Kesehatan Mental

Aku Mengidap Bipolar, Nonton Stand-Up Comedy Menenangkan Pikiranku yang Liar

Bisa dibilang stand-up comedy sama saja kayak self-harm, cuma bedanya kalian enggak menyakiti diri secara fisik.
27 Juni 2020, 2:00am
Ilustrasi otak berkacamata sedang stand-up comedy
Ilustrasi oleh Ashley Goodall

Alarm ponselku berdering keras begitu aku naik panggung untuk tampil stand-up comedy pertama kalinya. Itu pengingat buat “take my fun fun” alias minum obat antidepresan.

Pas sekali momennya. Aku memang terobsesi dengan stand-up comedy, tapi enggak pernah berani tampil karena terhalang gangguan kecemasan, depresi kronis, dan sindrom bipolar. Dan kini di atas panggung, alarm minum obat menyadarkanku sudah seberapa jauh aku melangkah.

Stand-up comedy—khususnya yang amatiran—kurang lebih mirip self-harm, tapi bisa lebih diterima. Kalian menyaksikan mimpi seseorang hancur secara langsung. Ibarat film snuff, tapi yang dibunuh adalah harapan dan ambisi mereka. Aku suka yang kayak begini.

Aku sedang merasa terpuruk ketika pertama kali tampil. Aku berulang kali kepikiran untuk bunuh diri, enggak bisa bangkit dari tempat tidur, mengalami serangan panik setiap hari, dan merasakan sakit kronis. Intinya, aku bagaikan mayat berjalan. Pacarku lah yang menjadi alasan kenapa aku bisa naik panggung. Dia paham betul menjadi komedian stand-up adalah impianku. Pada titik ini, ungkapan “enggak ada yang perlu dikhawatirkan” ada benarnya.

Pacarku benar.

Dalam pertunjukan pertama, aku bebas membicarakan kehidupanku sebagai lelaki dengan gangguan emosional yang berjuang mendapatkan karier. Aku bisa lebih leluasa mengkritik budaya dan teman-temanku. Aku berakting sedang menelepon teman aktor yang kerjaan meniru Rolf Harris-nya sudah enggak laku.

Aku mampu menenangkan pikiran yang tak stabil dengan berkhayal di hadapan 50-an penonton dan ditertawai oleh mereka.

Semakin lama aku semakin terbuka soal masalah kesehatan mental di panggung. Aku merasakan kebebasan ketika menceritakannya. Aku bergurau seolah-olah gangguan kecemasan, depresi dan bipolar adalah makhluk hidup yang menentukan aku harus melakukan apa di malam hari. Haruskah aku diam di rumah, bunuh diri atau nge- binge yang didasari mania? Kekacauan emosional yang aku rasakan merupakan sumber tawa penonton. Setiap gelak tawa melonggarkan jeratan gangguan mental itu.

Ironis rasanya, aku lebih mudah mengolok-olok keinginan bunuh diri di depan orang asing ketimbang membicarakannya dengan orang terdekat. Aku sulit menjelaskan ke teman dan keluarga, antidepresan telah mengubah hidupku. Tapi di atas panggung, aku bisa membayangkan obat itu sebagai tentara perang Serbia, dan mengubah rasa takut yang ditimbulkan menjadi sebuah lelucon. Aku merasa lebih jujur dengan penonton daripada sama terapisku sendiri. Kalau kalian suka nonton sitkom Dr. Katz, rutinitas yang terlatih beda tipis dengan pengakuan emosional.

Aku sudah 25 tahun lebih menjadi fans berat komedi, dan menyadari masalah pribadi adalah nilai utama stand-up ketika berusia 13.

Saat itu, aku pertama kalinya menonton episode khusus Richard Pryor Live at the Sunset Strip yang tayang pada 1980. Pryor membuka acara dengan membanyol tentang percobaan bunuh dirinya. Dia mencoba bakar diri, tetapi penonton mengira ini kecelakaan saat freebase. Kurang tragis apa lagi coba? Tapi bagi Pryor—yang dilecehkan saat masih kanak-kanak dan mengidap penyakit Parkinson—kesengsaraannya adalah sumber tawa paling berharga. Atau seenggaknya begitulah reaksi penonton yang aku lihat dari kaset VHS-nya.

Dunia komedi di Australia mengalami keterbatasan, karena ada ketakutan terhadap hal-hal yang mengingatkan seseorang pada kehidupan atau kerapuhan diri sendiri.

Untuk menjadi komedian sukses di Australia, kalian harus mencerminkan kehidupan kelas menengah kulit putih membosankan yang budayanya terlalu homogen, stabil, maskulin dan lurus. Contohnya kayak Adam Hills, Dave Hughes, Will Anderson, Peter Helliar dkk.

Ya memang, sih, orang-orang akan tertawa dengan lelucon mereka. Dan mereka juga dapat uang banyak dari situ. Tapi bagiku, komedi yang menarik berasal dari ketidaknyamanan. Sayangnya dari pengalamanku, orang Australia lebih suka menertawai hal-hal hangat dan ketebak. Mungkin inilah alasannya kenapa Australia enggak memiliki pertunjukan komedi sekelas “How old is fifteen really?” punya Dave Chappelle.

Charlie Pickering jelas berbeda dari Lenny Bruce. Intinya, sedikit sekali komedian Australia yang mengalami momen introspeksi baik di atas maupun di balik panggung.

Itu tak serta merta berarti komedi yang dekat dengan kehidupan enggak lucu atau takkan menghasilkan tawa. Tetap bisa, kok. Hanya saja melucu tentang kesehatan mental saat tampil—di saat komedian lain bercanda soal kencan Tinder atau menganiaya anjing (topik umum di sini)—terasa lebih berisiko.

Membuat orang tertawa memang penting, tetapi di samping itu melucu juga dapat membebaskan diri kita dari rasa sakit yang tertanam di dalam benak.

Follow Patrick Marlborough di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK