Kesehatan Mental

Berikut Kata-Kata yang Sering Dipakai Pengidap Depresi Sungguhan

Jangan salah, pengidap depresi klinis justru tak selalu memakai kata-kata negatif atau muram. Jadi, kenali ciri-cirinya sejak diri. Siapa tahu bisa menolong saudara atau sahabatmu.
22 Juli 2018, 8:30am
Ilya/Stocksy

Depresi mengubah segalanya. Mulai dari cara kamu beraktivitas dan tidur, hingga caramu berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling. Ini bahkan bisa terlihat dari caramu berbicara dan mengekspresikan diri lewat tulisan. Kadang “bahasa depresi” ini bisa memiliki dampak yang kuat di orang lain. Contohnya, lihat saja dampak dari puisi dan lirik lagu Sylvia Plath dan Kurt Cobain, yang mengakhiri hidupnya sendiri setelah bergumul dengan depresi.

Ilmuwan sudah lama berusaha mencari tahu hubungan persis antara depresi dan bahasa, dan teknologi membantu kita mendekati jawabannya. Studi baru kami, dirilis di Jurnal Clinical Psychological Science, telah mengungkap segerombolan kata yang bisa membantu memprediksi secara akurat apabila seseorang memiliki depresi.

Secara tradisional, analisa linguistik dalam ranah ini dilakukan para peneliti dengan cara membaca dan mencatat. Sekarang, metode analisa teks terkomputerisasi membuat kumpulan data besar dapat diproses dalam hitungan menit. Ini bisa membantu kita melihat fitur bahasa yang manusia kadang lewatkan, menghitung persentase munculnya kata-kata dan kelas kata-kata tertentu, diversitas leksikal, rata-rata panjang kalimat, pola grammar, dan banyak indikator lainnya.

Sejauh ini akses terhadap catatan pribadi dan jurnal harian yang ditulis pengidap depresi sangat berguna, termasuk milik seniman-seniman ternama seperti Cobain atau Plath. Sementara terkait kata-kata verbal yang mereka gunakan, potongan bahasa-bahasa yang alami digunakan pengidap depresi telah memberikan petunjuk menarik bagi psikiater.


Tonton dokumenter Tonic mengenai metode mengatasi depresi dengan cara yang kontroversial tapi sangat efektif:


Setelah dua jenis bahasa tadi digabung, penemuan dari penelitian macam ini mengungkap hasil yang jelas dan konsisten, bahwa ada perbedaan bahasa yang digunakan pengidap gejala depresi dengan yang tidak.

Bahasa bisa dipisahkan ke dalam dua komponen: konten dan gaya. Konten berhubungan dengan apa yang kita sampaikan—yaitu makna atau topik dari pernyataan. Tidak mengejutkan bahwa pengidap gejala depresi menggunakan banyak kata-kata emosi negatif, terutama kata sifat dan kata keterangan—seperti “kesepian”, “sedih” atau “sengsara."

Yang lebih menarik lagi adalah kebiasaan memakai kata ganti. Pengidap gejala depresi menggunakan kata ganti orang pertama jauh lebih sering—seperti “saya/aku”, “saya/aku sendiri”—dan jarang menggunakan kata ganti orang kedua dan ketiga—seperti “mereka”, atau “dia”. Pola kata ganti seperti ini mengusulkan bahwa pengidap depresi lebih berfokus ke diri mereka sendiri, dan kurang terhubung dengan orang lain. Peneliti menyimpulkan analisis kata ganti lebih bisa diandalkan saat mengidentifikasi depresi dibanding kata emosi negatif.

Kita tahu bahwa larut dalam masalah pribadi dan isolasi sosial merupakan tanda-tanda umum depresi. Namun, kita tidak tahu apakah penemuan ini merupakan pertanda perbedaan dari fokus atau gaya berpikir. Apakah depresi menyebabkan orang berfokus ke diri sendiri, atau orang yang berfokus diri terkena gejala depresi?

Gaya bahasa berhubungan dengan cara kita mengekspresikan diri, alih-alih konten yang disampaikan. Laboratorium kami baru-baru ini melakukan analisa data teks besar dari 64 forum kesehatan mental online yang berbeda, memeriksa lebih dari 6.400 anggota. “Kata-kata bersifat absolut”—seperti “selalu,” “tidak ada” atau “total”—ternyata merupakan penanda ketika memeriksa forum kesehatan, lebih efektif dari kata ganti atau kata emosi negatif.

Dari situ, kami memprediksi mereka yang mengidap depresi memiliki sudut pandang dunia yang lebih hitam putih, dan ini terlihat dari gaya bahasa mereka. Kata-kata yang bersifat absolut cenderung muncul 50 persen lebih tinggi di forum-forum internet membahas kecemasan dan depresi, dan kurang lebih 80 persen lebih tinggi forum ide bunuh diri.

Kata ganti menghasilkan pola distribusi yang mirip dengan kata-kata absolut di forum, tapi efeknya lebih kecil. Secara kontras, kata emosi negatif secara paradoks justru lebih banyak muncul di forum kecemasan dan depresi dibanding forum ide bunuh diri.

Penelitian kami juga mencakup forum penyembuhan, di mana anggota yang merasa telah sembuh dari episode depresif menulis postingan positif dan menyemangati tentang proses penyembuhan mereka. Di sini kami menemukan bahwa kata emosi negatif dalam level yang sama dengan forum lain, sementara kata emosi positif naik sekitar 70 persen. Kemunculan kata-kata absolut tetap lebih tinggi dibanding forum lain, tapi lebih rendah dari forum kecemasan dan depresi.

Mereka yang pernah mengalami gejala depresi berpeluang besar mengalaminya lagi. Maka dari itu, kecenderungan mereka terjebak pemikiran yang bersifat absolut, biarpun ketika tidak ada gejala depresi, dan ini merupakan pertanda bahwa pemikiran absolut memainkan peran di episode depresi. Efek yang sama bisa terlihat dalam penggunaan kata ganti, tapi tidak untuk kata emosi negatif.

Mengerti bahasa depresi bisa membantu kita mengerti cara berpikir para pengidap depresi, dan juga implikasi praktisnya. Peneliti tengah mengkombinasikan analisa teks terotomatisasi dengan mesin pembelajar (komputer yang bisa belajar dari pengalaman tanpa diprogram) untuk mengklasifikasi berbagai kondisi kesehatan mental, dari sampel teks bahasa alami seperti postingan blog.

Klasifikasi dengan cara seperti ini terbukti jauh lebih efektif daripada yang dilakukan oleh terapis terlatih. Lebih penting lagi, klasifikasi mesin hanya akan terus berkembang seiring lebih banyak data disediakan dan algoritma yang lebih canggih dikembangkan. Ini jauh lebih luas dari sekedar melihat pola umum absolutisme, negativitas, dan kata ganti yang sudah dibahas tadi. Sudah dimulai upaya-upaya menggunakan komputer untuk secara akurat mengidentifikasi sub-kategori spesifik seperti gangguan kesehatan mental—seperti perfeksionisme, masalah harga diri rendah, dan kecemasan sosial.

Biarpun begitu, tentu saja tetap mungkin bagi seseorang untuk menggunakan sebuah bahasa yang diasosiasikan dengan depresi tanpa sesungguhnya mengidap gangguan tersebut. Ujung-ujungnya, perasaanmu dalam jangka waktu yang lama lah yang menentukan apakah kamu sebetulnya menderita. Tapi seiring Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan lebih dari 300 juta orang kini menderita depresi, alias 18 persen lebih tinggi sejak 2005. Adanya lebih banyak metode untuk mengenali kondisi depresi tentunya penting guna meningkatkan mutu kesehatan publik dan mencegah kasus bunuh diri tragis yang dialami pesohor macam Plath dan Cobain.


Mohammad Al-Mosaiwi adalah kandidat PhD candidate bidang psikologi dari University of Reading. Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation. Baca artikel aslinya lewat tautan ini__.