Kami Keluyuran Malam-Malam Mengunjungi Tempat-Tempat Terbengkalai di Bali

Pulau Dewata tidak hanya berisi lokasi wisata dipadati peselancar, turis berjemur, ataupun dedek-dedek hipster. Tempat terbengkalai pun punya keindahan, hingga suasana seram, yang khas.

|
21 Desember 2016, 11:57siang

Bali sangat indah. Tak ada orang yang berani menyangkal pernyataan ini. Karena keindahannya yang tak terbantahkan, Bali adalah magnet penarik turis asing berkunjung ke Indonesia—surga bagi para turis yang keranjingan berjemur di pantai, nongkrong di klub keren, atau memenuhi akun instagramnya dengan foto-foto lokasi eksostis.

Di luar popularitasnya, yang luput dari perhatian banyak orang adalah fakta bahwa bali kini jadi gudangnya bangunan-bangunan yang terbengkalai. Macam-macam bangunan di sana—mulai dari taman hiburan, hotel, bahkan kawasan universitas—dibiarkan rusak begitu saja di bawah sengatan matahari tropik yang panas ketika dana pembangunannya mengering. Ini membuktikan bahwa bahkan di pulau tujuan wisata seperti Bali, tak semua proyek pembangunan bisa sukses dituntaskan.

Kami nekat keluyuran di tengah malam mengunjungi lima lokasi bangunan terbengkalai paling seram. Tujuan kami sederhana: memahami masa lalu, masa kini dan masa depan Bali.

1. Taman Festival Bali


Taman hiburan bernilai hampir Rp1 triliun ini dulunya dibangun dengan optimisme luar biasa. Rencana awalnya, Taman Festival Bali (TFB) dirancang sebagai jawaban Asia Tenggara atas Disneyland. Tak tanggung-tanggung, Taman Festival Bali hendak dilengkapi fasilitas pertunjukkan laser bernilai ratusan trililun rupiah, roller coaster, bahkan gunung api buatan yang meledak saban malam hari. Sayangnya, rencana muluk ini kandas seketika akibat krisis moneter melanda seluruh Asia pada 1997. Dampaknya penjualan tiket menurun dan pendanaan yang diterima TFB terhenti. Saat ini, TFB jauh lebih mirip Jurassic Park daripada Disneyland (tentu saja minus Veloceraptor yang ganas). Tetumbuhan merayap tropis mulai menutupi kawasan seluas 9,5. Lokasi TFB terletak di pantai selatan baru, tepatnya di Pantai Padang Galak, Sanur. TFB sudah terlanjur jadi sarang nyamuk, debu, reruntuhan bangunan dan sekawanan kelelawar. Daerah ini sangat gelap di malam hari. Jangan lupa membawa senter jika ingin berkunjung di malam hari.


2. Bali Cliff Resort

Percayalah, anda masih bisa menemukan promosi wisata kawasan ini di internet. Resort ini pernah diiklankan sebagai kawasan "menyempil di sebuah dataran tinggi sepi dengan pemandangan air laut biru Samudra Hindia" dengan "200 kamar tamu pilihan yang disertai kolam renang tropis." Resort ini juga pernah memasang sesumbar sebagai "satu-satunya hotel di Bali yang menawarkan pemandangan matahari terbit dan tenggelam memukau."

Sehebat apapun promonya, kamar-kamar itu toh tetap melompong saat ini. Resort konon kabarnya milik anak mantan Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto, ini tiba-tiba menghentikan operasinya pada 2005. Alasan manajemen saat itu untuk renovasi selama enam bulan. Nyatanya, hotel ini tak pernah dibuka lagi sampai sekarang.


Meski begitu, pintu gerbang resort masih dijaga petugas keamanan. Alhasil, kami harus naik mobil melewati jalanan di samping hotel. Kami turun di sebuah tebing tepat disamping hotel. Dari situ, kami bisa leluasa masuk ke dalam tempat parkir kawasan selancar Green Bowl. Ibu Made, pemilik warung di dekat lokasi itu, menunjukan jalan masuk ke resort yang bisa kami gunakan.

Di luar dugaan kami, bangunan resort masih tetap utuh. Kami menemukan sebuah vila terbengkalai. Pintunya tak terkunci. Kami sempat mengintip bagian dalam villa. Yang bikin kami merinding, furnitur dalam villa masih tetap pada tempatnya selama 11 tahun. Pemandangannya mirip setting film-film zombie ketika sisa-sisa manusia yang masih hidup mencari apa yang bisa diambil dari satu rumah ke rumah lainnya.

Lahan resort ini lumayan luas. Ada selang jarang sejauh satu kilometer dari tebing tempat kami turun sampai ke bangunan hotel. Sepanjang perjalanan, kami melihat beberapa mobil yang terparkir. Lalu kami melihat sebuah rumah yang lampunya masih menyala. Seketika kami tahu apa yang harus lakukan: menggagalkan misi.

Atau kami akan disergap, dipaksa masuk mobil Kijang dan nama kami hanya tinggal sejarah.

3. Hotel dan Resort PI Taman Rekreasi

 "Hotel Istana Hantu" adalah julukan yang diberikan pada sebuah hotel yang terletak di daerah Bedugul yang selalu berkabut. Belakangan, daerah lokasi unik di Bali yang menarik banyak turis. Meski pengunjung sering diperkenankan masuk, kami harus menyogok pengelola bangunan agar bisa masuk ke lokasi hotel.

Malam adalah waktu yang tepat untuk menyambangi  Taman Rekreasi.  Dari semua lokasi yang kami kunjungi, lokasi ini paling bikin kami merinding. sekali anda masuk kawasan hotel, melewati interior hotel bertingkat ini, anda sangat mudah tersesat, tersasar ke aula-aula kosong, melewati kamar kosong yang menyeramkan, atau menemukan loteng menuju lorong-lorong kosong dan kamar lain yang sama-sama bikin nyali ciut.  

Ada banyak simpang siur mengenai tempat ini. Yang kami tahu, Taman Rekreasi dibangun pada dekade 90-an, kemungkinan oleh Tommy Soeharto. Ada juga yang bilang hotel ini dibangun pengusaha Tionghoa kenamaan, tapi tidak bersedia diungkap ke publik.

Beragam cerita muncul mengenai alasan hotel ini tutup. Ada yang bilang hotel ini terkena kutukan. Ada juga berita yang mengatakan para pekerja hote terjebak di dimensi lain. Namun, sebab yang paling masuk akal adalah hotel ini ditelantarkan karena krisis finansial Asia atau Tommy memang sengaja menelantarkannya pada 2002 untuk fokus menghadapi berbagai masalah hukum yang menjeratnya.

Apapun alasannya, tempat ini suwung sekali. Penduduk Bali meyakini kawasan Taman Rekreasi dihuni hantu-hantu bekas pekerja hotel. Nyali kami makin ciut mendengarnya.

4. Lokasi Pesawat Terbengkalai #2


Ada dua pesawat terbengkalai di Bali. Yang satu terletak di dekat Dunkin Donut di sisi sebuah jalan ramai jalan menuju bandara Ngurah Rai. Jadi pesawat ini terbengkalai tapi tidak "hilang." Pesawat satunya lagi terlelat di tambang batu kapur dekat Bali Cliff Resort dan Pantai Pandawa. Badan pesawat Boeing-737 bermesin ganda itu dibiarkan begitu saja di sebuah kawasan mirip kuburan pesawat seluas satu hektar.

Untungnya kawasan ini dikelilingi pagar baja keriting yang susah dilalui. Kami cuma bisa naik sebuah bangunan di dekat kawasan itu untuk mengambil gambar pesawat.

Di bawah sinar rembulan,  pemandangan kapal lumayan bikin kami merinding, terutama bila dipandang dari jarak jauh. Kami pun bersyukur kawasan itu dipagari hingga kami tak bisa masuk.

Sampai sekarang, masih misteri bagaimana pesawat itu bisa terdampar di sana. Pemiliknya sepertinya berusaha mengubahnya menjadi sebuah restoran, mungkin setelah memindahkannya suatu hari nanti.

5. Museum Universitas Udayana


Perhentian terakhir pengembaraan kami mengunjungi bangunan terbengkalai sejatinya kami temukan menuju pesawat hilang#2. Letaknya tepat berada di seberang  Universitas Udayana Institute for Peace and Democracy (UPD). Di sana, kami menemukan sebuah bangunan tiga lantai yang seperti baru melewati fase pertama pembangunannya. Belum ada dinding vertikal di pinggri bangunan. Kami juga tak menemukan tangga atau jalur elevator. Jadi, mustahil bagi kami untuk mengeksplornya di malam hari. Namun, ukurannya yang begitu besar sudah cukup membuat kami memutuskan mampir dan mengambil beberapa gambar.

Kami melintasi jalanan di depan bangunan, menjumpai seorang petugas keamanan UPD. Kami melontarkan sebuah pertanyaan tentang tujuan awal pembangunan bangunan itu. Petugas itu mengatakan bahwa bangunan itu sebenarnya bakal jadi museum Universitas Udayana yang didanai pemerintah. Proses pembangunan dimulai 2011 lalu. Sayangnya, memasuki 2013, pembangunan dihentikan. Alasannya klise: pendanaan pembangunan terhenti.

More VICE
Vice Channels