Cuplikan adegan dari 'Perfect Blue'. Sumber foto GKIDS

Mari Mengenang Salah Satu Film Paling 'Gila' Dalam Sejarah Anime

Karya debut Satoshi Kon pada 1997 'Perfect Blue' termasuk titik puncak kesempurnaan industri animasi Jepang. Bahkan, topik yang diangkat masih relevan sama era medsos seperti sekarang.

|
Sep 14 2018, 10:37pagi

Cuplikan adegan dari 'Perfect Blue'. Sumber foto GKIDS

Kita sekarang hidup di era banyak orang terobsesi sama sosok selebriti. Zaman sekarang orang bisa membuat memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dengan cara mengorbankan kehidupan pribadi sebagai konten sosmed, dibanding menyumbang sesuatu yang bernilai ke masyarakat.

Krisis kesehatan mental sering terjadi sekarang dalam kehidupan seseorang, dan drama kehidupan orang terkenal sudah menjadi bahan tontonan biasa. Sebagai manusia, kita mempunyai kebiasaan ingin bersentuhan dengan orang-orang yang "spesial" dan berbakat—semua orang ingin menonton seseorang yang percaya dengan dirinya sendiri, atau sedikitnya bisa meyakinkan kita mereka benar pede.

Cuplikan adegan dari 'Perfect Blue' (1997). Sumber foto GKIDS.

Dari sudut mata Mima, terlihat seorang pria aneh di antara penontoa yang mengulurkan telapak tangannya terbalik ke arah badan Mima yang menari. Dari sudut pandang pria itu, seakan dengan sulap, Mima berdiri di genggamannya.

Pengawas Mima, Rumi, pernah juga menjadi idola ketika dia lebih muda, dan bertekad untuk menggembalakan anak didiknya dalam transisi ke layar lebar. Tetapi Rumi pun terus mengingatkan Mima bahwa dia awalnya pindah ke Tokyo karena ingin bernyanyi. Mima terus mengambil bagian-bagian kecil di drama TV, mengulang kalimat perdananya dengan gugup sebelum roll film bergulir.

"Siapakah engkau?" adalah kalimat yang terus diulangnya, suatu pertanyaan yang seakan ditujukan ke dirinya sendiri.

Mima kira hidupnya bisa diubah dengan gampang, seperti menukar baju lama buat busana baru, tetapi pekerjaan barunya sebagai aktris tidak bisa mempengaruhi persepsi makhluk-makhluk di sekitarnya. Mereka hanya bisa melihat Mima dalam peran sebelumnya; seorang idola belaka. Ini adalah karir keduanya, dan tebu habis manis sepah dibuang. Walaupun dia belum cukup tua untuk dianggap “vintage,” penulis cerita memutuskan untuk memperlakukannya seperti barang loakan demi hiburan mereka, dan menulis adegan pemerkosaan hanya untuknya.

Kemudian pria aneh yang sebelumnya hadir di konser Mima terus muncul di syuting filmnya, dan serangkaian peristiwa ganjil berlangsung.

Sumber cuplikan adegan GKIDS.

Surat penggemar yang ditujukan kepadanya ternyata merupakan bom rakitan. Rumi kemudian juga menunjukkan sebuah situs buatan orang lain berwujud buku harian, lengkap dengan catatan dari sudut pandang Mima yang menyatakan kemauan dan motivasi yang bertentangan dengan pernyataannya di dunia nyata. Dia mulai berkhayal dan melihat hantu dirinya memakai kostum CHAM! di masa lalu, sementara bukti menunjuk ke kesimpulan yang mengerikan mulai muncul: Mima memiliki seorang penguntit.

Tetapi Satoshi Kon justru membuat penonton ragu dengan kesimpulan Mima. Penulis cerita yang memberinya peran sebagai penari telanjang yang diperkosa rame-rame mendadak ditabrak mati, matanya dicungkil, dan kemudian fotografer yang membujuknya untuk foto telanjang jatuh mati akibat ditikam.

Sebuah kantong penuh pakaian berdarah muncul di lemarinya di pagi hari itu, dan meskipun semua bukti menunjuk ke arah Mima, alur cerita tetap menimbulkan keraguan tentang kenyataan cerita di hampir setiap belokan. Sang penguntit mungkin saja bagian dari imajinasinya, tetapi apakah rasa takut akan kegagalan dan ketidakamanan yang menghancurkan kewarasannya?

Perfect Blue adalah sebuah eksplorasi konsep kewarasan manusia. Satoshi Kon mempersembahkan kontras tajam di antara gagasan Mima tentang kehidupannya sendiri dengan kisah tokoh “Mima” yang diperankan untuk penontonnya. Ketika dinding yang memisahkan dua dunia itu roboh, para penonton tidak bisa lagi membedakan khayalan Mima dengan dunia nyata. Situs catatan harian yang ditulis oleh sang penguntit, dijuluki Me-Mania, juga sepertinya lebih akrab dengan kisah hidup Mima dibanding dirinya sendiri.

Sumber cuplikan adegan GKIDS.

Di akhir cerita ada plot twist mendadak yang seolah-olah bertujuan untuk memecahkan teka-teki kejahatan yang disasarkan kepadanya, tetapi pada saat itu Satoshi Kon sudah cukup memperkeruh kepercayaan pemirsa tentang objektivitas realitas Mima. Apakah tujuan Perfect Blue untuk memecahkan sebuah misteri? Atau mungkin saja untuk menggambarkan kemustahilan perbedaan di antara jati diri seseorang dan sosok diri yang dijual ke penonton kesepian?

Pada zaman media sosial seperti sekarang, semua orang juga mempunyai pengikut dan sosok avatar online. Kehidupan pribadi kamu bisa saja distream online dan ditonton oleh siapapun, oleh orang biasa ataupun penguntit psikopat ala Mima. Dalam zaman yang terobsesi dengan kehidupan selebriti ini, Perfect Blue memberi kita sebuah peringatan bahwa bintang-bintang yang kita tonton juga, seperti kita, bersinar dalam ruang hampa yang hitam.

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE Magazine

More VICE
VICE Channels