Peretasan

Muncul Kabar Kelompok Peretas Legendaris 'Anonymous' Aktif Kembali

VICE menghubungi akademisi bekas anggota Anonymous untuk mencari tahu kebenarannya.
03 Juni 2020, 9:37am
anonymous

Serangkaian aksi demonstrasi pecah di sejumlah negara bagian Amerika Serikat setelah anggota polisi Minneapolis mencekik George Floyd hingga tewas. Selain gerakan Black Lives Matter, kelompok peretas Anonymous kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Beberapa situs berita tak buang waktu langsung melaporkan video Twitter yang mengklaim Anonymous sudah kembali. Akun-akun yang sebelumnya dikaitkan dengan kelompok tersebut mengunggah dokumen pengadilan lama yang menghubungkan Donald Trump dengan Jeffrey Epstein.

Mereka juga membocorkan alamat email dan kata sandi yang diduga milik ratusan personel Kepolisian Minneapolis. Namun, peneliti keamanan siber Troy Hunt menyimpulkan kumpulan data itu berasal dari peretasan lama yang tidak ada kaitannya sama sekali.

Ada juga laporan serangan DoS terhadap situs resmi Kepolisian Minneapolis. Situsnya tidak bisa diakses pada Sabtu malam waktu setempat Pemimpin redaksi Cyberscoop Greg Otto memberi tahu NBC News, “meski skalanya bisa saja besar, serangan ini tidak sulit dilakukan.”

Kelompok Anonymous sering menjadi pemberitaan, tapi tidak ada yang tahu apakah mereka masih sama dengan yang populer satu dekade lalu. Terlebih lagi, informasi yang dibocorkan akun Twitter Anonymous cukup mudah diperoleh. Ini tidak terlalu penting tentunya. Mau sama atau tidak, kehadiran Anonymous bisa memberikan dampak.

Sayangnya, perhatian yang diterima melenceng jauh dari dugaan peretasan. Biella Coleman, guru besar Universitas McGill yang mendalami Anonymous dan kelompok peretas lain, mengaku “baru sekarang melihat reaksi seperti ini” dalam twitnya. Kemungkinan ini karena videonya banyak disebar oleh akun penggemar K-Pop.

Biella memberi tahu Motherboard, “beberapa pengguna me-retweet cuma untuk bernostalgia dan senang Anonymous sudah balik. Misalnya seperti ‘Eh mereka sudah balik! Keren, nih.’”

Ini mungkin sebatas bukti dampak awal mereka, tapi dia merasa semua perhatian media dan momen bersejarah ini dapat menyebabkan kebangkitan peretas bertalenta yang mendatangkan malapetaka sungguhan.

Mantan hacktivist sepakat dengannya.

“Seperti itulah cara kerja Anonymous. Banyak orang terlibat dengan Anonymous setiap ada peristiwa besar. Kasus scientology pada 2008, WikiLeaks pada 2010, terus sekarang juga. Ini adalah kebangkitan Anonymous terbesar yang pernah saya saksikan. Gila banget,” ujar Mustafa Al-Bassam, peneliti keamanan siber yang pernah terlibat dengan Anonymous dan kelompok cabangnya LulzSec.

“Ada smut dan fanfic Anonymous. Ada juga fancam TikTok yang ditonton jutaan kali,” lanjutnya. “Ini semacam self-fulfilling prophecy. Seseorang mengaku sebagai Anon, lalu yang lain pada ikutan bergabung.”

Biella hanya menyayangkan tidak ada kelompok hacktivist lama yang dapat menangani hal ini.

“Cuma Phineas Fisher yang masih aktif sekarang,” tuturnya ketika dihubungi lewat telepon. “Jadi pilihannya antara bikin kelompok baru atau anggota Anonymous yang tidak dipenjara. Beberapa mungkin bangkit dalam bentuk berbeda, tapi tidak ada indikasi yang terjadi saat ini.”

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard