dokumenter

Merenungkan Dampak Sepinya Kota-Kota Besar Dunia Akibat Pandemi Virus Corona

Fasilitas umum yang dibutuhkan banyak orang tutup akibat corona. TPU dan tempat ibadah termasuk di dalamnya. Social distancing memang penting, tapi kerugiannya sangat sulit ditaksir.
17 Maret 2020, 3:54am
Dampak Social Distancing Bagi Kota-Kota Besar Dunia Saat Pandemi Virus Corona
Cuplikan gambar dari dokumenter VICE News Tonight/VICE TV 

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Tempat wisata dan hiburan di berbagai belahan dunia ditutup di tengah pandemi virus corona. Peragaan busana dan pertunjukan musik terpaksa ditunda, sedangkan acara talkshow harus tetap berjalan tanpa penonton. Debat calon presiden AS dari Partai Demokrat hanya dihadiri tim sukses dari setiap kandidat.

Coronavirus menunjukkan kesehatan dan keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup. Dan yang kita butuhkan yaitu tindakan nyata, bukan janji politik semu.

Pembatalan acara-acara besar membuktikan manusia telah terhubung sejak dulu, bukan sebatas antar penggemar atau warga saja. Kita kini bisa menyaksikan sendiri, virus yang dikira hanya melanda rakyat jelata ternyata mampu menjatuhkan pasar saham dan menewaskan pejabat negara di Iran.

Akan tetapi, corona juga menutup fasilitas umum yang dibutuhkan banyak orang. Sekolah-sekolah diliburkan. Kegiatan ibadah seperti umrah dan pergi ke gereja dihentikan. Italia bahkan telah melarang perkumpulan massa termasuk upacara pemakaman. Paus Fransiskus juga berkhotbah secara virtual. Kita akhirnya berkabung sendirian di rumah.

Dampak social distancing dan karantina terhadap kesehatan mental juga sangat terasa. Dalam laporan tentang isolasi sosial, para peneliti dari National Academies of Sciences menemukan hidup sendiri dapat meningkatkan risiko demensia pada orang lanjut usia secara signifikan.

Menghabiskan hari-hari di depan layar juga merugikan kesehatan mental generasi muda. Manusia diminta merenungkan mana saja yang penting dan tidak dalam hidup kita. Namun, kerugiannya tentu takkan bisa diukur.