Aborsi

Begini Pengalamanku Melakukan Aborsi Ilegal Empat Tahun Lalu di Jakarta, yang Terus Kusesali

Rara bersedia membagi pengalamannya nyaris mati usai memakai jasa klinik aborsi ilegal. Praktik berbahaya ini sayangnya jadi tumpuan utama perempuan di Indonesia saat menggugurkan kandungan.

oleh Rara Laras; ilustrasi oleh dini lestari
01 Maret 2019, 8:28am

Semua ilustrasi oleh Dini Lestari 

Aku berdiri di depan klinik yang terkenal melayani praktik aborsi ilegalnya di Jakarta Pusat, bersama dua teman. Setelah mencari-cari info tentang tempat yang menyediakan jasa aborsi, aku menemukan tempat ini—yang menurutku bangunannya tidak meyakinkan. Lebih mirip gubuk penyakitan, daripada klinik.

Aku mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada respons. Saat kuintip dari jendela, tempatnya gelap gulita. Semua lampu mati. Mungkin kliniknya sedang tutup hari itu. Aku agak lega, karena tempatnya sangat menyeramkan. Orang tua mantan pacarku sebenarnya menawarkan aborsi di negara mereka, di Belanda. Mereka bersedia mengongkosi biayanya. Praktik aborsi di sana sudah pasti terjamin, tapi gimana caranya saya bisa ke sana? Apa yang harus kukatakan agar orang tuaku yang konservatif mengizinkanku pergi? Proses mengurus visanya pasti ribet juga. Jadi pergi ke Belanda adalah pilihan agak mustahil.

Ketika sedang menimbang langkah selanjutnya, seorang tukang bajaj menepi dan memberitahuku kalau ada “klinik” lain di dekat situ. Tanpa pikir panjang, aku mau saja naik ke dalam bajajnya. Dia membawaku pergi ke tempat yang dimaksud. Klinik satu ini tampak lebih meyakinkan, meskipun tetap agak mencurigakan juga.

Aku bukan satu-satunya pasien di sana. Ada beberapa perempuan, sepertinya seusia denganku atau bahkan lebih muda dariku, menunggu giliran. Aku beruntung karena kedua temanku tetap mau menemani. Aku merasa tidak enak hati kepada para perempuan ini, mereka sendirian. Mantanku, yang sudah putus denganku dua minggu sebelum tahu aku hamil, untungnya juga masih bisa diandalkan setiap kali aku butuh bantuannya.


Tonton dokumenter VICE menyorot klinik aborsi jalanan di Filipina:


Aku mendaftar, menandatangani beberapa dokumen, dan segera diminta membayar Rp4,7 juta. Beberapa “perawat” kemudian membawaku ke dalam ruang operasi.

Di dalam ruangan, aku melihat alat yang fungsinya menyedot calon anakku—gumpalan sel yang entah bagaimana mulai kusayangi justru ketika aku hendak menggugurkannya. Perawat membiusku total tak lama kemudian. Aku tiba-tiba saja sudah ada di ruangan lain ketika sadar. Bagian bawah tubuhku sakit, tapi tak ada yang bisa menandingi rasa sakit hatiku yang penuh penyesalan, kelegaan, sekaligus kesedihan setelah menggugurkan kandungan.

Aku merasa lemah dan gemetaran malam itu. Ketika aku mengirim SMS ke teman yang juga pernah aborsi, dia bilang kemungkinan setelah operasi aku akan demam. "Normal kok," katanya.

Aku berusaha memercayai informasinya, sampai akhirnya aku terbangun di tengah malam. Tubuhku berguncang hebat. Dari situ, aku sadar kalau ada yang salah. Aku tetap di kamar selama beberapa jam. Berharap gemetarannya segera berhenti.

Aku mencari keterangan soal gejala gemetar ini di Google dan hasilnya menunjukkan kalau aku kemungkinan menderita “septic shock”. Aku tidak benar-benar paham apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Keringat membanjiri tubuh. Aku setengah sadar waktu itu.

Aku langsung berteriak memanggil orang tua. Badanku kejang-kejang ketika mereka masuk ke kamar. Semuanya menjadi kabur. Aku ingat sedang merasakan sakit yang luar biasa saat keluarga menggotongku ke mobil. Aku juga ingat betapa terangnya lampu di rumah sakit. Sebelum pingsan, aku sempat bilang ke dokter, kalau sebelumnya melakoni aborsi. Aku tidak lagi memedulikan apapun. Aku belum mau mati.

Tiga minggu kemudian, aku bangun dengan tubuh sepenuhnya diikat ke tempat tidur. Ada banyak selang terhubung ke seluruh badanku. Aku bisa mendengar para perawat ngobrol, dalam bahasa yang cukup asing walau masih bisa kukenali. Aku lalu diberi tahu kalau sempat koma dan harus dipindah ke rumah sakit di negara tetangga. Rumah sakit di Jakarta mengatakan kepada keluargaku kalau mereka “sudah melakukan yang terbaik.” Ginjal, hati dan paru-paruku sempat berhenti berfungsi. Untung saja, orang tuaku tidak menyerah agar aku bisa tetap hidup.

Dokter di rumah sakit baru ini resmi memberi diagnosis, kalau aku memang mengalami septic shock, yang dikenal sebagai perkembangan sepsis parah. Sepsis adalah infeksi yang bisa menyebar melalui aliran darah. Kerja organ tubuh bisa gagal karenanya.

Dokter menemukan sisa-sisa jaringan janin dalam rahimku. Mereka cepat membersihkannya. Aku harus bergantung pada alat agar bisa tetap hidup. Andai terlambat ditangani, infeksi ini akan menyebar ke hati dan otak. Singkatnya, tubuhku sebenarnya sudah “mati”. Sepsis umum terjadi pada perempuan yang menjalani aborsi. Dokter segera curiga kalau infeksinya disebabkan peralatan klinik yang tidak steril.

1551339974953-Untitled_Artwork

Bangun dari koma adalah salah satu cobaan paling menakutkan yang pernah kualami. Kesadaraku muncul secara bertahap. Selama tiga hari, aku tidak bisa memahami apa pun. Aku sering mengigau dan ketakutan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi sekarang, koma menyelamatkanku dari rasa sakit dan kesengsaraan yang lebih lama.

Sepulang dari rumah sakit, aku masih perlu kontrol ke dokter selama beberapa bulan. Aku harus pergi ke sejumlah spesialis untuk memantau kesehatanku. Meskipun ada banyak masalah yang perlu kuatasi, hanya ada satu yang mengganggu pikiranku.

Apakah aku masih bisa punya anak di masa mendatang?

Dokter kandunganku bilang rahim saya tidak mengalami kerusakan permanen, tetapi dia juga mengatakan kalau aku mungkin bakalan sulit hamil.

Kejadian traumatik ini terjadi empat tahun lalu. Kesehatan fisikku sudah kembali normal lewat proses pemulihan yang panjang, tetapi kejiwaanku belum sepenuhnya sembuh. Aku masih sering kepikiran tentang aborsi malam itu. Aku khawatir tidak bisa menjadi diriku kembali.

Sebulan lalu, aku menjalani pap-smear yang menunjukkan beberapa kelainan. Aku dibiopsi, dan harus menunggu hasilnya dengan tidak tenang selama dua minggu. Aku tidak memberi tahu dokter di sini kalau saya pernah aborsi.

Di Indonesia, sebaiknya kita tidak ngomong apa-apa kalau mau aman. Aku tidak mau dihakimi orang. Selama waktu menunggu yang menyiksa itu, aku sempat yakin kalau praktik aborsi ilegal membuatku mengidap kanker rahim. Saat hasilnya keluar, aku tidak tahu harus merasa lega atau tidak. Data bilang, aku tidak mengidap kanker. Sampai akhir, aku juga tidak perlu ngomong ke dokter kalau pernah melakukan aborsi ilegal.

Tapi aku sangat marah. Aku seharusnya lebih mementingkan kesehatanku, daripada omongan orang soal aborsi yang terkesan bakal aman-aman saja. Waktu tidak bisa diulang dan aku harus membawa semua penyesalan ini sekarang.