Iklan
The VICE Guide to Right Now

Tewasnya Balita di Samarinda Memicu Rumor Liar Sindikat Pencuri Organ Spesialis Bayi

Ortu yang anaknya tewas tanpa kepala di Kaltim meminta bantuan pengacara Hotman Paris. Mereka juga akan melapor ke Mabes Polri dan Jokowi karena tak puas dengan investigasi polisi

oleh Ikhwan Hastanto
21 Februari 2020, 6:32am

Ilustrasi tangan balita via Pixabay

Balita bernama Yusuf Achmad Ghazali, 4 tahun, ditemukan di saluran air dalam kondisi tewas tanpa kepala pada 8 Desember tahun lalu. Penemuan ini mengakhiri pencarian korban yang hilang sejak dua pekan sebelumnya.

Yusuf raib pada 22 November 2019 ketika sedang dititipkan di PAUD Jannatul Athfal, Jalan A.W. Syahranie, Kota Samarinda. Di PAUD tersebut, dua orang pengajar mengasuh tujuh anak yang kebanyakan berusia di bawah empat tahun. Menurut Marlina, pengasuh yang bertugas mengawasi Yusuf, ia hanya pergi lima menit ke toilet untuk menyiapkan air mandi anak-anak ketika Yusuf menghilang. Pintu PAUD terbuka sementara di luar hari hujan.

Situasi itu menuntun dugaan awal bahwa Yusuf keluar dan tenggelam di drainase anak Sungai Karang Asam yang berada di seberang PAUD. Hari itu air di drainase meluap karena hujan, Yusuf diperkirakan hanyut terseret arus.

ketika balita ini ditemukan 16 hari kemudian, lokasi penemuan berjarak empat kilo dari lokasi PAUD. Seorang warga mendapati jasad balita ini di alur drainase tersebut dalam kondisi mengenaskan. Kepala hilang, lengan kanan hancur, pergelangan tangan kiri dan kedua kaki nyaris putus, badan koyak, sebagian tulang rusuk keluar, serta organ dalam vital sudah tak ada. Di Rumah Sakit A.W. Sjahranie, kedua orang tua Yusuf, Bambang Sulistyo dan Melisari, mengenali jasad itu sebagai anak mereka hanya lewat pakaian yang dikenakan.

Kondisi organ yang hilang menimbulkan kecurigaan yang berkembang menjadi tiga spekulasi. Mungkin saja organ tubuh korban terburai saat hanyut, atau dimakan hewan karena ada kulit reptil dalam tubuh korban. Dua kemungkinan ini yang lebih diyakini polisi.

“Dalam perjalanannya 16 hari itu kan jasadnya lembek udah kena air, mungkin digigit binatang, tergerus batu, ranting-ranting sehingga saat ditemukan sudah tidak utuh lagi jasad Yusuf,” terang Kapolresta Kota Samarinda Kombes Arif Budiman, dilansir BBC Indonesia. Sedangkan warga yang ikut menyisir saat pencarian mengatakan, drainase tersebut dihuni banyak biawak.

Tapi, keluarga condong pada kemungkinan ketiga: Yusuf adalah korban pencurian organ. Pasalnya, organ tubuh Yusuf dan anggota badannya hilang, tapi kaus yang dipakainya utuh. Selain itu pada drainase yang diperkirakan jadi lokasi jatuhnya Yusuf, terdapat dua teralis besi yang mestinya akan menahan jasad korban tak hanyut jauh.

Keluarga juga percaya Yusuf tak pergi sendiri dari PAUD, melainkan dibawa seseorang. Keluarga Yusuf diberi tahu oleh Kepala PAUD Jannatul Athfal Nurdiana bahwa menurut seorang nenek yang bertetangga dengan PAUD, hari itu anaknya dijemput orang asing menggunakan sepeda motor. Penjemput Yusuf membonceng perempuan dan seorang anak lain di motor. Namun, kesaksian si nenek dianggap tidak valid oleh kepolisian karena ia dianggap tak bisa memberi keterangan yang jelas.

Walau bercuriga, keluarga menolak tawaran otopsi sehingga jenazah langsung dimakamkan, Desember 2019. Kedua guru PAUD ditetapkan sebagai tersangka pelanggar KUHP Pasal 359.

Dua bulan berlalu, pada 18 Februari 2020 keluarga akhirnya setuju kuburan Yusuf dibongkar agar jasadnya bisa diotopsi. Polisi juga dua kali memakai anjing pelacak yang disuruh mengendus sepatu Yusuf untuk menelusuri jejaknya di sekitar PAUD. Hasilnya menguatkan dugaan awal: Yusuf memang hanyut.

"Hasilnya tetap sama, anjing saya terus menyusuri parit," ucap Briptu Kornelius Tappy yang menjadi pawang anjing pelacak polisi, dikutip Kompas.com. Menurutnya, itu pertanda Yusuf tidak dibawa orang lewat jalan umum, melainkan memang hanyut di drainase. "Biasa kami tangani kasus pencurian hingga orang hilang, [anjing ini] selalu akurat," tambahnya.

Ibu korban, Melisari, tak hadir saat pembongkaran kuburan karena sedang berada di Jakarta untuk mendatangi pengacara Hotman Paris Hutapea. Hotman kemudian mengunggah kesimpulan pertemuan di Instagram pribadinya, sekaligus meminta pihak kepolisian Samarinda segera mengusut kasus kematian Yusuf.

"Jadi sengaja anak ini dibunuh. Ini dugaan ya. Dibunuh untuk diambil organ tubuhnya," ujar Hotman di videonya.

Komentar Hotman di Instagram langsung ditanggapi oleh Kapolres Samarinda Kombes Pol Arif Budiman lewat konferensi pers. Ia meminta masyarakat sabar menunggu hasil otopsi forensik Mabes Polri dan tidak langsung menyimpulkan ada praktik pencurian organ tubuh.

"Ini kan baru dugaan. Saya baru dengar dari Pak Hotman Paris. Kita jangan berandai-andai. Kita harus sesuai fakta-fakta yang ada. Mohon masyarakat bersabar. Mari kita tunggu hasil pemeriksaan forensik Mabes polri. Untuk mencari tahu atau guna menentukan penyebab kematian Yusuf," kata Arif dikutip Bontang Post.

Sementara itu, memanfaatkan momentum dugaan pencurian organ dari kasus ini, beredar informasi disertai foto tentang balita lain yang tewas dengan dada terjahit. Info ini dengan cepat dikaitkan sebagai aksi pencurian organ susulan.

Kabar ini sudah dipastikan hoaks oleh polisi. Fotonya sendiri diambil dari berita lain tentang seorang anak yang dibunuh ayahnya, lalu dibubuhi editan berupa bekas jahit di dada.

Tagged:
indonesia
hoax
Berita
Pencurian Organ
Balita Tewas