Kencan Online

Anak Muda Ikut Tren Kencan Virtual, agar Tak Bosan dan Kesepian Selama Karantina

Skype, Zoom dan FaceTime menawarkan kemudahan bagi siapa saja yang mau kencan tapi enggak bisa ketemu langsung.

oleh Daisy Schofield
31 Maret 2020, 10:30am

Cilla, Danny, dan Sade. Semua foto dari arsip mereka pribadi 

Sebagian besar orang harus mempraktikkan social distancing dan enggak boleh meninggalkan rumah gara-gara coronavirus. Masalahnya, terlalu lama berdiam di rumah bikin sejumlah orang gampang horni atau kesepian. Mereka akhirnya beralih ke aplikasi kencan, dan mencoba cara lain untuk ngobrol langsung dengan orang baru tanpa perlu keluar rumah.

Kencan virtual bukan fenomena baru, tapi popularitasnya meroket sejak swakarantina dan lockdown berlaku untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Konsepnya tergolong mudah. Dua orang yang bertemu di aplikasi kencan akan menghabiskan waktu bersama lewat Skype, Facetime, atau Zoom.

Penulis skenario Sade dari New York mengaku bukan tipe orang yang suka pergi kencan, dan ini juga pertama kalinya dia mencoba kencan virtual. Ketika kami menghubunginya, perempuan 30 tahun itu sudah bertemu enam lelaki secara online. Tiga di antaranya ketemu dalam satu malam. Mereka bercengkerama dari rumah masing-masing.

Sade belum menemukan orang yang bisa diajak serius, tapi dia juga akan memberi kepastian kepada teman kencannya kalau hubungan mereka sebatas di layar saja. “Menghemat waktu dan uang,” terangnya. “Kencan virtual membantuku keluar dari zona nyaman.” Enggak semua orang percaya diri untuk video call-an, dan justru lebih suka ketemuan langsung di bar atau restoran “yang ramai dan bisa mabuk-mabukkan. Aku video chat sambil minum segelas rosé, dan menyuruh mereka minum bir atau ngeganja sambil ngobrol denganku.”

1585321082968-Sade
Sade kencan online dengan anjingnya

Danny, 19 tahun, merasa lebih nyaman berkenalan dengan cowok baru secara virtual. “Ketika kita ingin mempersiapkan kencan sempurna, terkadang malah enggak kejadian,” katanya. “Ngobrol lewat FaceTime jauh lebih santai dan kalian bisa menjadi diri sendiri.” Kencannya terasa lebih kasual, sehingga dia “bisa berkenalan dengan banyak orang tanpa menaruh banyak komitmen.” Danny dan Sade terpikir untuk terus kencan virtual, bahkan setelah mereka sudah bisa beraktivitas di luar rumah. “Aku harap pandemi ini bisa menormalkan kencan virtual,” tutur lelaki dari Utah itu.

Thor, penulis kolom olahraga dari Minneapolis, sempat mengalami kesalahan teknis saat pertama kali kencan virtual. Lelaki 35 tahun itu mengajak Jessica* ngobrol di Skype seminggu setelah match di aplikasi kencan. Baru ini Thor dan Jessica kopi darat secara online. 10 menit pertama mereka dihabiskan untuk menyelesaikan masalah teknis. “Aku baru ingat menutup kamera dengan stiker,” Thor mengakui. Meskipun begitu, kencan mereka “berjalan lancar”. Thor dan Jessica sudah janjian untuk kencan virtual lagi pekan ini. “Skype memungkinkan kita untuk menertawai situasi, yang merupakan ujung lain dari spektrum pandemi.

“Selama karantina, kalian biasanya cuma ngobrol sama orang yang sudah saling kenal, atau dalam kasusku, teman kerja,” lanjut Thor. “Sekarang susah buat bertemu orang baru. Rasanya bagaikan dikasih hadiah ketika kita bisa kenalan dengan orang dan memperoleh perspektif baru.”

1585321383368-Screen-Shot-2020-03-25-at-160319
Thor lagi kencan

Bagi lainnya, kencan virtual berguna untuk mempertahankan hubungan yang baru berkembang. Cilla, 25 tahun, kenalan sama Sam* lewat Hinge dan mereka kencan pertama beberapa minggu lalu. Mereka tadinya ingin ketemuan lagi, tapi akhirnya ganti rencana jadi kencan virtual di FaceTime. Sam mengirim £15 (Rp302 ribu) kepada perempuan asal London untuk beli sebotol anggur.

Setelah tiga jam ngobrol dan main game minum-minum, Cilla dan Sam mengatur kencan ketiga secara virtual pekan ini. “Kami akan saling kirim makanan nanti,” ujar Cilla. Konsultan pemasaran itu suka berkencan lewat FaceTime karena dia enggak perlu pusing-pusing memikirkan baju apa yang ingin dipakai. “Aku cukup makeupan tipis-tipis, dan menyoroti wajah dengan lampu supaya kelihatan glowing.” Sade melakukan hal yang sama. “Aku cuma mengenakan celana training dan sandal rumah. Senang rasanya enggak perlu memusingkan pakaian sebelum kencan.”

Bagi sebagian orang, kencan virtual justru mengingatkan mereka akan kesepian akibat social distancing. Pengacara baru Jess (25) dari London bertemu Ruth (26) dari Cambridge di sebuah kelab bulan lalu. “Waktu itu kami duduk bersebelahan, enggak sadar betapa menyenangkan hidup kami saat itu,” kata Jess penuh penyesalan. “Kemarin malam, kami habis kencan kedua di dapur masing-masing. Kami terpisah jarak 96 kilometer.”

Jess telah 15 menit, padahal mereka janjian ngobrol di Skype pukul 8 malam. “Aku enggak langsung pindah dari kamar ke meja makan,” ucapnya, sebelum menjelaskan betapa COVID-19 “sangat memengaruhi” hubungan mereka yang baru bersemi. “Kencan pertama kami sangat kasual. Selama kencan kedua, kami saling menyemangati satu sama lain untuk melewati pandemi global.

“Koneksinya terputus ketika aku mau bilang kepengin ngobrol sama Ruth lagi. Enggak tahu, deh, dia dengar atau enggak,” lanjut Jess. Dia sudah enggak sabar untuk kencan sama Ruth lagi, meski belum tahu kapan itu akan terjadi. “Aku enggak akan pernah lagi meremehkan pertemuan di pub.”

* Nama narasumber telah diganti untuk melindungi privasi mereka.


Follow penulis artikel ini di akun Twitter @daisy_schofield

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Tagged:
Coronavirus
teknologi
Pacaran
Percintaan
Virus Corona
COVID-19
Pandemi Corona