Eksperimen Sosial

Usai Berlatih Lempar Pisau, Kami Makin Yakin Pak Eko Punya Kekuatan Super

Pak Eko adalah polisi inspiratif yang mendorongku mewujudkan impian jadi ninja. Jadi melempar pisau (bahkan benda lain) tepat mengenai sasaran itu susah atau gampang? Artikel ini berusaha menjawabnya.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
12 September 2018, 8:18am

Semua foto oleh Dicho Rivan

Jika bagi kalian Pak Eko adalah inspirasi menuju hidup yang lebih hepi karena aksinya yang dianggap menghibur dan membebaskan, maka buatku Pak Eko adalah inspirasi menuju hidup yang lebih sakti. Sakti mandraguna!

Iya belum lama ini beredar viral video seorang polisi sakti yang sanggup melempar dan menancapkan benda apapun ke sasaran. A-PA-PUN mulai dari pisau, obeng, sendok, sampai cangkul. Besok-besok mungkin Pak Eko akan melempar sepeda Jokowi, kapak Wiro Sableng sampai mesin fotocopy... mungkin aja toh siapa yang tahu!

Tiap kali Ia berhasil menancapkan barang-barang tersebut ke sasaran, maka akan ada anak-anak sebagai pemandu sorak berteriak "Mashook Pak Eko!" Tak heran sosok Ajun Komisaris Polisi Eko Hari Cahyono menjadi aparat polisi yang ke sekian kalinya menjadi sensasi media sosial.

Sudah setahun ini aku menyimpan sementara mimpiku masa kecilku menjadi seorang ninja sakti, impianku aku simpan dalam-dalam. Namun kehadiran Pak Eko menyadarkanku untuk kembali mewujudkan mimpiku sebagai ninja sakti yang bisa melempar piau dengan presisi. Buatku, Pak Eko adalah sosok yang memenuhi kriteria seorang ninja. Lihat saja tingkat presisinya dalam melempar barang-barang itu.

Pak Eko pun tidak segan-segan mengakui kegagalannya dalam aksi lempar. Ia bilang, "semua ada proses yang penting happy." Satu lagi hal yang membuatnya bahan sebagai seorang ninja: Pak Eko disukai anak-anak! Ninja banget bukan?

Nah, gara-gara Pak Eko aku jadi kepikiran lagi untuk menghubungi kawanku, Hendry Jay yang sebetulnya sudah jauh lebih lama mengajakku latihan lempar pisau, dari sebelum Pak Eko viral! Iya aku memang suka sekali olahraga sasaran, dan ternyata lempar pisau ini adalah olahraga yang sudah diakui keberadaannya, di Indonesia dan di dunia. Jadi sewaktu Hendry dan aku setuju akan main lempar pisau, Ia janji padaku mau membocorkan teknik Pak Eko. Aku makin senang.

Akhirnya aku dan Hendry janjian untuk latihan bareng komunitas lempar pisau dan kapaknya di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Datang-datang aku langsung disambut Hendry yang sedang mengasah pisau di pinggiran arena sambil senyum sedikit padaku. Adegan itu lumayan bikin aku terkejut juga lantaran sedikit mirip adegan film thriller bikinan hollywood.

"Sebentar ya lagi diasah dulu pisaunya sama sasarannya lagi dicat dulu biar sesuai ukuran," kata Hendry sambil menggosok-gosok pisaunya.

Hendry menjelaskan bahwa komunitas ini bermula dari sekumpulan anak-anak Seni Rupa Institut Teknologi Bandung tahun 1980-an. Saat itu mereka sering melakukan kegiatan lain di luar akademik, salah satunya dengan membuat komunitas bernama D’Lempar Pisau. Namun, komunitasnya baru berjalan serius sekitar tahun 2010. Pada tahun yang sama, mereka mulai mencari tahu organisasi internasional dan peraturan resmi lempar pisau internasional.

Ternyata hampir semua negara di Eropa dan Amerika Utara punya aturan pertandingan lempar pisau yang serius. Pada akhir 2017 lalu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) mengakui lempar pisau dan kapak sebagai olahraga, dengan Federasi Olahraga Lempar Pisau dan Kapak Indonesia (Forlempika) sebagai organisasi resminya.

Sambil menunggu Hendry menyiapkan pisau-pisaunya, aku berkeliling arena sambil melihat-lihat sasaran kayu yang akan digunakan. Ternyata kayu yang digunakan dalam olahraga betulannya bertekstur keras dan berukuran lebih kecil. Lain dengan sasaran kayu Pak Eko yang dari videonya terlihat menggunakan batang kayu palm yang lebih empuk dan memanjang ke bawah. Ada tiga target dalam satu permainan lempar pisau. Ketiga sasaran itu dipasang dalam bentuk V. Sasaran yang paling kanan dan kiri dipasang setinggi 152 cm dari tanah, dan sasaran yang di tengah dipasang lebih rendah, 127 cm dari tanah.

Tiap targetnya pun punya ukuran diameter yang saklek, minimal 50 cm dengan penanda skor berupa gambar oktagon-oktagon dengan susunan terpusat. Oktagon paling pusat (bullseye) berukuran 10 cm bernilai 5 poin, oktagon kedua pun sama tersusun di luar oktagon bullseye bernilai 4 poin dan seterusnya hingga oktagon kelima yang dengan nilai 1 poin. Ini bikin tantanganku bakal lebih susah nih dibandingkan Pak Eko.

Hendry ternyata sudah selesai dengan urusan mengasah pisaunya, sekarang giliran aku yang diperkenalkan Hendry dengan jenis-jenis pisau dan teknik-tekniknya yang bisa digunakan. Ada tiga teknik umum yang masing-masing punya jenis pisaunya sendiri-sendiri dalam lempar pisau. Pertama full spin, di mana pisau berputar penuh saat dilempar. Teknik kedua berjuluk half spin, yakni teknik saat pisau yang dilempar hanya berputar setengah putaran saat sudah dekat dengan sasaran dalam jarak berapapun yang biasanya dipakai oleh militer karena lantaran sasaran yang dikenai akan lebih pasti. Terakhir no spin: pisau dilempar lurus tanpa putaran dalam jarak berapapun hingga mengenai sasaran.

Hendry bilang, buat pemula seperti aku sebaiknya menggunakan pisau dan teknik full spin, itu adalah cara paling umum yang digunakan termasuk oleh Pak Eko. Berarti, Hendry akan segera mengajarkanku teknik yang persis dilakukan Pak Eko!

Pisau yang digunakan dalam teknik full spin ini biasanya terbuat dari baja yang beratnya minimal 200 gram dengan panjang minimal 30,5 cm. Pisau jenis full spin biasanya berukuran simetris antara panjang plat tajam dan pegangannya. Sebelum aku diajak ke arena, Hendry membocorkan bahwa strategi teknik full spin sebetulnya bisa dirancang secara matematis.

"Full spin itu pisaunya akan berputar, nah cara lemparnya itu misalnya dimulai dari 2 meter. Setiap jarak meternya genap, pegang plate tajamnya, kalau ganjil pegang handlenya," kata Hendry padaku.

Untuk memastikan ujung yang pas menancap, hitungannya bisa dilakukan dengan mempertimbangkan panjang pisau atau benda yang dilempar dan jarak si pelempar dengan target. Jika dengan pisau sepanjang 30,5 cm pisau berputar setengah atau 180 derajat dimulai dari jarak 2 meter dari sasaran, dan seterusnya putaran bertambah 180 derajat jika jarak sasaran ditambah 1 meter ini artinya untuk mendapatkan posisi tancap yang presisi sebetulnya bisa saja diprediksi.

Aku langsung teringat, 'oh mungkin ini penyebabnya kenapa pacul Pak Eko yang nancap itu gagang kayunya, bukan besi paculnya'. Penyebabnya adalah jarak Pak Eko berdiri dari sasaran. Pak Eko semestinya memegang sisi yang lain di awal lemparan. Haish sotoy beud dah gue, padahal latihan juga belum. Tapi siapa yang peduli toh sisi manapun yang dipegang Pak Eko, tetap saja... mashook Pak Eko!

Setelah diberi pengarahan, Hendry meminta aku mencoba. Sebelum mencoba aku deg-degan juga, lantaran bukan tidak mungkin jika pisau yang aku lempar tidak menancap, dan balik lagi ke arahku bukan? "Tenang saja, pasti nanti kamu refleks sendiri kok menghindar, lagian kalau pisaunya balik lagi powernya udah enggak ada jadi pasti aman," ujar Hendry mencoba menenangkan.

"Sekarang kita di jarak 2 meter, berarti kamu pegang blade-nya. Pegangnya jangan terlalu ke tengah, jangan terlalu ke ujung. Pas banget di sini kayak salaman dengan blade pisau," urai Hendry sambil turut memperagakan. "Kalau melempar pakai tangan kanan, berarti kaki kiri di depan untuk kuda-kuda supaya memudahkan lemparan dan menambah energi."

Seperti yang sudah dijelaskan, aku menggenggam ujung blade pisau dengan posisi seperti bersalaman di tangan kanan. Aku mengayun tangan kananku ke belakang sambil posisi kaki melakukan kuda-kuda sebagai tumpuan kekuatan. Saat tangan kananku berayun ke depan dengan posisi lurus ke sasaran, aku harus segera melepas pisau tersebut dengan tenaga dari kuda-kuda. Saat hendak melempar, di kepalaku muncul wajah Pak Eko yang tersenyum dengan rokok yang terselip di giginya. Wah... Pak Eko memberiku semangat, aku harus bisa!


Tonton dokumenter VICE saat ikut latihan panah dan berkuda di Daarut Tauhid Bandung:


"Takkk!" pisauku mental gagal menancap, Ia mental terkena sasaran kayu yang keras. Kalau kata Henry aku kurang tenaga. Baiklah, kali ini aku mencoba lagi berkonsentrasi. Dengan tenaga yang pas dan tangan yang lurus, aku harus melesatkan pisau itu tepat pada saat tanganku lurus menghadap sasaran. Jangan terlalu cepat nanti dia akan mendarat di atas sasaran, dan jangan terlalu lambat karena akan mendarat di bawah sasaran.

Percobaan kedua, aku lesatkan pisauku di depan sasaran... dan tiba-tiba semua anggota komunitas yang hadir saat itu mendadak berteriak, "Mashook Pak Eko!"

Pisauku menancap di percobaan kedua. Aku dapat poin 4, nyaris bullseye. Aku senang bukan kepalang. Pelan-pelan aku bisa mengikuti jejak Pak Eko, inspirasi ninjaku!

Sayangnya, entah karena terlalu senang, atau terlalu jumawa percobaan berikutnya menjadi tidak konsisten. Kadang nancap, kadang mental. Paling banter pisauku menancap dua kali berturut-turut tapi tidak pernah lebih dari itu. Kadang kena sasaran kadang tidak. Ah pokoknya tidak konsisten. Ternyata memang sulit juga.

"Kalau tidak konsisten, itu berarti gerakannya berubah. Kuncinya supaya bisa nancap terus, ya latihan dan menemukan titik mana yang sebelumnya nancap. Mengulang gerakannya, cara mengatur mindset, dan pegangannya mesti betul-betul bisa diulang," ujar Hendry.

Akhirnya sebelum pulang aku meminta evaluasi dari Hendry. Kalau menurut Hendry masalah utamaku justru pada saat melepaskan pisau. Sebetulnya sudah nancap, cuma nggak kena target. Jadi tadi tuh tangannya kurang lurus aja ke target.

"Kamu tadi ngelepasnya pas tangan masih di atas, enggak lurus. Sama tadi ada juga yang kerendahan, berarti lepasnya kelamaan. Jadi ada tuh di antara kecepatan dan kelamaan pas di tengah. Nah mencari titik tengah itu," kata Hendry.

Baiklah, kesimpulannya menjadi Pak Eko ternyata sulit yah. Konsisten dan presisi bisa melempar apapun ke sasaran ternyata bukan cuma lucu-lucuan. Apalagi seperti Pak Eko yang bisa melempar apapun ke sasaran dan tahu persis di mana Ia harus berdiri. Itu udah kayak kekuatan super sih.

Ya meskipun aku belum hebat seperti teman-teman komunitas Lempar Pisau, bahkan belum ada seupil-upilnya Pak Eko, setidaknya aku tahu bahwa aku masih punya bakat lempar pisau ke sasaran. Mungkin aku harus langsung berlatih lebih keras sampai tiba saatnya aku bisa bertanding satu lawan satu dengan Pak Eko.

Nganu lho Ndan...


"That Was Easy" adalah seri artikel di VICE. Penulis kami akan mencoba skill-skill baru yang sulit dan tak biasa dipelajari orang. Kalian punya ide tim kami harus belajar apalagi? mention saja Twitter kami jangan lupa beri tagar "#thatwaseasy."

Arzia Wargadiredja adalah staff writer VICE Indonesia yang masih ngotot kelak dapat mewujudkan cita-cita menjadi ninja. Follow dia di Twitter, atau baca seri liputannya di tautan berikut.