Bertanya Pada Pakar

Bertanya Pada Pakar: Kenapa Orang Gampang Horni Selama Swakarantina?

Aku bertanya kepada pakar seks, apakah pikiran mesum yang kerap muncul selama di rumah ini normal atau enggak.
06 April 2020, 9:47am
Alasan Ilmiah Orang Gampang Horni Selama karantina corona
Foto iIlustrasi Mainan seks dan kamera

Pandemi corona bikin serba gelisah. Kamu enggak terbiasa kerja di rumah, atau mungkin kamu takut enggak bisa bayar kosan karena habis kena PHK. Bisa juga kamu jenuh rebahan doang di kasur gara-gara enggak boleh keluar rumah. Apapun yang kamu rasakan, krisis kesehatan ini mengganggu kondisi psikis kita semua.

Akan tetapi, bagaimana kalau kecemasan itu malah bikin kita sangean? Di satu sisi, kamu khawatir dengan kesehatan keluargamu. Tapi di sisi lain, kamu juga rajin bermasturbasi belakangan ini.

Bisakah stres dan kecemasan meningkatkan dorongan seksual seseorang? Aku berbincang dengan seksolog klinis dan psikoterapis Catriona Boffard untuk mencari tahu apakah normal jika seseorang mengalami peningkatan hasrat seksual ketika mereka tertekan oleh kondisi tertentu, kayak pandemi global misalnya.

VICE: Hai Catriona! Apakah bisa kecemasan merangsang hasrat seksual?
Catriona Boffard: Meski enggak semuanya seperti itu, ada orang-orang yang merasakan dorongan seksual lebih tinggi ketika mereka cemas atau stres. Hal ini merupakan pengecualian karena sebagian besar orang memiliki dorongan seks rendah saat tertekan.

Jadi seseorang bisa seperti itu karena ada alasannya?
Bagi sebagian orang, aktivitas seks (termasuk masturbasi, foreplay, dan bersetubuh) bisa untuk mengatasi kecemasan atau stres, menenangkan diri, dan mengurangi anxiety karena tak terhubung dengan orang lain. Penelitian memang menunjukkan sejumlah orang mudah horni saat tertekan atau gelisah, tapi kualitas kesenangan yang mereka dapatkan enggak tinggi. Ketika sedang stres, kamu kepingin ngeseks untuk menurunkan perasaan buruk, bukan untuk mencari kesenangan.

Perasaan berlebihan, seperti bahagia atau sedih, terkadang juga bisa bikin horni. Apakah semua orang mengalami ini?
Siapa saja bisa mengalami ini, tapi gairah seksual memiliki konteks yang spesifik. Kamu enggak selalu merasa horni saat bahagia. Akan tetapi, jika konteksnya pas (misalnya kamu senang video call-an sama gebetan, terus masturbasi), keinginan untuk berhubungan seksual sangat mungkin muncul. Sama halnya jika kamu sedang sedih dan berhubungan fisik dengan pasangan, perasaan tersebut bisa mengarah ke seks. Di sini, seks berperan sebagai bentuk kedekatan.

Atau mungkin aku sebenarnya enggak horni, dan kecemasannya disalurkan dengan cara berbeda?
Bisa jadi. Kecemasan dapat dikurangi dengan melakukan hal-hal seksual, dan kamu mungkin bereaksi terhadap zat-zat kimia di otak yang dilepaskan ketika stres dan cemas (dopamin, oksitosin, kortisol). Jika kamu berpikir seperti ini, kecemasan akan membuat otak dan tubuh dalam keadaan “fight or flight” — beberapa orang ingin menghindari situasi tersebut (ini paling umum dengan keinginan berhubungan seks, seseorang ingin “mematikannya”), sedangkan lainnya malah melawan ancaman itu. Mereka yang mengalami hal terakhir kemungkinan dikendalikan mekanisme ini.

Apakah bisa menjadi masalah jika terus melakukannya?
Tentu saja. Keterpaksaan seksual memiliki komponen kecemasan utama yang dapat memberikan tantangan nyata bagi kehidupan seseorang jika gairah seksual selalu dimanfaatkan untuk mengatasi kecemasan.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi kecemasan?
Yang terpenting yaitu memiliki semacam rutinitas yang bisa terus diterapkan. Kedua, berbaik hati pada diri sendiri. Kamu enggak harus belajar banyak bahasa, bercinta dua kali sehari, atau belajar masak untuk menenangkan diri selama pandemi. Kamu cukup menjaga diri dan orang terdekat. Ingat, menjalin hubungan itu penting. Kamu bisa “kencan virtual” dengan orang-orang yang kamu suka ajak ngobrol, atau yang bisa menyemangatimu. Kamu juga bisa meluangkan waktu untuk melakukan apa yang ingin dilakukan hari itu, dan apa yang tak ingin kamu lakukan keesokan hari. Yang terakhir, wajar banget kalau kamu cemas dengan kondisi saat ini (ketidakpastian = kecemasan), tapi jangan lupa meminta pertolongan jika membutuhkannya. Tanyakan dirimu sendiri, apa yang membuatmu cemas. Apakah kamu bisa mengendalikannya? Apakah kamu terlibat di dalamnya? Jika enggak, buang semua kecemasan itu!


Wawancara di atas sudah kami sunting agar ringkas dan lebih enak dibaca.

Follow penulis artikel ini di akun Twitter @nanasbaah

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK