Iklan
Luar Angkasa

Gambar-Gambar Indah Ini Bukti Ledakan Supernova 100 Ribu Bintang di Galaksi Bima Sakti

Hasil observasi teleskop Chile menunjukkan pusat Galaksi Bima Sakti pernah mengalami ledakan besar sekitar satu miliar tahun lalu, peristiwa baru dalam dunia kosmik.

oleh Becky Ferreira
18 Desember 2019, 7:59am

Gambar survei pusat galaksi Bima Sakti ESO. Gambar: ESO/Nogueras-Lara dkk.

Penelitian terbitan Nature Astronomy menjelaskan bahwa satu miliar tahun lalu, 100.000 bintang di pusat galaksi Bima Sakti meledak menjadi supernova.

Kematian bintang masif ini “merupakan salah satu peristiwa paling energetik sepanjang sejarah Bima Sakti,” peneliti utama Francisco Nogueras-Lara, astronom Institut Astronomi Max Planck di Jerman, menyatakan.

“Kondisi wilayah yang diteliti selama aktivitas ledakan pasti mirip dengan galaksi ‘starburst,’” imbuhnya, merujuk jenis galaksi yang membentuk bintang sekitar 100 kali laju normal.

Temuannya menunjukkan Bima Sakti, yang terbentuk 13 miliar tahun lalu, menghasilkan aktivitas semburan supernova piroteknik. Selain itu, galaksi kita juga mengalami periode panjang dormansi bintang ketika bintang terbentuk dan mati pada tingkat lebih rendah.

Meski terjadi miliaran tahun lalu—sebelum kehidupan kompleks muncul di Bumi—periode intens starbust ini “meninggalkan jejak nyata” di pusat galaksi Bima Sakti, tulis Nogueras-Lara dkk.

Tim Nogueras-Lara mendeteksi jejaknya dengan GALACTICNUCLEUS, survei pengamatan baru yang ditangkap instrumen HAWK-I pada Very Large Telescope (VLT) Observatorium Eropa Selatan di Chile, Amerika Selatan. Berhubung pusat Bima Sakti agak berdebu, surveinya menggunakan gelombang inframerah-dekat yang mengekspos kejatuhan periode starburst.

Observasi rinci VLT juga membantu tim Nogueras-Lara mengumpulkan sejarah awal galaksi. Mereka menduga 80 persen bintang Bima Sakti terbentuk selama lima miliar tahun pertama masa hidupnya.

Begitu fase awal pembentukan bintang berakhir, galaksi kita menjadi tenang selama miliaran tahun—sampai tiba-tiba meletus pada periode starburst lebih baru.

Tidak diketahui apa yang memicu ledakan tiba-tiba itu, tetapi ada kemungkinan Bima Sakti mengonsumsi gas secara gravitasi dari galaksi kerdil terdekat. Hal ini mungkin memasukkan material baru di sekitar pusat Bima Sakti.

Apa pun alasannya, bintang-bintang baru terbentuk secara masif satu miliar tahun lalu. Bintang masif memiliki masa hidup lebih singkat daripada bintang-bintang seperti matahari, sehingga dapat meledak secara massal sekitar 100 juta tahun setelah kemunculannya. Itulah mengapa 100.000 bintang diperkirakan telah meledak selama periode aktivitas ledakan yang begitu singkat.

Fakta-fakta baru ini memang menarik, tetapi masih banyak misteri yang belum terpecahkan.

“Pengamatan tindak lanjut pencitraan spektroskopi dan resolusi sudut tinggi akan membatasi peristiwa berbeda lebih lanjut dan mengajarkan kita sejarah pembentukan Pusat Galaksi dan implikasinya pada evolusi Bima Sakti beserta lubang hitam supermasifnya,” simpul peneliti.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Tagged:
Supernova
Teleskop
teknologi
Sains
Alam Semesta
Galaksi Bima Sakti
Bintang