi masa itu menenggak ekstasi.

1563906878326-PRONTAXAN-Foto-Profil-BG
Ini foto resmi Prontaxan untuk semua kepentingan rilisan pers.

Kedekatan bunyi beat funkot dengan aransemen proto-koplo di akhir Orde Baru membuat funkot dicap serupa dangdut, dan akhirnya jadi marjinal. Remix funkot juga seringkali asal menabrak hak cipta. Makanya mereka yang besar pada era 90'an terbiasa mendapati koleksi lagu funkot di kaset dan CD pinggir jalan.

Prontaxan jengah melihat masih langgengnya stereotipe musik pop atau rock dari kancah distribusi independen jadi simbol selera berkelas, bahkan intelek. Buat mereka, pendengar musik idealnya jujur pada diri sendiri. Toh funkot populer di negara ini berkat pola ritmik yang selaras dengan tradisi yang akarnya sudah bercokol bertahun-tahun di benua maritim ini.

"Semua boleh ngaku indie tapi kalau udah diketok kendang, habit animal-nya keluar. Udahlah, enggak usah ada cap-capan, musik itu dijogetin bareng-bareng aja," ujar Uji Hahan. Asumsi Prontaxan terbukti. Anak-anak tipikal indie yang datang ke gig mereka biasanya langsung menggila sambil sing along.

1563906562508-Webpnet-resizeimage-1
Karena kesibukan masing-masing personel, berkumpul jadi kemewahan tersendiri bagi Prontaxan.

Menikmati Prontaxan juga mencakup pengalaman audio-visual. Cuplikan video absurd yang dicomot dari akun komedi receh mewarnai unggahan remix mereka.

"Makanya scrolling TikTok dong," ujar Egha, ketika saya tanya dari mana mereka menggali stok video absurd sekian banyak. Dia menyambar ponsel, membuka aplikasi, lalu menunjukkan isinya. "Cuma di TikTok kita bisa nemu mas-mas Alfamart joged korea di gudang, atau orang lagi nyantet pacarnya, tapi favorit kami bapak-bapak joget sih. Tulus banget."

Ekspresi Warga Indie Vol. 1, unggahan remix pertama mereka, sukses membawa Prontaxan menjadi penampil utama pesta-pesta malam sekitaran Yogyakarta. Bahkan sudah ada persiapan mereka tur ke sembilan kota di Jawa. Di album itu, lagu Barasuara, Elephant Kind, Mondo Gascaro, hingga Rich Brian dirombak ulang, digeber hingga 180 bpm, lalu disisipi sampling andalan mereka yang berbunyi "R-R-R-R-R-R-R-REMUK BROOOO!!!"

Prontaxan mengaku ingin segera merilis album original tracks dan berkolaborasi bareng Barakatak, DJ Fuad Gasanov yang mereka sebut The Godfather of Funkot, serta Crazy Sandy. "Mereka ini [tokoh funkot] yang masih hidup, soalnya funkot heroes banyak yang mati duluan, kebanyakan energi," timpal Yahya mengingatkan prinsip anti-ekstasi yang mereka amini, meski salah satu tagline mereka berbunyi "Energi Mitsubishi".

Prontaxan juga kepengin punya karya sendiri. Sebab platform streaming tak memberi pemasukan untuk menyokong aktivitas kreatif mereka. "Kalau bukan official remix, monetizing yang dapet tetep artisnya," jelas Yahya.


Sekalipun Prontaxan kondang di kancah indie, mereka ingin menjangkau publik funkot yang sesungguhnya. Publik yang tak mengenal estetika kitsch yang mereka anut. Sejak tahun lalu, mereka aktif menyetorkan mixtape Ekpresi Warga Indie vol. 1 ke angkot-angkot dan wahana permainan Sekaten. "Tahun depan mungkin kami akan main live di sekaten," ujar Yahya.

1563907606801-Webpnet-resizeimage-2
Uji Hahan, anggota kolektif Prontaxan, selain DJ juga seorang seniman kontemporer.

Prontaxan juga berencana membuat Arisan Funky Academy di grup-grup Facebook komunitas funkot. Mereka ingin memfasilitasi residensi musisi funkot dari berbagai daerah yang tak punya akses mendistribusikan karyanya. "Mumpung Prontaxan laris kayak gini, kami ingin bareng-bareng ngajak musisi funkot," kata Uji Hahan. "Pokoknya yang tadinya dengerin funkot jadi ngerti musik indie, begitu juga sebaliknya."

Dalam balutan musik tung-tung yang riuh, pelbagai misi Prontaxan itu tak pernah terdengar tendensius. Kolektif ini mengimani betul kredo yang mereka rayakan: musik harusnya disikapi dalam bentuk paling jujur, yaitu dengan berdansa hingga remuk. Remuk badan sekaligus remuk eksklusivitasnya.

"Sebab Funkot itu unity," tutup Lana.