Iklan
seks

Menjelajahi Nha Nghi, Hotel Esek-Esek Setelah Makan Siang di Vietnam

Nha Nghis—hotel murah yang tarifnya bisa dibayar per jam—sering dimanfaatkan oleh semua orang, mulai dari pasangan muda-mudi yang sedang mabuk kepayang, pria hidung belang hingga PSK yang mencari daerah beroperasi yang jauh lebih aman dari jalanan Vietnam

oleh Jak Phillips
30 Oktober 2018, 11:58am


Nha Nghis in Hanoi’s Long Biên district.

Vietnam punya prioritas untuk segala hal. Sebungkus Marlboro Reds dijajakan dengan lebih murah dari secangkir kopi. Seliter Vodka Hanoi jauh lebih murah dari sekotak sereal. Dan dua bulan yang dianggap paling strategis dihabiskan untuk menggelar pesta besar-besaran bernama Tết, yang sepintas mirip malam tahun baru yang digabungkan dengan perayaan Mardi Gras. Bedanya, Tết punya lebih banyak kembang api, orang-orang yang memakai topeng substansi dan permainan absurd “menangkap bebek dengan mata ditutup.” (Beneran begitu kok permainannya, saya enggak melebih-melebihkan.)

Namun, saban jam makan siang tiba, Hanoi, ibukota Vietnam, menjelma menjadi dirinya sendiri. Selagi penduduk Bumi lainnya sibuk menimbang-nimbang makan siang apa yang murah tapi pas mengisi perut yang keroncongan, penduduk kota Hanoi yang kebetulan sedang sange malah bertemu di motel-motel khusus, atau Nha Nghi, untuk menyalurkan birahi mereka di siang bolong.

Nha Nghi (yang secara harfiah berarti “rumah peristirahatan”) bisa dibilang sebagai sebuah fenomena kemarin sore. Bangunan Nha Nghi sendiri sebenarnya sudah bermunculan sejak satu dekade silam di beberapa kota besar di Vietnam. Mudah sekali memahami kenapa Nha Nghi begitu populer. Meski dipatok dengan harga yang amat miring, cuma kurang lebih Rp45 ribu sejam, ruangan Nha Nghi ternyata cukup bersih dan lengkap. Pantas saja penduduk Hanoi gemar menjabani seks kilat bersama pasangan, orang asing yang mereka temui di aplikasi online hingga PSK sekalipun. Salah satu Nha Nghi yang saya datangi di distrik Long Biên Hanoi mengingatkan saya akan sebuah travelodge, minus sarapan kontinental dan biskuit-biskuit khas Denmarknya saja.

Satu gang penuh Nha Nghi di Distrik Hai Ba Trung, Hanoi.

Di kalangan masyarakat Vietnam, seks pra-pernikahan dianggap lumrah selama tak dilakukan secara terang-terangan. Celah bisnis inilah yang dimanfaatkan pengelola rumah peristirahatan di Vietnam. Nha Nghi menyediakan ruang ideal bagi sepasang sejoli untuk menyalurkan hasratnya di siang bolong tanpa sepengetahuan—atau tidak bikin malu—orang tua mereka. Dalam prakteknya, love hotel murah versi Vietnam ini tak hanya diperuntukkan bagi sepasang kekasih. Orang dewasa, bahkan mereka yang umurnya sudah menginjak kepala enam, kopi darat dengan pasangannya di sisi Nha Nghi. Sebagian malah sudah jauh-jauh hari menyewa kamar di sebuah Nha Nghi, biasanya khusus untuk hari-hari penting macam liburan atau hari Valentine. Saking populernya Nha Nghi, di Vietnam beredar sebuah kelakar. Bunyinya kira-kira seperti ini: olahraga nasional resmi Vietnam adalah đá cầu (sejenis Badminton tapi pakai kaki). Nah kalau yang enggak resminya ya ngeseks.

“Pokoknya beda banget dari imej orang Vietnam di mata dunia Barat. Kesannya kan mereka terepresi. Padahal enggak. Orang Vietnam itu liberal banget dan yang namanya perselingkuhan itu sudah dianggap biasa di sini,” ujar salah satu pekerja hotel. “Mantan saya dulu adalah seorang laki-laki kaya. Dia bisa kencan dengan dua atau tiga perempuan dalam seminggu. Nah, dengan semakin gampangnya orang kencan, orang Vietnam—terutama laki-lakinya—merasa sulit sekali untuk setia pada satu pasangan.”

Seperti nyaris semua kisah tentang kesuraman abad 21, internet punya peranan besar dalam merebaknya Nha Nghi di Vietnam. Pada pertengahan tahun 2000-an, Yahoo Messenger jadi aplikasi chat paling populer di sana. Dalam sekejap, cassanova-cassanova dari dunia siber punya stok pasangan yang bisa mereka goda, ajak bertemu dan jadikan teman ndusel dan tidur. Yang mereka perlukan cuma satu: kamar.

Hung, yang tak mau menampakkan wajahnya, tengah duduk di sebuah kedai kopi di kawasan Old Quarter, Hanoi.

Hung, seorang petualang seks yang mengaku sudah meniduri lebih dari 60 gadis di berbagai Ngha Nghi sebelum akhirnya memilih “melakukan hal yang benar” dan menikahi cewek yang dia hamili, mengaku chatrooms di Yahoo Messenger memfasilitasi hobinya, ngeseks tanpa ikatan. “Menurutku, semuanya berjalan dengan gampang—awalnya aku nyepik cewek dengan manis dan membiarkan semuanya mengalir,” ungkapnya. “Kalau ngobrolnya nyambung, berarti kami bisa ngedate; kalau bisa ngedate, artinya aku bisa mencium cewek itu, aku bisa remas toketnya dan kalau sudah begini, aku bisa ngentot sama cewek itu.”

Sampai di sini, kalian mungkin sudah menebak bahwa Nha Nghi kental dengan nilai-nilai misoginis. Sebagian besar pelanggan Nha Nghi adalah pasangan yang ingin ena-ena tanpa mengundang cercaan orang. Namun, Nha Nghi juga dimanfaatkan oleh lelaki hidung belang seperti Hung dan kawanannya. Mereka sering bertukar nomor perempuan yang dianggap “gampangan.” Bahkan, Lauxanh, situs porno paling populer di Vietnam, punya forum berisi laki-laki brengsek yang memamerkan perempuan taklukannya beserta rincian “aset” mereka yang diberi nilai satu hingga 10.

Namun, Hung dan kawan-kawannya bukanlah bebas dari bahaya yang mengincar Vietnam seiring makin ramainya budaya seks pra-nikah. Sering kali pelakunya, terutama mereka yang masih belia, malas menggunakan kontrasepsi. Saat ini, Vietnam tercatat sebagai negara dengan angka aborsi pada remaja tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Belum lagi, angka penderita penyakit menular seksual di Vietnam juga mengkhawatirkan. Apalagi, angka resmi yang dikeluarkan pemerintah susah dipercaya. Pasalnya, banyak penderita yang merahasiakan penyakitnya dan memilih mengobatinya di dokter-dokter kepercayaan mereka. Mengacu pada keterangan Departemen Kesehatan Vietnam, jumlah penderita HIV di Vietnam kini tercatat mencapai 213.400 orang. Sebagian besar di antaranya adalah para PSK.

Trang, seorang pekerja seks komersial, menunggu pelanggan dekat Danau Thuyen Quang Lake di Hanoi.

Dalam sehari, Trang, seorang PSK berumur 33 tahun yang telah bekerja di jalanan Hanoi selama satu dekade terakhir, melayani hingga delapan pelanggan dalam satu hari, entah itu di kamar-kamar Nha Nghi atau WC umum. Tarif yang dia patok untuk saban kali berhubungan seks murah sekali. Hanya $4,5 (kurang dari Rp70 ribu). “Aku tertular HIV dari salah satu pelangganku—enggak tahu yang mana sih. Belakangan kesehatanku menurun,”katanya. “Aku ingin berhenti melacur. Tapi, ini satu-satunya cara aku dapat uang untuk menebus obat. Nha Nghi itu bukan tempat kerja yang ideal tapi setidaknya lebih aman dari jalanan. Pemiliknya menjamin aku bakal aman-aman saja.”

Kendati sering dijadikan sasaran lantaran kedekatannya dengan praktek prostitusi, para pengelola Nha Nghi sejauh ini masih bisa menarik napas lega. Sejauh ini, Partai Komunis Vietnam kelihatan lebih sibuk mengatasi penyebaran HIV di Vietnam. jadi tak mengherankan jika kehadiran rumah-rumah peristirahatan ini dianggap masih berfaedah, terutama bagi pasangan-pasangan yang ingin mereguk kenikmatan seks di negara yang masih terus mengkalibrasi kompas moralnya. Yang menarik, meski dirancang untuk memberikan kepuasaan seks sesaat, sejumlah Nha Nghi mematok harga sewa yang lebih tinggi, barang beberapa ribu rupiah.

Cuma saya yakin, perbedaan ini tak memengaruhi kenikmatan melakoni gulat mesra di dalamnya setelah makan siang.

Tagged:
HIV
Vietnam
AIDS
hotel
Pornografi
esek-esek