Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng

Cara Sabrina Melawan Stigma Perempuan Pengendara Motor

Sabrina Sameh mengguncang kancah drag race motor Indonesia dengan prestasi tingkat internasional. Kepada VICE, ia menceritakan ambisi hingga kekesalannya atas stereotipe buruk perempuan dan motor matic.

|
Okt 6 2018, 4:37pagi

Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng

Jika ada orang sampai sekarang keukeuh dengan anggapan perempuan tak lihai mengendarai motor, atau malah meyakini stereotipe "emak-emak naik motor matic, sen ke kanan belok ke kiri", artinya mereka belum mengenal sosok Sabrina Sameh. Perempuan 24 tahun ini adalah salah salah satu pebalap drag Indonesia yang turut berkompetisi dalam beragam perlombaan internasional. Prestasinya tak main-main. Sabrina sukses meraih juara tiga di ajang balap NGO Internasional Drag Bike Party 2017 di Bangkok Avenue, Thailand untuk kelas Super Matic 200 cc. Dia pun kini menjadi salah satu pebalap dengan bayaran besar di Tanah Air.

Kepada VICE Sabrina dengan tegas menolak jika dirinya mesti disebut "pebalap perempuan." Ia ingin dianggap sama dengan pebalap lainnya, tanpa embel-embel gender, hanya karena Ia menggeluti olahraga yang terlanjur dicap maskulin.

Perjalanan karirnya sebagai pebalap tentu tidak mudah. Sabrina mengaku sering sekali diremehkan, dibedakan, bahkan menjadi ajang taruhan di lintasan. Kecelakaan di jalanan yang meninggalkan trauma mendalam bagi Sabrina menjadi titik balik baginya untuk berkendara secara aman.

Kami berbincang bersama Sabrina soal bagaimana Ia menjalani karir balapannya di tengah stereotipe balap motor yang konon "tidak untuk perempuan." Dia pun berbagi pandangan soal motor skuter matic, yang selama ini dianggap "motornya perempuan." Padahal motor matic yang punya dapur pacu keren sudah tersedia, serta bakal makin ngebut ditunggangi perempuan keren seperti Sabrina.

VICE: Halo Sabrina. Awalnya gimana kamu bisa menekuni dunia balap motor?
Sabrina Sameh: Awalnya sih memang karena keluarga. Mama suka motor, terus kakak juga suka motor. Kebetulan dulu juga ada bengkel di rumah, jadi kayak tiap hari aku ngelihat orang bongkar mesing, ngebubut, jadi mau enggak mau aku nyoba. Ya sudah ketagihan seterusnya. Sempat sih berhenti dan pindah ke balap mobil pas masuk SMA. Cuma pas kelas tiga SMA aku balik lagi ke motor.

Kenapa akhirnya malah balik lagi ke motor?
Enggak dapat feel-nya aja. Soalnya kalau motor itu buatku semacam cara untuk meluapkan emosi, daripada marah-marah. Benar-benar tertumpahkan di sana. Jujur aja tapi kalau naik motor di jalan raya malah aku enggak berani.

Loh kenapa di jalan raya enggak berani?
Kalau sekarang enggak berani nyetir motor di jalanan. Soalnya waktu SMP aku pernah tabrakan depan sama depan sama mobil, terus kaki aku masuk ke velg mobil gitu. Dari situ aku udah nggak mau lagi nyetir motor sendiri di jalan raya. Biarpun dibonceng, kadang aku suka takut apalagi kalau ngebut, aku langsung lemas.

Memang apa bedanya sih di jalanan dan di lintasan?
Kalau di lintasan sih aku mikirnya enggak ada mobil, dan enggak ada orang yang di bawah alam sadar mengendarai motor. Kadang kan misalnya yang nyetir ada saja yang ngantuk yang mabuk, yang nggak hati-hati. Kadang justru itu yang bahaya. Lalu aku mikir, kalau di lintasan itu semua orang sadar, dan enggak ada yang lawan arah. Mereka juga sudah paham gimana caranya berkendara.

Apa pencapaian yang paling kamu ingat terus dan kamu banggakan sampai sekarang?
Waktu itu di NGO Asian Drag Bike, aku satu-satunya yang berangkat dari Indonesia dan juga satu-satunya perempuan di sana. Waktu itu aku juara tiga. Aku enggak ngarep juara. Kalau balapan di sana itu boleh satu orang daftar berapa kalipun, mau sepuluh sampai belasan kali pun boleh. Rata-rata orang di sana daftar 5-8 kali, aku enggak berharap menang dan cuma daftar dua kali. Sudah beres, semua balapannya dan kemudian dihitung, eh ternyata aku juara tiga.

Tiap kali kamu di lintasan, adakah yang membedakan antara kamu sama pebalap cowok?
Sama aja. Karena ya emang enggak ada kelas perempuan kalau di balapan aku, terus kenapa aku harus merasa beda? Kalau aku terus-terusan ngerasa beda, aku susah majunya.

Kamu lebih nyaman mana disebut 'pebalap perempuan' atau pebalap aja titik?
Pebalap aja sih titik. Karena aku ngerasa aneh aja kalau dibedakan, toh kita tetap satu race, sama-sama jalan di lintasan.

Pernahkah kamu dipandang rendah atau lemah cuma gara-gara kamu perempuan?
Aku ngerasanya dulu [pernah]. Dulu aku sering banget dianggap "ah palingan elo cuma ikut sekali atau dua kali," atau disebut "ah elo cuma mau ikut tenar doang." Itu waktu aku umur 17 tahun, pas pertama kali aku balap serius. Nah aku waktu itu kemudian ikut balapan yang ketiga kalinya di Sentul, di sana aku start paling terakhir banget. [Sebagian pebalap] bikin aku jadi ajang taruhan, "kalau sampai juara, gue bayar Rp500 ribu deh."

Duh aku nyesek banget. Waktu itu aku makin greget dan terpacu untuk membuktikan. Waktu itu zamannya masih jarang banget pebalap perempuan, kalau sekarang sudah mulai banyak perempuan. Sekarang udah lebih maju dan lebih enak juga lingkungannya.

Pertama ikut balapan profesional gimana ceritanya?
Dulu aku pertama kali ikut balapan bareng sama sebuah bengkel gitu, aku pinjam motor dia untuk latihan. Nah pas pertama kali balapan aku diminta balap sama ownernya Anker Sport ini, setelah sekali balapan sama bengkel baru aku pindah ke Anker. Itu waktu aku umur 16 tahun.

Emangnya sebagai perempuan yang ada di sektor yang dianggap 'maskulin' itu sering dibedakan ya? Apa jalannya lebih berliku juga?
Ngerasa banget sih. Misalnya kalau dari awal mau balap aja suka dibedain. Misalnya kalau di mobil pas mau balap, duduk harus di depan nggak boleh di belakang. Pas sampai di hotel, tidurnya harus sendiri. Sampai di camp balapan, makanan tuh suka diutamakan. Kalau dari tim aku sih enggak dibedakan secara negatif, cuma aku pengennya dianggap biasa aja sama kayak semua.

Rasanya gimana pas kamu bisa membuktikan omongan mereka nggak benar, 'nih gue bisa'?
Rasanya kaya senang aja, kayak bisa ngebeli omongan mereka aja. Aku buktiin pakai prestasi.

Kamu sendiri ngerasanya gimana dengar banyak lelucon soal perempuan dituduh suka 'naik motor belok ke kanan sen ke kiri'?
Mungkin itu datang karena ada anggapan perempuan itu lebih lemah, nanti kalau kecelakaan bahaya lah, nanti pingsan lah.

Menurut kamu apakah adanya kamu yang jago naik motor bisa ngebongkar stereotype soal perempuan naik motor?
Aku enggak yakin sih, mungkin dengan banyaknya eksposure media masih bisa, cuma aku enggak yakin bisa dengan begitu saja diubah. Karena anggapan gitu udah di luar kepala orang-orang. Mereka laki-laki itu cenderung ngerasa menguasai motor, menguasai jalanan.

Benar enggak sih kalau orang yang awalnya enggak bisa mengendarai motor, paling gampang ya belajar pakai motor matic?
Menurut aku sih matic bukan lebih gampang ya, lebih nyaman aja dia enggak bikin pengendaranya capek, dan kaki nggak perlu ngelakuin apa-apa. Dashboard di depannya juga lebih nyaman.

Ada hal-hal yang biasa dilakukan Sabrina sebelum berkendara?
Kalau pengendara jalan raya misalnya jaket yang tebal, terus sepatu yang di atas mata kaki, celana jeans yang panjang dan nggak sobek-sobek, dan helm sih harus SNI. Kalau misalnya mau pergi jauh pakai sarung tangan yang ada protektornya juga. Sebetulnya celaka atau enggak balik lagi ke pengendaranya. Cuma kan sebetulnya itu hanya memperingan cedera dan luka aja kalau sewaktu-waktu terjadi kecelakaan.


Artikel ini hasil kolaborasi VICE X Yamaha memperkenalkan Aerox 155 CC. Skuter matic ini menjadi terobosan baru Yamaha, kendati bodinya bongsor namun motor satu ini akan sangat ringan digunakan siapapun, berkat tinggi jok yang hanya 790 mm. Sebagai skutik yang punya daya jelajah tinggi, Aerox memberi penunggangnya tenaga 15 Ps pada 8.000 rpm. Tapi tenang, berkat teknologi Variable Valve Actuator (VVA), Aerox tetap irit konsumsi bahan bakarnya. Selain itu, supaya kalian lebih aman, ada fitur Stop and Start System (SSS) yang otomatis mematikan mesin ketika motor berhenti lebih dari lima detik.

More VICE
Vice Channels