Travel

Pengalamanku Tersesat Dua Minggu di Hutan Kalimantan

Pria asal Tasmania bernama Andrew Gaskell nyaris kehilangan nyawanya saat mengunjungi Taman Nasional Gunung Mulu. Begini pengakuannya sampai bisa tersesat.

oleh VICE Staff
04 Mei 2017, 6:46am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia, berdasarkan pengakuan Andrew Gaskell.

Setelah melewati fase panik bahwa dia nyasar enggak keruan, ritmenya menjadi lebih stabil. Dia mencoba terus berjalan dengan lesu, mencoba memecahkan masalah sambil menghiraukan rasa lapar. Sekujur tubuhnya nyeri. Dia menghayalkan makanan dan orang-orang yang mungkin tak akan pernah dia lihat lagi. Dia terus-menerus membayangkan melihat jalan atau beristirahat di bawah pohon, tapi itu tidak nyata. Terkadang dia merasa damai, namun seringkali dia panik. Tapi terus saja berjalan, terus dan terus, hingga akhirnya mati atau menemukan jalan keluar.

Saya menemukan jalan keluar, tapi kalau dilihat ke belakang, hari-hari di sana terasa sama semua. Kisah ini hanyalah satu dari hari-hari itu, yang saya bisa ingat dengan baik, di mana saya nyasar di Taman Nasional Gunung Mulu, Sarawak, Malaysia.

Saya terbangun karena gigitan di kaki. Ketika mencoba meraih senter, saya merasakan banyak semut merayap di seluruh bagian tubuh. "Plis lah pergi," saya ngomong sendiri, mencoba mengusir mereka. Saya hanya ingin istirahat. Kalaupun saya ingin menyalakan senter sekarang, saya tahu senternya hanya akan menyala sebentar—baterainya nyaris habis.

Jemari saya menggapai batu kecil, ini upaya pertahanan diri. Saya mulai menggerus semut-semut yang mencoba mendekat, sebelum mereka menggigit saya. Senter saya mati-nyala, menyinari kekerasan yang saya lakukan terhadap semut, seperti di film laga. Ketika belasan ekor semut sisanya telah mati atau menjauh, saya letakkan kembali senter di atas kepala dan mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur. Luka-luka di betis terasa pedih, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan nyeri di kaki. Setelah berjalan menelusuri sungai berbatu tajam (lebih cepat menelusuri sungai dibandingkan mencari arah di dalam hutan), sepatu lars saya robek, menggores telapak kaki. Akibatnya, kaki saya infeksi, rasanya nyut-nyutan bila dipaksa berjalan, dan setelah lewat sehari mulai berbau busuk. Solusi satu-satunya hanyalah kembali tidur. Kembali ke alam bawah sadar.

Pemandangan taman nasional dari puncak Gunung Mulu.

Saya berangkat ke Sarawak, Malaysia awal Agustus 2016, setelah kehilangan pekerjaan di Queensland utara. Eh, saya bukan dipecat lho. Hanya saja, suatu hari bos besar saya datang ke kantor dan memutuskan udahan aja ah. Bisnis yang saya jalankan selama tiga tahun setengah—pekerjaan yang membuat saya pindah ke Queensland—kolaps. Mungkin kedengarannya saya jengkel, tapi sebetulnya saya merasa lega. Daripada terburu-buru mencari pekerjaan lain, saya memutuskan jalan-jalan sejenak, menimbang ulang prioritas hidup, dan menetapkan apa sih yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup.

Jadi saya memesan tiket pesawat ke Malaysia, yang kemudian membuat saya membolang hanya berbekal ransel di Sarawak selama hampir tiga bulan. Akhirnya saya terdampar di Taman Nasional Mulu. Etnis di Sarawak amat beragam. Daerah ini terdiri dari para Melayu (mayoritas Muslim), beberapa kelompok Tionghoa, dan warga Suku Dayak, yang merupakan penduduk pribumi. Setiap etnis punya sejarah unik mereka masing-masing di Kalimantan. Orang-orang Dayak mengikuti tradisi dan hidup di daerah pedalaman dengan suku mereka sendiri, bahasa mereka sendiri, pakaian tradisional yang khas, dan makanan yang tak punya bandingan. Menurut saya semua makanan Dayak enak-enak banget.

Karena senang berkumpul bersama orang-orang di sana, serta menyukai pemandangannya, saya memutuskan pergi ke taman nasional dengan niat mendaki hingga puncak Gunung Mulu, yang tingginya sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut. Awalnya saya ingin sampai puncak dalam waktu sehari, atau ya sehari semalam deh. Di Tasmania, saya sudah sering naik gunung, jadi saya kira ya gampang. Sehari juga kelar. Intinya saya sombong dan takabur di saat saya mestinya siaga dan penuh persiapan.

Pada tengah hari di hari pertama, saya tiba di kamp tertinggi. Karena hujan deras, saya memutuskan menginap semalam di pondok kayu, sebelum naik ke puncak di pagi hari. Saya menghabiskan semua makanan perbekalan sebelum tidur.

Saya sempat selfie di puncak gunung.

Subuh-subuh saya berangkat menuju puncak. Proses sampai di sana cukup mudah dan setelah potret sana-sini, saya kembali pulang. Di sinilah keadaan mulai menjadi karut marut.
Berjarak beberapa kilometer dari tujuan, saya salah belok euy. Beberapa sungai melintasi jalan setapak, sekeras apapun saya mengingat jalan pulang, saya tidak menemukan jalannya. Saya enggak langsung panik ketika sore berlanjut jadi malam, karena saya yakin kok akan menemukan jalan pulang dalam beberapa jam. Tapi ternyata saya salah. Alih-alih menunggu matahari pagi, saya kekeuh berjalan di dalam hutan, mengira-ngira jalan keluar. Saya yakin banget ini sudah dekat. Dekat banget lah. Tapi ternyata saya malah kehilangan arah sama sekali.

Ketika akhirnya fajar tiba saya sudah nyasar bukan kepalang, tapi tetap saja saya masih pede menemukan jalan keluar. Berikutnya, dua hari menjadi tiga hari. Tiba-tiba saya sudah enggak bisa menghitung berapa hari saya telah nyasar di hutan.

Beginilah saya ketika akhirnya diselamatkan. Foto dari RTM Sarawak

Saya makan hanya sedikit selama tersesat. Awalnya, saya menemukan sekepal buah-buahan hutan yang saya enggak tahu apaan jenisnya. Rasanya asam dan aneh. Setelah itu saya menemukan buah kekuningan yang kulitnya berduri, ukurannya kira-kira sebesar cherry besar. Saya paksa diri sendiri menelan buah-buahan ini. Untuk menghilangkan rasa getirnya, saya menegak air yang saya kumpulkan dari sungai-sungai sepanjang perjalanan. Saya hanya bisa berharap buah-buahan ini tidak beracun. Tak lama kemudian, saya menemukan buah serupa, tapi kali ini lebih besar dan berwarna gelap. Rasanya? Ya sama saja, enggak enak. Beberapa hari kemudian, saya menemukan pakis lokal, namanya paku pakis. Saya tahu tumbuhan ini bisa dimakan dari warga Sarawak. Saya memakan pakis itu, dan sadar bahwa bisa jadi saya membakar lebih banyak energi daripada yang saya konsumsi.

Beberapa hari pertama, saya naik gunung mencoba mencari tahu saya sebenarnya ada di mana. Kemudian saya mencoba mengikuti matahari ke arah barat menuju sungai besar di kawasan itu, yang membuat saya memutuskan berjalan ke selatan menuju Park HQ. Meski demikian, kanopi hutan membuat saya kesulitan mengikuti matahari, sementara banyak juga gunung yang menghalangi dan jalanan setapak berbatu yang bikin susah berjalan. Alhasil, mustahil mencari arah. Terlebih karena saya tidak punya peralatan yang memadai.

Jadi saya berjalan, memanjat, tidur, dan makan kapanpun saya bisa. Saya memikirkan orang-orang yang saya khianati hanya demi petualangan. Risiko-risiko yang saya ambil sebetulnya tidak perlu. Saya jadi malu sendiri karena ceroboh dan tersesat. Tapi saya tidak pernah marah dengan situasinya. Daripada marah-marah dan putus asa, saya mengalokasikan tenaga untuk mencari jalan keluar. Saya selalu yakin bahwa akhirnya saya akan baik-baik saja.

Setelah diselamatkan, saya sempat memotret kaki yang luka. Jijik ya?

Akibat serbuan semut malam itu, pagi hari rasanya tiba terlalu cepat gara-gara suara jangkrik dan burung. Saya bergegas mengumpulkan nyawa, mengambil kaus kaki yang masih basah, dan dengan hati-hati mencopot tanah liat pada kaki saya yang menguning. Setelahnya saya membalik kaus kaki, menggulungnya, lalu mengenakan lars. Saya mencoba berdiri dan menyadari tubuh ini semakin lemah. Nyaris mustahil rasanya saya bisa menjalani hari menghadapi jalan berbatu dan langit yang tertutup pohon dan gunung.

Setelah berputar-putar selama beberapa jam, saya berhenti. Saya mendengar suara yang terasa familiar. Suara apa tuh? Suara manusia? Lalu saya melihat di kejauhan: papan kayu berjalan. Sekarang saya jadi yakin enggak sedang menghayal. Yang saya dengar bukan hanya suara manusia melainkan suara manusia berbahasa Inggris—mereka mengeluh soal cuaca panas di sini! Hati saya berdegup kencang dan saya mencoba berjalan menuju papan kayu berjalan itu. Saya menerobos pepohonan dan mengira-ngira seberapa jauh saya telah berjalan ke arah selatan hingga akhirnya bisa bertemu manusia. Saya masih jauh, tapi bodo amat lah. Saya udah capek. Yang penting saya yakin semua bakal baik-baik saja.

Ternyata, lagi-lagi, saya salah. Ketika saya semakin dekat, saya menyadari bahwa papan kayu berjalan itu hanyalah pohon tumbang. "Tolong!" saya teriak kepada turis-turis yang suaranya masih bisa saya dengar. "TOLOOOOOOONG!"

Mereka engga menyahut. Anjir lah, kenapa sih engga nyahut? Apa mereka tidak sadar saya benar-benar butuh pertolongan? "PLEASE!" Saya berteriak lagi. Kemudian, saya berteriak lagi dengan lebih memelas. "Pleeeeeeeease?"

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada papan kayu berjalan apalagi turis di sekitar saya. Saya delusional dan, tentu saja, masih terseat. Pada momen itulah, saya perlahan merasa tak mungkin dapat diselamatkan.

Jika ingin mengikuti kisah Andrew lebih lanjut, kunjungi blognya di andrewgaskell.com.au . Saat ini dia juga sedang menulis buku perihal pengalamannya yang mendebarkan di hutan belantara Kalimantan.