Iklan
Covering Climate Now

Overpopulasi Jadi Masalah Karena Terlalu Banyak Kaum Borjuis Superkaya di Planet Bumi

Menyebut overpopulasi sebagai pemicu perubahan iklim sama saja menyalahkan kelompok paling terpinggirkan. Padahal, selama ini lingkungan kita lebih sering dirusak orang-orang superkaya.

oleh Joe Sandler Clarke; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza, Dan Jade Poa
15 Agustus 2019, 11:53am

Ilustrasi peron kereta yang penuh sesak manusia. Foto oleh Robert Stainforth/Alamy Stock Photo.

"Semua orang perlu tahu perubahan iklim itu nyata," kata Pangeran Harry saat diwawancarai ahli etologi Dr Jane Goodall dalam wawancara majalah Vogue Inggris. "Dampaknya sudah mulai terasa, tetapi kebanyakan orang belum menyadarinya. Ini sangat menakutkan."

Setelah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan planet, Pangeran Harry mengatakan dia dan Meghan Markle hanya akan "punya dua anak".

Mengurungkan niat berkeluarga karena krisis lingkungan bukanlah hal baru, tetapi banyak yang mulai mempertimbangkan gagasan ini setelah skala kerusakannya berubah serius.

Ada kesepakatan ilmiah bahwa hidup generasi penerus tak akan semudah generasi terdahulu. Sumber daya alam menjadi semakin langka, sedangkan bencana alam dan kondisi cuaca ekstrem akan lebih sering terjadi.

Pertanyaannya kini adalah, masih bolehkah kita punya anak?

Saking banyaknya pengguna Reddit yang mendiskusikan pertanyaan ini, sampai-sampai ada sebuah utas khusus “antinatalisme”—sebuah cabang filsafat yang memandang kelahiran sebagai hal negatif—di situs web tersebut. Subreddit ini memiliki lebih dari 34.000 anggota. Postingan teratas saat ini berjudul: “Saya paling kesal saat orang tua mulai menyerang dengan ucapan mereka ‘sudah berkorban banyak’ buat anaknya.”

Alasan kita sebaiknya tidak punya anak sejalan dengan konsep Bumi sudah kelebihan manusia.

Topik ‘overpopulasi’ adalah santapan sehari-hari wartawan lingkungan. Orang-orang pasti akan menanyakan soal ini, baik pada acara seminar maupun kolom komentar. Juru berita Vox David Roberts sampai menulis esai mengapa dia tidak pernah membahasnya karena jengkel dengan argumen kelebihan populasi.

Overpopulasi adalah konsep yang cukup sederhana. Manusia menyebabkan perubahan iklim dengan menghasilkan gas rumah kaca. Semakin sedikit manusia, maka semakin berkurang juga pelepasannya. Selain itu, Bumi diyakini hanya bisa menampung sejumlah besar orang. Penelitian terbitan 1990 menjelaskan jumlah populasi manusia optimal guna mempertahankan keberlangsungan ekosistem yaitu sekitar 1,5 sampai 2 miliar orang. Saat ini, Bumi dihuni lebih dari 7,5 miliar orang. PBB memperkirakan jumlahnya akan meningkat jadi 9,7 miliar pada 2050.

Dalam sebuah wawancara dengan the Telegraph pada 2013, Sir David Attenborough mengatakan “Apa kelaparan yang terjadi di Ethiopia? Itu tentang apa? Ada terlalu banyak orang tinggal yang di tanah terbatas. Dan kita membutakan diri sendiri. Kita mengatakan: suruh PBB kirim karung tepung ke Ethiopia. Itu gila.”

Apa sih, maksudnya David? Sebenarnya, David dan orang yang sering mengomentari artikel-artikel seperti yang ini melupakan satu fakta penting: Ada orang yang mengkonsumsi banyak, ada juga yang tidak.

Contohnya, kalau kamu orang kaya yang tinggal di Menteng dan menikmati steak yang diterbangkan dari Brazil dan naik business class ke Hong Kong setiap bulan, jejak karbonmu dijamin melebihi jejak karbon seorang petani di pelosokan Jawa.

Angka kelahiran memang lebih tinggi di negara-negara miskin, sementara angka kelahiran di negara berkembang sedang menurun. Fakta tersebut seharusnya membuat kita berpikir dua kali ketika kita mendengar orang membahas isu kelebihan populasi. PBB memperkirakan separuh kenaikan populasi global pada 2100 akan disebabkan pertumbuhan populasi di hanya sembilan negara, termasuk India, Kongo, dan Nigeria, dan Amerika Serikat.

Perubahan iklim adalah krisis terbesar zaman sekarang. Isu ini akan membentuk abad ke-21 sama seperti Perang Dunia Kedua membentuk abad ke-20.

Kita sudah melihat cara argumen overpopulasi mendukung naiknya eko-fasisme – ideologi penuh kekerasan yang sebagian menginspirasikan serangan El Paso. Seperti segala isu geopolitik, orang terpinggirkan dan kurang mampu akan disalahkan untuk efek perubahan iklim. Ide tersebut keliru dan sangat membahayakan.

Kelaparan tidak disebabkan kekurangan lahan pertanian, melainkan ketidaksetaraan distribusi sumber daya dunia.

Kita harus berubah untuk mengatasi perubahan iklim. Yang akan menghentikan krisis ini adalah mengubah cara kita menggunakan sumber daya alam, bukan siapa yang menggunakan sumber daya tersebut. Laporan baru oleh Panel Antar-Pemerintah Tentang Perubahan Iklim memperingati kita bahwa penentuan fungsi tanah dunia sedang mengancam kehidupan manusia. Para ilmuwan mengungkap 72 persen permukaan bumi bebas es digunakan untuk menyediakan makanan dan pakaian manusia, namun sebagian besar populasi dunia tidak dapat mengakses kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Alih-alih menggunakan jumlah besar lahan untuk menumbuhkan makanan untuk hewan ternak, kita bisa mengurangi konsumsi daging dan memanfaatkan lahan tersebut untuk menghasilkan makanan untuk manusia. Daripada naik pesawat, naiklah kereta dan transportasi umum yang mengemisi lebih sedikit karbon.

Kalau dunia memang sedang menghadapi masalah overpopulasi, sebabnya adalah kelebihan jumlah orang kaya yang terlalu banyak konsumsi.


Follow penulis ini di akun @JSandlerClarke

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.
Tagged:
penelitian
Perubahan Iklim
Lingkungan
Kepadatan Penduduk
Ketimpangan Ekonomi
Overpopulasi
kaum borjuis