Kesehatan Mental

Jahat Ga Sih Kalau Aku Bosan Ikutan Video Call Sama Teman-Temanku?

Pikiran kayak gini ternyata dimiliki banyak orang. Ada jenis teman yang rutin ngajak video call, sebagai ganti nongkrong selama pandemi. Menurut psikolog menolak ajakan kayak gitu bukan sikap egois.
12 Mei 2020, 9:41am
Cara Menolak ajakan video call teman yang rese'
Ilustrasi oleh Matteo Dang Minh.

Pikiran kita berkelana ke mana-mana selama swakarantina, memunculkan berbagai pertanyaan yang entah apa jawabannya. Itulah sebabnya kami memulai rubrik tanya jawab yang mengupas segala pertanyaan langsung dengan pakarnya. Jangan lupa baca juga artikel pertama dan kedua kami dari rubrik ini.

Pertanyaan: Semua orang antusias melakukan video call grup waktu awal-awal swakarantina. Kita merasa tetap dekat dengan teman dan keluarga berkat panggilan video. Masalahnya, dari awal aku sudah muak dengan chat video. Aku merasa tak ada hal penting yang dibicarakan setiap habis menelepon. Video call juga sering bikin kepalaku sakit. Aku pribadi lebih suka chat satu-satu.

Selain itu, aku kayaknya sudah terbiasa dengan situasi ini. Maksudnya, pikiranku tuh sudah ramai dan penuh suara (yang enggak selamanya bagus). Sering kali, aku lebih memilih suara-suara ini buat menemani hari. Aku enggak benar-benar mengisolasi diri. Aku masih membalas pesan kalau lagi kepengin. Tapi kebiasaan ini membuatku bertanya-tanya. Apakah aku jahat kalau enggak kangen dengan teman-teman? Atau aku begini karena sudah terbiasa hidup mandiri?

Jawaban dari psikolog dan psikoterapis Gianluca Franciosi: Awalnya orang-orang tertarik dengan cara komunikasi baru seperti video chat. Mereka senang bisa tetap mengobrol dengan orang terdekat dan melewati swakarantina bersama-sama. Namun lama-lama, panggilan video grup ini terasa seperti kewajiban dan bisa menjadi sumber stres baru.

Komunikasi virtual takkan pernah bisa menggantikan interaksi langsung. Meskipun bisa melihat ekspresi dan wajah mereka, kamu enggak dekat secara fisik dengan mereka. Selain itu, video call membuatmu merasa diperhatikan semua orang, termasuk diri sendiri. Saat bertemu langsung, kamu bisa mengobrol satu sama lain dan enggak merasa diamati orang-orang. Mereka juga takkan bisa melihat seperti apa keadaan rumah kamu ketika ngobrol sambil bertatap muka.

Ngobrol dengan orang terdekat satu per satu pun lama-lama melelahkan juga. Setiap hari terasa sama saja sekarang, dan kalian mungkin enggak punya bahan obrolan baru. Belum lagi, panggilan video sering mengalami masalah teknis, sehingga perbincangan kalian gampang terputus-putus. Pada akhirnya, gangguan kecil ini merusak momen. Mungkin awalnya kamu biasa saja, tapi pasti akan terasa berat juga lama-lama.

Enggak ada yang salah dari pertanyaanmu, tapi akan lebih baik kalau kita melihatnya dari sudut pandang lain. Kamu enggak jahat atau kekanak-kanakan kalau enggak merindukan seseorang, tapi keinginan untuk menyendiri enggak serta-merta berarti kamu mandiri.

Manusia butuh bersosialisasi, tapi kamu bebas menentukan kapan ingin melakukannya. Menyendiri adalah caramu untuk ‘membersihkan diri’ di minggu-minggu awal swakarantina, terutama ketika komunikasinya tak lagi berkualitas karena keseringan.

Aku yakin kamu bukannya enggak kangen dengan orang-orang terdekat. Kamu merasa seperti itu karena hubungan kalian dibatasi keadaan. Kamu bisa membuat hubungan tetap menyenangkan dengan menonton film, berolahraga atau membaca buku bersama dari jarak jauh.

Tentu saja, lakukan ini saat kamu sedang kepengin. Kamu mungkin sulit menolak ajakan orang sekarang, tapi terkadang ini bagus untuk kesehatan mental kamu.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italia