serba-serbi pekerjaan

Kalian Fresh Grad? Ini Panduan Menentukan Waktu Terbaik Siap-Siap Pulang Kerja

Pegawai baru kerap menghadapi dilema tiap sore. Pekerjaan mereka hari itu sudah selesai, tapi takut dikatain anak tenggo jika pulang tepat waktu. Nih, kami kasih solusinya.

oleh Alison Green
12 Februari 2020, 10:08am

Ilustrasi oleh Joel Plosz

Curhatan yang diterima redaksi: Aku baru mulai kerja dan biasanya dibayar per jam. Kerja kayak begini memang ada enggak enaknya, tapi seenggaknya aku bisa menentukan berapa lama harus kerja dan istirahat makan siang.

Nah, aku lagi aktif mencari lowongan pekerjaan dan kebanyakan pilihannya digaji bulanan. Aku benar-benar buta soal ini! Kapan waktu terbaik pulang kerja? Bagaimana dengan sistem cuti? Apakah aku harus makan siang di meja kerja? Memangnya wajib banget balas email setelah pukul 9 malam? Tolong beri aku saran!


Jawaban redaksi:

Enggak ada jawaban pasti untuk pertanyaan semacam ini. Setiap perusahaan dan pekerjaan punya sistemnya masing-masing, jadi cara terbaik mengetahuinya yaitu dengan memperhatikan secara langsung. Kamu baru akan tahu jawabannya setelah bekerja di sana.

Perusahaan biasanya memberi tahu jam kerja mereka di hari pertama masuk. Kamu bisa menanyakannya kalau enggak ada info soal ini. Idealnya, sih, kamu bertanya sebelum menyanggupi tawaran bekerja di sana. Jangan sampai kamu baru tahu harus bekerja 12 jam sehari setelah masuk! Memastikan jam kerja pada atau sebelum hari pertama juga ide bagus.

Kalau jawabannya membingungkan kayak, “Resminya dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, tapi semua karyawan di sini punya waktu kerjanya sendiri,” itu bisa berarti banyak hal. Mungkin mereka enggak akan peduli kamu pulang jam berapa saja, yang pasti pekerjaan sudah rampung. Atau bisa juga kamu harus bekerja sampai pukul 10 malam, misalnya.

Coba perhatikan kebiasaan atasan atau rekan kerja selama satu minggu pertama. Apakah mereka pulang tepat waktu? Atau ada yang pulang pukul 6 sore? Kira-kira kantor masih penuh atau enggak pas pukul 7 malam? Dari sini, kamu bisa menentukan kapan sebaiknya pulang kerja.

Begitu pula halnya dengan istirahat makan siang. Setiap individu dan perusahaan punya aturannya sendiri. Ada yang istirahat 30 menit atau satu jam penuh, ada pula yang makan di meja kerja. Kamu berhak bertanya ke manajer, “Istirahat makan siangnya seperti apa ya, Pak/Bu? Apa ada waktu tertentu? Biasanya orang makan di luar atau di meja kerja?” Kamu memang mendapat gaji bulanan, tapi bukan berarti kamu harus makan di meja setiap hari. Kamu bisa menyesuaikannya dengan jadwal kerja.

Sistem cuti biasanya lebih pasti. Pegawai akan mendapatkan jatah cuti berbayar di awal tahun, atau jumlahnya justru bertambah setiap periode. Selama jatahmu belum habis, kamu berhak mengajukan cuti sesuai kebutuhan. Kalau tanggalnya belum pasti, kamu bisa menanyakan kapan sebaiknya kamu ambil cuti di bulan itu agar pekerjaan enggak terganggu. Yang terpenting, jangan dadakan, ya! Apabila kantor menggunakan software untuk mengajukan atau melacak cuti, pastikan tanggalnya masuk akal. (Contohnya, jangan tanya satu minggu sebelum kamu cuti.)

Untuk urusan membalas email di malam hari, semuanya tergantung pada pekerjaan. Ada bidang tertentu yang mengharuskan pegawai siap sedia kapan saja, tapi bukan berarti ini suatu kewajiban.

Kebanyakan orang cenderung melupakan segala urusan pekerjaan setelah pulang, dan cuma mengecek email di saat genting saja. Lagi-lagi, kamu bisa menanyakan ini saat wawancara atau ke teman sejawat setelah mulai bekerja.

Kesimpulannya, kamu bisa menentukan akan seperti apa cara kerjanya setelah memperhatikan dan menanyakan kebiasaan orang-orang di kantor. Sebaiknya kamu mencontoh rekan kerja yang menurutmu rajin, dan jangan jadikan karyawan malas sebagai patokan. Kalau masih belum yakin juga—sangat wajar, terutama bagi yang baru mulai bekerja—kamu selalu bisa menanyakannya ke manajer. Atasan yang baik adalah mereka yang bersedia menjawab dan membantumu tumbuh sebagai karyawan teladan.

Silakan baca saran-saran lainnya dari Alison Green di Ask a Manager atau dalam bukunya .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.