Iklan
Memahami Penyakit

Penyebab Virus Membunuh Lebih Banyak Laki-laki Daripada Perempuan

Penelitian terbaru menunjukkan virus ternyata pilih-pilih korban. Kalau kalian lelaki, sayangnya, virus lebih suka menyerang. Kesimpulan ini amat baru buat para peneliti.

oleh Denny Watkins
16 Oktober 2018, 9:31am

Sumber: WAVE/Stocksy 

Ternyata lelaki lebih rentan terhadap penyakit-penyakit tertentu dibandingkan perempuan. Patogen yang menyebabkan tuberkulosis, kanker tenggorokan (yakni virus HPV), dan Hodgkin’s Lymphoma (Epstein-Barr Virus) dampaknya lebih mematikan bagi lelaki. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini disebabkan bukan karena pria memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah, tetapi karena virus memang ternyata bersikap lebih ‘lunak’ terhadap tubuh perempuan.

Dalam sebuah model penularan virus matematis, peneliti Francisco Ubeda dan Vincent Jansen dari Universitas Royal Holloway di London meningkatkan virulensi sebuah patogen untuk lelaki sembari merendahkan virulensi patogen untuk wanita. Hasil penyelidikan mereka menjelaskan mengapa ada kasus laki-laki di Jepang 350 persen lebih besar peluangnya tertular leukemia yang disebabkan virus, dibandingkan perempuan. Temuan ini sekaligus menjelaskan mengapa virus yang sama tidak mendiskriminasi antara pria dan wanita di kawasan Karibia.

Ternyata, ibu-ibu di Jepang cenderung menyusui bayi mereka lebih lama dibandingkan ibu-ibu di Karibia. Perilaku ini memberi peluang pada virus untuk menular dari ibu ke anak. Peneliti percaya dalam beberapa tahun lagi, virus ini akan berevolusi hingga tidak lagi terlalu berbahaya bagi wanita dibandingkan dulu, sehingga virus tersebut bisa menetap di badan wanita lebih lama dan menularkan korban lain. Tugas sebuah virus bukan untuk mematikanmu—melainkan untuk berkembang biak sebanyak mungkin.

Para peneliti ini juga menegaskan bahwa temuan mereka mempertanyakan apa yang kami tahu tentang perbedaan jenis kelamin dalam reaksi sistem kekebalan. Sampai sekarang, para peneliti percaya bahwa virus tertentu lebih berbahaya bagi pria karena hormon seks pria menghalangi sistem kekebalan (Sedangkan kalangan non-ilmuwan percaya lelaki pada umumnya tidak bisa menanggung gejala virus). Penulis penelitian ini menyatakan jika sistem kekebalan pria memang diganggu hormon seks, reaksi sistem kekebalan hanya akan terlihat setelah gelombang hormon pada masa pubertas. Asumsi tersebut ternyata tidak terbukti secara ilmiah.

Meskipun model matematis ini rupanya berhasil menjelaskan fenomena virus, para peneliti masih harus menyelidiki bagaimana sebuah virus bisa membedakan tubuh pria dengan tubuh wanita, dan bagaimana virus tersebut berhasil mempengaruhi pria lebih kejam dibandingkan wanita. Mungkin kamu ingat dari kelas biologi di SMA; virus itu hanya terdiri dari sebuah helai DNA atau RNA, hampir tidak bisa dianggap sebagai makhluk hidup, dan tidak mempunyai kemampuan untuk membuat keputusan.

Berdasarkan penelitian ini, ada kemungkinan untuk perkembangan pengobatan yang dapat menipu virus untuk memperlakukan tubuh pria seakan-akan tubuh wanita. "Ada kemungkinan kami bisa menukar fenotip untuk virulens wanita dalam patogen yang lebih membahayakan pria, sehingga kebahayaan virus tersebut pada pria menurun," ujar peneliti laporan ini. Menipu virus mengenai jenis kelamin penderita penyakit dapat memberi pria kesempatan untuk melawan infeksi mematikan dengan lebih efektif.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic