Opini

Video Kokang Senjata Berujung ke Polisi, WhatsApp Stories Termasuk Medsos atau Bukan?

Bripda GAP yang mengunggah video di WhatsApp-nya tak terima aksi kokang senjata viral sampai Twitter, alasannya bukan konsumsi publik. Mari kita kaji, sekaligus tuntaskan, definisi WA Story.
15 Mei 2020, 10:18am
Video Bripda GAP kokang senjata jadi debat status WhatsApp Sebagai Sosial Media
Ilustrasi aplikasi WhatsApp [kanan] via Unsplash; Ilustrasi status/stories WA via Domain Publik

Bripda GAP kecewa melihat video dirinya sedang kokang senjata dengan jargon ikonik "Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini gak?" viral di berbagai platform media sosial.

Menurutnya, video kokang senjata itu bukan untuk konsumsi publik, tapi malah viral di Twitter. Bripda GAP enggak terima mukanya tersebar di mana-mana, karena mengaku hanya mengunggah konten di stories WhatsApp sebagai bahan bercanda. Pengakuan ini bikin heran netizen. Kalau bukan buat konsumsi publik, ngapa diunggah di stories WhatsApp? Kan semua orang dengan nomor ponsel sang Bripda bisa melihat?

Kilas balik bentar, adalah akun Twitter @kapansarjana_ termasuk yang memulai keramaian dengan membawa video Bripda GAP melintasi platform. Unggahan tersebut meluas, khususnya di Twitter. Per 15 Mei siang, video udah ditonton 4,8 juta kali, dibagikan dan disukai lebih dari 50 ribu kali.

Langsung heboh, netizen Indonesia terpantik jiwa komedi plus nyinyirnya. Merasa apa yang dilakukan Bripda GAP tidak etis, versi parodi lantas bertebaran. Hasilnya, eksposur kepada video asli semakin meluas.

“Video yang dibuat pada 20 April 2020 itu langsung di-upload oleh Bripda GA dalam status WhatsApp hanya untuk beranda tanpa mengirim ke siapa pun. Tanpa disadari oleh Bripda GAP, kemudian videonya viral di so__ci__al media dengan pertama kali akun @kapansarjana_ mengunggah di Twitter," kata Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Pol. Ahmad Ramadhan dalam keterangan tertulis, dilansir Kumparan.

Nah, pernyataan Pak Polisi Ahmad ini membuat netizen bertanya-tanya. Aneh rasanya bikin status WA tanpa bermaksud "mengirim kepada siapa-siapa". Kelakuan kayak gini cuma dilakukan bucin yang lagi caper sama gebetan. Kedua, ada kesan Pak Ahmad membedakan WhatsApp dari media sosial.

Gelombang diskusi warganet, kemudian mengarah ke fungsi platform. Apakah WhatsApp sendiri termasuk media sosial yang ketika konten udah terunggah, semua orang berhak menikmatinya? Yah, di jagat internet sendiri masih ada sih perdebatan apakah WhatsApp termasuk media sosial atau bukan.

Buat pegangan, pendapat seorang praktisi humas bernama Ben Ehimen di LinkedIn

miliknya mungkin bisa jadi pegangan. Menurutnya, termasuk media sosial atau bukan itu tergantung fitur yang dipakai seseorang dalam menggunakan aplikasi.

Kalau menggunakan fitur Stories di WhatsApp seperti yang Bripda GAP lakukan, ya berarti ia memperlakukan WhatsApp sebagai media sosial. Ini sama aja kalau Twitter-mu cuma dipakai buat DM gebetan. Twitter bisa dibilang aplikasi perpesanan. Tafsir atas perilaku dan niat itu yang akan sangat menentukan argumen hukum perkembangan kasus ini nanti.

Pendek kata, kalau harus menjawab pertanyaan di judul, maka WhatsApp adalah aplikasi pesan pribadi, yang memiliki kemampuan menjangkau banyak orang sehingga membuatnya secara teknis, apalagi gitur Story-nya, berfungsi sebagai media sosial.

Iklan