Gerakan Hijrah Indonesia

Tren Hapus Tato: Langkah Awal Pertobatan Para Narapidana

Kontributor VICE menyaksikan penghuni Lapas Porong, Jawa Timur, terlibat hijrah keagamaan yang sedang marak di Tanah Air.

oleh Muhammad Ishomuddin
28 Mei 2019, 5:17am

Semua foto oleh penulis.

Suasana deretan meja kayu di ruangan yang dindingnya bercat biru pudar itu segera mengingatkan kita pada suasana ruang kelas sekolah di Indonesia, penuh coret-coretan tipe-x di sana-sini. Coretannya beragam, mulai dari lafaz Allah dalam Bahasa Arab sampai nama klub sepakbola kebanggaan warga Jawa Timur yang jadi rival, yakni Persebaya Surabaya dan Arema Malang.

Sebenarnya ini memang ruang kelas, tapi lokasinya di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Porong, Sidoarjo. Sosok yang menduduki meja-meja itu juga bukan pelajar, melainkan puluhan narapidana.

Di dalam ruang kelas, para napi berniat melakukan pertobatan. Mereka menghapus tato yang pernah menghiasi tubuh. Penyelenggara kegiatan ini adalah kelompok keagamaan Go Hijrah, yang sudah tujuh kali datang ke Lapas Porong menawarkan jasa tatto removal.

Sejak pukul 08.00 pagi, ketika VICE berkesempatan menyambangi Lapas, puluhan napi antre masuk kelas, mengisi meja-meja yang kosong, dan bersabar menanti giliran dihapus tatonya. Tiga relawan Go Hijrah di salah satu meja mempersiapkan mesin laser penghapus tato seharga Rp35 juta. Ujung mesin itu mirip hairdryer, mengeluarkan sinar superpanas. Laser itu dapat memecahkan tinta di lapisan kulit. Lalu, satu per satu napi dipanggil untuk maju. Amir salah satu yang pertama dapat giliran hapus tato.

1558945078528-Tattoo-Removal-4-of-9

"Alhamdulillah, saya seneng banget kalau teman-teman Go Hijrah datang ke sini, saya bisa treatment lagi," kata Amir, sumringah. Pria 52 tahun asal Kendari, Sulawesi ini tidak pernah absen mengikuti program hapus tato dari lembaga nirlaba itu. Dia masuk bui karena terlibat pembajakan kapal dan diganjar hukuman 6 tahun penjara. Sudah lima kali Amir menerima penghapusan tato pakai laser. Rajah di lengannya sekarang berubah keabu-abuan. Motifnya tak terlihat sama sekali.

"Kalau Allah menghendaki masa tahanan saya selesai akhir tahun 2019 ini, bisa kembali berkumpul dengan keluarga di rumah dengan harapan tato di tangan dan dada saya ini bisa hilang," kata Amir. Selama kami ngobrol, Amir tenang sekali. Area bekas rajahnya kemerahan, tapi dia tak merasa kesakitan.

Berbeda dengan Amir, David selalu meringis menahan sakit saat sinar laser ditembakkan ke rajah yang tergambar di pundaknya. Sinar laser berbentuk titik merah itu ditorehkan mengikuti garis tatonya. Lelaki kelahiran Jombang ini rupanya baru pertama kali mengikuti program hapus tato.
"Panas banget," kata David saat VICE bertanya bagaimana rasanya melakoni tatto removal.

Rasa sakit tadi akan bertambah, jika rajah di perut David ikut dihapus. Di perut, gambar Kelabang yang cukup besar mendiami kulitnya. Pria 39 tahun ini mulai menato tubuhnya 18 tahun lalu. Setiap momen berharga dalam hidup selalu David curahkan lewat goresan tinta di tubuh.

"Dulu pas masih berandalan mana sempat mikirin akhirat, bodo amat saya mau ngapain juga," tutur David sambil menggenggam Al Quran untuk menemaninya menghadapi rasa sakit. Dia diganjar enam tahun penjara karena mengedarkan narkoba, dan baru menjalani separuh masa hukuman.

"Kadang kalau ada keluarga saya berkunjung ke Lapas, saya diwanti-wanti enggak boleh nambah tato, lah saya malah pengen hapus tatonya," ucap David sambil memamerkan tatonya yang sedikit memudar setelah ditembak laser panas selama 15 menit. Sejak tahun lalu, David menerima Tuhan. Dia memeluk Islam. Setelah memperdalam agama, David baru mengetahui bahwa punya tato haram hukumnya dalam Islam. Tekadnya bulat menghapus semua jejak rajah di tubuhnya.

1558945104215-Tattoo-Removal-9-of-9

Agar benar-benar maksimal, menurut relawan Go Hijrah, seseorang perlu menjalani penyinaran laser sekitar 7 hingga 10 kali.

Go Hijrah hanya satu dari belasan gerakan keagamaan yang cukup gigih di Indonesia menawarkan jasa penghapusan tato. Tren ini mulai mengemuka sejak enam tahun belakangan. Sasaran kegiatan mereka adalah narapidana, musisi, hingga anak jalanan. Syaratnya mudah: jika serius bertobat, tato bisa dihapus cuma-cuma. Kadang ada syarat tambahan, semisal menyetor hafalan surat di Al Quran, biasanya Ar-Rahman, sebagai simbol pertobatan.

Lembaga seperti Go Hijrah juga aktif jemput bola, berkat donatur dari seluruh Tanah Air. Mereka menerjunkan relawan, mobil hapus tato keliling, atau menggelar acara di kampung-kampung kumuh yang biasanya dianggap rawan kriminalitas.

Gerakan hijrah ini sangat marak di kota-kota besar, ditopang promosi selebritas. Dakwah mereka tidak lagi kaku, melainkan menekankan seputar gaya hidup. Aktivisnya tidak langsung melarang musik atau hobi macam konvoi motor. Mereka akan datang dan ikut beraktivitas bareng komunitas yang jadi sasaran, baru kemudian pelan-pelan mengajak orang mendalami agama. Hasilnya gerakan hijrah menggaet jutaan orang di seluruh Indonesia. Saking populernya, sampai ada Hijrah Fest digelar di Jakarta pada Mei 2019, dihadiri sekurang-kurangnya 20 ribu orang dengan tiket masuk tak murah, nyaris Rp100 ribu per orang. Sebagian akademisi dan pengamat Islam menuding maraknya gerakan ini hanyalah “komersialisasi hijrah.”

Ada aspirasi besar di kalangan Indonesia, terutama anak muda, untuk menjadi lebih konservatif, atau taat pada ajaran Islam. Hasrat itu, menurut peneliti sosial Abdul Hair, dikomodifikasi industri dalam negeri. Makanya, seiring dengan maraknya hijrah, ada penjualan produk perawatan tubuh dan kesehatan khusus muslim, busana muslim, dan banyak lagi lainnya.

"Relasi antara pelaku hijrah dan industri lebih tepat dilihat sebagai hubungan yang dialektis dan saling menguntungkan: ketaatan menjalankan syariat Islam menemukan perwujudannya dalam sistem perekonomian yang berorientasi pada industri," tulis Hair.

1558945145812-Tattoo-Removal-1-of-9

Tapi buat sebagian pegiatnya, ini bukan perkara bisnis. Gaung gerakan Hijrah yang ideologis terasa di Penjara Porong. Napi penghuni lapas ini bukan kelas menengah perkotaan. Mereka tak punya cukup uang untuk ikut seminar hijrah di ruangan ber-AC. Lebih dari 2.000 narapidana yang mendekam di Lapas Porong ini terlibat kasus hukum berat, mulai dari perdagangan narkoba, pembunuhan, hingga terorisme.

Kegiatan para napi bersama Go Hijrah tak sekadar untuk menghapus tato. Selama Ramadan 2019, napi muslim yang terlibat dalam Kelompok Pendidikan Sekolah Dasar (KPSD) Lapas Porong memakai ruang kelas yang tersedia menggelar kajian agama.

Ruis, salah satu pegiatnya, mengaku para napi serius mendalami agama. Termasuk membahas hukum Islam (fikih), teologi (akidah), hingga belajar memahami tafsir Al Quran. "Pendidikannya sudah lebih dari dasar," kata narapidana yang ditahan akibat kasus pembunuhan tersebut. Gerakan ini, pendek kata, adalah simbol Indonesia yang semakin konservatif saja. Konservatisme itu merasuk ke banyak aspek budaya pop, termasuk layanan hapus tato.

1558945177490-Tattoo-Removal-2-of-9

David, yang serius berhijrah, mengaku hapus tato hanya satu langkah kecil sebelum dia menjadi semakin agamis.

"Saya ingin berubah jadi muslim yang lebih baik," ujarnya sambil tersenyum, lalu kembali melanjutkan membaca Al Quran.