Iklan
Tsunami Palu

Saksi Sebut Tsunami Palu Timbulkan Banyak Korban Jiwa, Akses dan Komunikasi Masih Terputus

Pendataan sulit dilakukan sesudah gempa dan tsunami melanda ibu kota Sulteng, Donggala, dan Mamuju. Sejauh ini 80 orang tewas. Potensi aktivitas sesar Palu Koro sudah diperingatkan peneliti sejak Juli lalu.

oleh VICE Staff
29 September 2018, 12:22am

Bangunan mal di Palu roboh sesudah gempa, tak berapa lama kemudian terjadi tsunami. Foto oleh BNPB/Antara Foto/via Reuters.

Hingga Sabtu (29/9) pagi, pemerintah menyatakan akses komunikasi di Kota Palu dan Donggala masih terputus akibat jaringan listrik padam. Akibatnya, pendataan korban dan upaya evakuasi terhambat. Tim evakuasi yang dijadwalkan berangkat dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma turut menghadapi kendala potensi landasan pacu yang retak di Palu yang menandakan akses masuk lewat udara tak sepenuhnya aman. "Dari 2.500 meter panjang landasan pacu, 500 meter rusak karena gempa," kata Menkopolhukam Wiranto dalam jumpa pers di Jakarta dini hari tadi. Pengiriman bantuan dilakukan dengan Pesawat Hercules, dikoordinasikan TNI bersama Kementerian Sosial.

Data korban yang sudah masuk saat ini adalah 80 orang tewas. Itu baru dari laporan RSUD Undata Mamboro. Sedangkan Badan Nasional Penangulangan bencana (BNPB) mencatat 48 tewas, 356 luka. Jumlah korban sangat mungkin meningkat hingga ratusan orang, setelah tim SAR mulai menemukan banyak korban tewas di Pantai Talise sepanjang Sabtu pagi hingga siang. Perkiraan tersebut belum termasuk potensi korban tewas dari gedung yang runtuh, termasuk salah satu hotel besar di Palu.

Saksi mata menyatakan tsunami yang menghantam kawasan Pesisir Palu, Donggala, dan Mamuju pada Jumat (28/9) sore setelah gempa besar, menimbulkan banyak korban jiwa. Nining (32 tahun), adalah warga selamat yang mendatangi kawasan sekitar Pantai Talise, Palu, kemarin malam. Saat diwawancarai Kompas.com, dia melihat jasad terserak di antara puing-puing bekas terjangan tsunami. "Banyak mayat berserakan di pantai," ujarnya. Beberapa bangunan pemerintah setempat, seperti Gedung DPRD Kota Palu, menjadi tempat pengungsian sementara.

Wiranto meminta publik bersabar mengenai pendataan korban, lantaran berbagai otoritas terkait terfokus dulu memastikan bantuan terkirim dan memulihkan jaringan komunikasi. "Kita juga ingin segera mengetahui jumlah korban, butuh komunikasi tapi kan jangkauan daerah cukup luas," ujarnya.

Dihubungi terpisah semalam, Kepala Stasiun Geofisika Kota Palu, Cahyo Nugroho, menyatakan evakuasi masih belum bisa dilakukan beberapa jam setelah tsunami dan gempa. "Belum ada yang jalan keluar. Komunikasi pun terputus akibat gempa. Efek tsunami sementara ini berdasarkan hasil observasi kami itu ada sebuah kapal yang melintang di tengah jalan," ujarnya.

Warga Palu masih sempat mengirim beberapa rekaman video kepada kerabat di luar wilayah mereka sesudah terjadi gempa 7,4 skala magnitudo (sebelumnya ditulis 7,7) pukul 18.02 WITA. Adapun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan yang terputus total adalah komunikasi dengan kawasan Donggala. Tim pemerintah setempat kesulitan mengakses jalur darat menuju Donggala. "Di sana diinformasikan bandara (Donggala) towernya roboh," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers.

Berdasarkan rekaman video amatir di Palu, nampak berbagai titik jalan raya retak. Jembatan Empat, maskot Ibu Kota Sulawesi Tengah, ambruk akibat getaran lindu. Sebuah kapal penangkap ikan terseret hingga memasuki kawasan pesisir kota. Air bah juga merangsek dan merobohkan beberapa pilar Masjid Baiturrahman di dekat Pantai Talise. Selain itu, gedung mal tertua di Palu mengalami kerusakan parah akibat goncangan gempa. Hingga artikel ini dilansir, BMKG masih mencatat puluhan gempa susulan dengan skala lebih rendah dibanding yang terjadi kemarin sore.

"Kalau gempanya sendiri tadi goyangnya sekitar hampir satu menit," kata Mohammad Fajar, korban selamat dari Palu yang berhasil dihubungi BBC Indonesia. Kepala Pusat Seismologi Teknik BMKG Bambang Setiyo Prayitno meminta masyarakat setempat terus waspada. Berdasarkan pengalaman di Lombok, potensi munculnya lindu susulan masih terbuka. "Dengan gempa yang cukup besar ini kemungkinannya bisa sampai dua minggu ke depan akan terjadi gempa-gempa susulan," kata Bambang.

BMKG dan BNPB sudah membenarkan akurasi rekaman tsunami yang melanda kawasan Talise Palu. Berdasarkan keterangan gabungan dua lembaga tersebut, ombak paling rendah setinggi dua meter. Gempa pertama kali terjadi pada pukul 15.00 WITA, berkekuatan 5,9 skala magnitudo, terjadi di kedalaman 10 kilometer. Namun kemudian pada pukul 17.02 WITA, gempa lebih kuat dari sumber berbeda tepatnya pada 27 kilometer timur laut Donggala, memicu peringatan tsunami. BMKG memperkirakan tidak ada lagi potensi tsunami setelah ini. Gempa berjenis tektonik di Sulawesi Tengah dipicu oleh gesekan lempeng Sesar Palu Koro di dasar Laut Sulawesi. Gempa di Sulawesi Tengah ini jauh lebih kuat dibandingkan bencana serupa di Lombok tiga bulan lalu.

Sesar Palu Koro sudah pernah memicu bencana alam sebelumnya. Berdasarkan catatan peneliti yang mendatangi sesar tersebut pada Juli tahun ini, pernah terjadi gempa tahun 1907 akibat aktivitas lempeng bumi yang membentang dari kawasan Palu hingga Teluk Bone. Pada insiden itu, terjadi tsunami dengan skala cukup besar dengan korban sekitar 250 orang meninggal. Ketua Tim Ekspedisi Palu Koro Trinurmalaningrum pada jumpa pers Juli lalu sudah memberi peringatan bahaya terulangnya gempa dan ancaman tsunami.

"Sebenarnya (siklus bencana sesar Palu Koro) itu 100 tahun. Dan ini seratus tahun sudah lewat. Peristiwa yang tercatat terakhir tahun 1907. Sekarang ini masa rawan, ini yang dikhawatirkan."

*Artikel ini disarikan dari peristiwa yang masih berlangsung. Pemutakhiran data, termasuk soal korban tewas, terakhir kali dilakukan pada pukul 13.20 WIB.