Musik

Dua Musisi Merilis Semua Melodi Ciptaan Algoritma Mesin ke Domain Publik

Damien Riehl dan Noah Rubin asal Amerika Serikat melakukan ini agar musisi tak lagi dituntut melanggar hak cipta.
26 Februari 2020, 7:42am
Ilustrasi seseorang memainkan gitar
Getty Images

Dua musisi-programmer sebisa mungkin menyimpan setiap melodi MIDI ke hard drive, meng-copyright semuanya, dan merilis ke domain publik. Mereka berupaya menghentikan praktik gugatan hukum yang sering menimpa musisi.

Programmer, musisi dan pengacara hak cipta Damien Riehl dan musisi cum programmer Noah Rubin melihat gugatan hak cipta dapat menghambat kebebasan kreatif seniman.

Kasus pelanggaran hak cipta dalam hal melodi tak jarang memperkarakan musisi yang mungkin pernah mengakses lagu yang dituduh telah ditiru, meski mereka bisa saja baru sekali mendengarkannya. Musisi malang dapat digugat karena “tanpa sadar” menyalin konten asli. Contohnya seperti yang dialami Sam Smith. Tom Petty menuduh “Stay With Me” mirip seperti lagu “I Won’t Back Down”. Sam akhirnya memasukkan nama dia dalam kredit lagu hitsnya. Dengan begitu, Tom Petty mendapat royalti dari “Stay With Me”.

Banyak biaya yang harus dikeluarkan jika musisi memutuskan untuk mempertahankan kasusnya di pengadilan. Riehl dan Rubin berharap langkah ini dapat mencegah terulangnya kasus semacam itu.

Riehl menjelaskan mereka berdua harus menentukan secara algoritmik setiap melodi yang terkandung dalam satu oktaf tunggal untuk memperoleh database melodi.

Untuk menentukan sifat terbatas melodi, Riehl dan Rubin mengembangkan algoritma yang merekam setiap kemungkinan kombo melodi 12-beat eighth note. Metode ini mirip seperti yang digunakan peretas dalam menebak password. Mereka mengombinasikan setiap nada sampai tidak ada yang tersisa. Riehl mengatakan algoritmanya bekerja pada kecepatan 300.000 melodi per detik.

Sebuah karya baru dianggap berhak cipta jika sudah berbentuk nyata. Nada hanyalah angka apabila formatnya masih MIDI.

“Di bawah undang-undang hak cipta, angka merupakan fakta yang hampir memiliki copyright atau tidak ada hak cipta sama sekali,” terang Riehl. “Jika angka-angka ini sudah ada sejak awal dan kita mencomotnya, mungkin melodi hanyalah fakta yang tidak memiliki hak cipta.”

Semua melodi dan kode algoritma mereka tersedia secara open source di Github. Dataset tersebut bisa ditemukan di Internet Archive.

Menurut keterangan situs, Rubin dan Riehl merilis melodi menggunakan lisensi Creative Commons Zero, yang berarti “tidak memiliki hak cipta”. Melodi-melodinya bisa dibilang mirip karya domain publik, walaupun pengacara hak cipta tidak setuju itu benar-benar ada di domain publik. Karya yang dipertimbangkan dalam “domain publik” biasanya konten pemerintah atau karya yang hak ciptanya sudah kedaluwarsa—beberapa dekade setelah karyanya dirilis. Creative Commons Zero adalah satu-satunya lisensi yang memungkinkan seniman untuk mengunggah karya mereka dalam domain publik tanpa memiliki hak cipta yang bisa kedaluwarsa. (Kalian bisa mempelajari lebih lanjut soal ini di situs Creative Commons dan artikel Motherboard.)

Kita masih harus melihat sendiri apakah strategi ini benar-benar bekerja di pengadilan. Undang-undang hak cipta sangat rumit dan sering kali tidak masuk akal. Tidak mudah menentukan apakah pengadilan akan menganggap Riehl sebagai penulis melodi yang dipopulerkan seniman lain. Meskipun demikian, Riehl optimis dengan proyek mereka.

“Kasus-kasus itu mungkin bisa hilang hanya untuk melodinya saja,” ujar Riehl.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey