Sains

Ilmuwan Jelajahi ‘Lubang Biru’ Misterius di Dasar Laut Selatan Amerika

Salah satu misinya adalah menemukan makhluk dasar laut yang hidup jauh di bawah permukaan.
29 Juli 2020, 5:56am
Lubang Amberjack yang telah dijelajahi. Foto: AJ Gonzales/Laboratorium Kelautan Mote
Lubang Amberjack yang telah dijelajahi. Foto: AJ Gonzales/Laboratorium Kelautan Mote

Pada Agustus 2020, sejumlah ilmuwan di Amerika mengeksplorasi “Lubang Biru” misterius yang ditemukan di dasar laut Florida.

Ekspedisi ini diharapkan dapat menguak keanekaragaman jenis hewan laut yang hidup jauh di dasar lubang biru “Green Banana”. Tim peneliti juga ingin memeriksa seperti apa bentuk kehidupan di sana, dan mempelajari hubungannya dengan sistem air tanah Florida. Ini menjadi ekspedisi lanjutan dari penjelajahan lubang Amberjack pada 2019.

Nama “Green Banana” konon diberikan oleh warga setempat, yang katanya melihat pisang hijau terapung di sekitar lubang biru.

“Green Banana belum pernah diteliti, jadi kami ingin mempelajari apa saja yang membedakan lubang ini dengan Amberjack,” bunyi email anggota ekspedisi Emily Hall, ilmuwan yang memanajeri Laboratorium Kelautan Mote.

“Kami tidak bisa menebak akan menemukan apa saja, karena [Green Banana] bentuknya berbeda dan jauh lebih dalam,” imbuhnya.

Lubang biru tersebar di mana-mana, dan kedalamannya bisa mencapai 1.000 kaki (300 meter) di bawah permukaan laut seperti Dragon Hole di Laut Cina Selatan. Menyelam ke bawah lubang biru bisa sangat berbahaya, jadi tidak mengherankan jika Lubang Biru di Laut Merah Mesir dinobatkan sebagai lokasi penyelaman paling mematikan di seluruh dunia.

Lubang biru merupakan habitat dari keanekaragaman hayati unik yang mungkin meliputi terumbu karang, moluska, penyu hingga hiu. Lubang biru juga menyediakan nutrisi bagi ekosistem yang hidup di dekatnya, sehingga tak jarang dijuluki sebagai “oasisnya” lautan. Gua bawah air ini selalu menjadi objek yang menarik untuk diteliti.

Dengan bantuan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika (NOAA), tim peneliti sudah mulai menjelajahi lubang-lubang biru di perairan Florida.

Emily berspekulasi, “lubang biru ini mungkin dulunya merupakan sumber mata air dan lubang pembuangan yang terbentuk 8.000 tahun silam, ketika wilayah Florida lebih luas daripada sekarang.” Namun, dugaan ini tentu harus diteliti lebih dalam. Masih banyak yang perlu dipelajari tentang asal-usul dan evolusi lubang biru.

“Setiap lubang yang kami jelajahi pasti memiliki perbedaan, baik secara kimiawi maupun biologis,” lanjutnya.

Mereka menjelajahi Lubang Amberjack di Sarasota, Florida pada Mei dan September tahun lalu. Para ilmuwan berhasil menyelam hingga kedalaman 100 kaki (30 meter) di bawah permukaan laut, sebelum akhirnya mencapai tepi lubang yang memiliki kedalaman sekitar 237 kaki (72 meter).

1595417453862-GOPR1209

Anggota ekspedisi menyelami Lubang Amberjack pada November 2019. Foto: Brad Tanner/Laboratorium Kelautan Mote

Jim Culter, ilmuwan senior di Laboratorium Kelautan Mote, menceritakan dalam email bahwa pengalaman menyelami Lubang Amberjack “sangat ekstrem”.

“Air di permukaan sangat hangat. Suhunya +85°F (29°C), dan airnya jernih (di musim panas),” tuturnya. “Tapi semakin dalam kalian menyelam, semakin dingin pula airnya. Termoklin (perubahan temperatur ekstrem) biasanya berubah pada kedalaman 70-90 kaki (21-27 meter). Jarak pandang juga berkurang.”

“Organisme laut seperti ikan, penyu, krustasea, terumbu karang kecil dan bunga karang biasanya ditemukan di tepi lubang,” lanjut Jim. “Air akan semakin dingin dan cahaya berkurang ketika kalian menyelam semakin dalam. Termoklin kedua terjadi di kedalaman 130-150 kaki (39-45 meter), dan suhunya kira-kira 60°F (15°C).”

Pada kedalaman tersebut, Jim mulai melihat awan bakteri dan mencium hidrogen sulfida yang mirip bau “telur busuk”.

“Bagian dasarnya sangat halus dan seperti berlumpur,” terangnya. “Di bawah sana gelap. Ketika mendongakkan kepala, kalian akan melihat mulut lubang biru sejauh 150 kaki (45 meter) di atas permukaan.”

Pada saat itu, Emily berenang di dekat mulut lubang karena dia baru sanggup menyelam hingga kedalaman 200 kaki (60 meter). Dia membeberkan “bentuk kehidupan lautnya sangat melimpah”, meski di pinggir lubang sekalipun.

“Kalian akan merasakan lonjakan adrenalin begitu menyelam. Pikiran-pikiran seperti ‘ada apa di bawah sana?’, ‘bakalan berujung di mana nih?’ dan ‘kayaknya seru menyelam lebih dalam’ muncul di benak kalian,” kenang Emily. “Ya, kami menyelam untuk keperluan tugas, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan kekaguman.”

Peneliti tak hanya mengambil sampel habitat di bawah sana, tetapi juga menemukan dua bangkai utuh hiu gergaji bergigi kecil. Mereka membawa pulang salah satu bangkai hiu jantan sepanjang 3,6 meter.

Begitu mati, makhluk laut akan tenggelam ke dasar lubang. Para peneliti juga menemukan kandungan nutrisi di Lubang Amberjack. Hal ini menandakan lubang biru menyediakan makanan bagi ekosistem yang ada di luar lubang.

“Konsentrasi nutrisi di lubang biru jauh lebih tinggi daripada perairan di sekitarnya,” ungkap Emily. Belum diketahui nutrisinya berasal dari mana. Bisa jadi menguap dari sedimen bawah, arus pasang surut atau sistem air tanah yang lebih besar.

Emily dan rekan-rekan berharap ada banyak hal menarik yang tersembunyi di bawah lubang Green Banana, yang kedalamannya sekitar 425 kaki (129 meter) dari dasar ke tepi, dan memiliki kedalaman lebih dari 150 kaki (45 meter) di bawah permukaan laut.

Tim peneliti akan mengadakan eksplorasi lanjutan pada Mei 2021, dengan harapan menemukan bentuk kehidupan laut yang jauh lebih beragam.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard