Peristiwa Alam

Bulan Sempat Mendadak Hilang 900 Tahun Lalu dari Bumi Lho

Ilmuwan menjadikan gunung berapi sebagai penyebab hilangnya Bulan pada 5 Mei 1110.
14 Mei 2020, 9:15am
​Castillo Caudilla, Spanyol. Foto: vpogarcia
Pemandangan di Castillo Caudilla, Spanyol. Foto: vpogarcia

Sekitar 900 tahun silam, seorang pengamat langit di Inggris menyaksikan gerhana bulan total yang sangat mengerikan. Langit malam bertaburan bintang, tapi anehnya Bulan tiba-tiba hilang.

Orang itu kemudian menceritakan pengalamannya dalam naskah Peterborough Chronicle. "Bulan benar-benar padam dan tidak meninggalkan cahaya apa pun," tulisnya. Bulan padam “sampai hampir seharian, dan kemudian bersinar terang benderang. Tak ada seorang pun yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini hingga sekarang.

Sekelompok ilmuwan dari University of Geneva berusaha menemukan jawabannya. Mereka mengamati lingkaran tahun pohon dan inti es, serta mempelajari arsip sejarah untuk mengungkap kejadian luar biasa di Inggris pada 5 Mei 1110. Menurut temuan yang diterbitkan dalam Scientific Reports, gerhana bayangan itu disebabkan oleh “lapisan debu” akibat “letusan sekelompok gunung berapi terlupakan”—kemungkinan berasal dari Gunung Asama di Jepang—yang melayang sampai Eropa.

Dipimpin oleh ahli paleoklimatologi Sébastien Guillet, tim peneliti menulis semua “gerhana bulan total paling gelap” yang tercatat sejak 1600 Masehi “dikaitkan dengan letusan gunung berapi besar.” Untungnya, Peterborough Chronicle menjelaskan secara terperinci fenomena gerhana bulan yang terjadi antara 500-1800 Masehi. Manuskrip ini memudahkan pencarian mereka terhadap peristiwa vulkanik yang mungkin mengarah ke kejadian tersebut.

“Astronom sudah lama tertarik dengan gerhana bulan total yang terjadi pada 1110. Kami mengetahui peristiwa ini jauh sebelum mempelajari erupsi gunung berapi pada 1108-1110,” ujar Sébastien.

Tim Sébastien mencari petunjuk aktivitas vulkanik utama di inti es kuno Greenland dan Antartika. Inti es ini menyimpan informasi penting tentang iklim masa lalu, termasuk letusan gunung berapi yang dapat menyemburkan abu dan aerosol ke seluruh dunia.

Mereka mempelajari sulfat aerosol yang mengendap dalam inti es sebelum dan ketika gerhana bulan terjadi pada 1110, menunjukkan letusan vulkanik pada waktu itu menyemburkan asap ke stratosfer. Jika dibandingkan dengan erupsi gunung berapi yang terjadi selama 1.000 tahun terakhir, peristiwa ini berada di urutan ketujuh dalam hal jumlah sulfur yang disemburkan ke atmosfer.

Untuk memperkuat pengamatan mereka, tim Sébastien mempelajari catatan lingkaran tahun pohon yang menjangkau periode ini. Pola-pola di dalam kayu pohon tumbuh sebagai respons terhadap pola iklim musiman. Lingkaran tahun menunjukkan, cuaca di Eropa Barat pada 1109 “luar biasa dingin dan selalu turun hujan”, sebuah anomali yang mungkin disebabkan atau diperburuk oleh efek global dari semburan debu dan abu gunung berapi.

Catatan sejarah yang dikumpulkan Sébastien dan rekan-rekan mendukung informasi ini. Menurut manuskrip Annals of Inisfallen, orang Irlandia berpuasa dan bersedekah agar “hujan lebat dan cuaca buruk di musim panas dan musim gugur segera berakhir.” Manuskrip Chronicle of Morigny menerangkan Prancis mengalami krisis kelaparan ketika gagal panen, dan “menewaskan banyak orang serta memiskinkan orang kaya.” Sementara itu, Peterborough Chronicle membuktikan 1110 merupakan “tahun penuh bencana”.

Meski pergolakan iklim dan sosial ini memiliki penyebab yang kompleks, tim Sébastien berpendapat letusan gunung berapi besar menjadi faktor pemicunya, sebagaimana diperlihatkan dalam bukti alamiah dan sejarah. Gunung Asama digadang-gadang mendalangi peristiwa ini. Berdasarkan laporan Fujiwara no Munetada dalam buku harian Chūyūki, gunung berapi paling aktif di Jepang itu meletus pada 1108.

Kendati demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melacak sumber lapisan debu, karena bisa saja berasal dari banyak erupsi vulkanis.

“Hipotesis kami tentang Gunung Asama mengendapkan sulfur di Greenland perlu dibuktikan,” tutur Sébastien. “Kami berharap suatu saat nanti bisa memvalidasi atau membantah hipotesis ini.”

Tim Sébastien menyarankan penelitian selanjutnya berfokus pada karakterisasi “tephra” atau puing-puing gunung berapi yang ditemukan dalam inti es pada masa ini, karena bisa saja berisi jejak geokimia yang berkaitan dengan gunung berarti tertentu.

Penelitian Sébastien dan rekan-rekan mengingatkan kita betapa Bumi dan seisinya saling terkait. Bencana alam di satu belahan dunia dapat memengaruhi kehidupan komunitas di belahan dunia lain, dan menyebabkan gerhana Bulan total.

“Inti es mengungkapkan lebih banyak letusan gunung berapi, tapi beberapa di antaranya belum dipelajari secara detail,” Sébastien menyimpulkan. “Oleh karena itu, masih banyak yang perlu dilakukan untuk lebih memahami pengaruh erupsi besar pada sistem iklim, dan dampaknya pada masyarakat masa lalu.”

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard