Iklan
VICE Votes

Berikut Isu Penting di Mata Pemilih Pemula, Dua Capres Sama-Sama Luput Menggaet Anak Muda

Politikus, stop deh sembarangan pakai kata 'millenial'. Yang harusnya kalian rangkul itu gen Z, dan mulailah peduli sama isu yang mereka anggap penting.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
31 Maret 2019, 5:38am

Ilustrasi capres berebut suara anak muda oleh Poetra Pesik.

Menjelang pelaksanaan pemilu 2019, calon kata paling cringey, alias bikin geli cenderung jijik, buat anak muda adalah: millenial.

Politik di Tanah Air tentu senantiasa terdengar lucu dan menggelikan buat anak muda yang masih idealis. Namun yang beda di Pemilu 2019 ini, semua kubu seakan terobsesi sama kata "millennial". Tak ada yang lebih menyebalkan dibanding kata “millennial” ditempel sembarangan ke semua topik pembahasan. Lebih ngeselin karena pemilu tahun ini calonnya tua, tapi dipaksa harus bisa relevan buat anak muda. Hasilnya dua kubu saling mengklaim sebagai paling millenial tapi jatuhnya menggelikan itu. Belum lagi pariwara dari "partainya millennial" tapi materi iklannya justru dikritik generasi millennial itu karena pakai becandaan bapak-bapak.

Euforia serba anak muda sebenarnya bisa dipahami, walau eksekusinya oleh tim sukses bapuk. Ada 40 persen pemilih generasi millennial dan generasi Z dari total 192 juta total pemilih terdaftar. Sementara itu, ada sekitar 5 juta pemilih pemula yang akan mulai nyoblos tahun ini.

Daripada disebut-sebut melulu, tapi suaranya enggak dianggap, VICE coba ngobrol bareng calon pemilih pemula dari berbagai kota besar Indonesia.

Kami ingin tahu, apa sih yang ada di pikiran mereka sebagai bagian dari total 5 juta pemilih debutan tahun ini? Apalagi mereka harus menghadapi pemilu dengan pilihan sulit: mau Prabowo atau Jokowi (LAGI)?

Bisa dibilang, mereka sebetulnya semangat nyoblos, tapi ada banyak hal yang bikin keputusan belum bisa bulat menjelang 17 April mendatnag. Plus, beberapa pemilih pemula yang kami wawancarai punya pendapat menarik, kenapa kedua calon tidak efektif menggaet simpati mereka.

Berikut jawaban-jawaban mereka.

Putra Rashyad Azhardwian, 18, Pelajar SMA

VICE: Halo Putra. Isu apa yang paling elo peduliin dalam pemilu perdanamu ini?
Putra: Aku enggak suka pemimpin yang pakai agama buat kampanye, karena warga Indonesia bukan cuma satu agama doang. Malahan aku lebih milih pemimpin minoritas daripada pemimpin populis.

Dulu waktu gue pertama kali ikut pemilu, rasanya semangat banget. Sementara elo sekarang excited enggak?
Enggak sih. I wish there was more option than the current one. Karena ini rasanya kayak milih Hillary sama Trump, milih the lesser evil.

Apa pendapatmu soal Jokowi dan Prabowo?
Kalau Prabowo tuh... power hungry. Udah dua kali nyapres tapi gagal mulu, terus masih nyoba lagi, dan kayak enggak mikir "kenapa gue gagal dua kali ya?" Menggandeng Sandi sebetulnya masuk akal, tapi ya gitu, Sandi is on the wrong side in my opinion. Sementara Jokowi-Ma'ruf: Populisme. Mencoba banget menarik simpati pemilih mayoritas muslim. Kadang kalau keluarga besar ngumpul, yang dibahas "pokoknya pilih yang ada ulamanya biar indonesia lebih islam." Policy-nya nggak dipikirin, terus Jokowi terlalu fokus ke infrastruktur. Enggak salah sih, tapi mungkin overfocused ke situ dan enggak mencoba memgembangkan kebijakan di sektor pendidikan dan masalah dalam negeri lainnya.

Sebagai anak muda dan pemilih pemula, kenapa kamu peduli sama isu minoritas? Emangnya isu itu penting sebagai agenda calon presiden?
Karena menurut gue, minoritas itu juga bagian dari Indonesia. Mereka adalah warga Indonesia. Kalau kita enggak menunjukan penjaminan hak dan hormat yang sama kita berikan sebagai mayoritas kepada minoritas, berarti negara udah enggak peduli sama masyarakatnya. Padahal negara tidak bisa berdiri tanpa warganya. Semakin meratanya penjaminan hak dasar di Indonesia, semakin cepat kita bisa menjadi negara maju.

Menurutmu, strategi masing-masing paslon menggaet pemilih muda gimana? Kamu tertarik dan merasa dilibatkan?
Nope, kebanyakan temen sekolah gue enggak tertarik Pilpres. Mereka nggak punya opini. Paling ada yang nonton debat biar ngerti meme yang dikeluarin shitpost page Facebook. Tapi emang sih, demografi anak muda itu beda-beda per daerah. Politikus kalau mau menyasar semua demografi susah. Tapi, ketika strategi pemilu mereka hanya dengan nambahin "millenial" di semua kata, terus bikin meme-meme, itu cringe. Karena kita memandang orang politik itu serius. Mungkin meme works for some, but it didn’t work for me, at least.

Nadia Pasha, 19, Mahasiswa, Jakarta

VICE: Halo Nadia. Ini pemilu pertamamu ya? Semangat enggak buat milih?
Nadia: Aku excited banget karena akhirnya bisa ikut berpartisipasi dalam pemilihan presiden. Aku udah nunggu dari lama, sampai akhirnya bisa milih karena udah legal. Aku memutuskan pakai hak pilih untuk kebaikan negara.

Apa kesan yang kamu lihat dari masing-masing pasangan Capres-Cawapres?
Buat aku Prabowo-Sandiaga lebih formal, rapi, dan sangat menjaga image. Kalau untuk Jokowi-Ma'ruf mungkin lebih santai dan tidak banyak basa-basi. Kedua calon ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing sih.

Menurutmu, apakah gaya kampanye masing-masing paslon menarik pemilih muda udah berhasil?
Mungkin untuk Jokowi menarik sebagian anak muda karena dari gaya, dan bahasa yang dipakai juga santai tapi tetap sopan dan formal. Kalau Prabowo-Sandi mungkin lebih memakai slogan atau sebutan anak muda tetapi dikemas secara baik dan pastinya baku.

Isu penting apa yang kamu paling peduli yang semestinya jadi perhatian utama?
Masalah pengangguran di Indonesia yang menurut aku harus sangat diperhatikan. Di negara kita ini, banyak masyarakat yang berpendidikan, sudah mencapai sarjana, tapi cari pekerjaan sulit.

Dewi Milna Handayani, 17 tahun, Surabaya, Pelajar

VICE: Halo Dewi. Kamu tertarik memberikan hak suara di pemilu pertamamu?
Dewi: Iya, excited akhirnya bisa ikut andil buat kesuksesan bangsa. Tapi masih belum tahu mau milih siapa, karena mau liat program kerja ke depannya dulu.

Sebagai pemilih pemula, gimana kamu memandang Prabowo-Sandiaga dan Jokowi-Ma'ruf?
Kalau Prabowo banyak enggak percayanya, soalnya rata-rata yang diomongin enggak ada yang bermutu. Kalau Jokowi keliatan kerja, meskipun kayaknya calon wakil presidennya bakal kurang membantu atau mungkin bahkan enggak membantu sama sekali [di pemerintahan].

Bagaimana sosok presiden dan wakil presiden ideal versi kamu? Bisakah kamu deskripsikan?
Presiden idealku adalah preisden yang bisa berkomitmen memberantas kejahatan HAM di masa lalu sih, dan mengangani persoalan sosial yang ada di banyak kota besar Indonesia, termasuk kotaku Surabaya.

Arrifa Lieadhya Effendi, 18 tahun, Padang

VICE: Halo Arrifa. Semangat memberikan hak suara di pemilu perdanamu?
Arrifa:
Excited mungkin iya, tapi enggak terlalu. Ada rasa semangat karena ini pertama kalinya aku ikut pemilihan umum di level apapun. Ini pengalaman baru, makanya aku semangat. Tapi selain karena itu, enggak ada hal lain yang bikin aku benar-benar antusias. Satu hal lagi yang bikin antusiasmeku sedikit berkurang karena orang tua atau guru di sekolah aku suka menggiring aku milih pasangan yang mana.

Emang ngarahin gimana?
Kalau di kelas aku, yang pernah aku alamin itu guru agama aku pas jam pelajaran ngasih opini tentang pemimpin yang tidak seharusnya dipilih. Di akhir kelas, beliau secara tidak langsung ngajak kelas aku biar golput aja. Atau pas di rumah, orangtua aku kekeuh nyuruh aku milih paslon yang mereka mau, dan fenomena kayak gini ternyata juga ada yang terjadi sama teman-teman aku.

Apakah kamu sudah kepikiran milih yang mana? Emang sosok capres cawapres yang ideal yg gimana sih?
Sampai sekarang aku belum membulatkan pilihan. Bagi aku sosok capres cawapres ideal itu adalah yang terbuka soal hal hal baru, pemikiran-pemikiran yang lebih progresif, ada rencana kerja yang realistis, terus juga enggak mengandalkan agama untuk kepentingan politik mereka.

Menurutmu ada yang berbeda dari kampanye Pilpres tahun ini dibanding 2014 yang waktu itu kamu belum bisa ikutan?
Aku melihat kalau tahun ini kampanye kedua kubu lebih gencar dan lebih intens. Kalau dulu seingatku masih ada kampanye di platform awam seperti televisi, media cetak, beberapa media digital, dll. Tapi kampanye Pilpres tahun ini lebih merhatiin porsi kampanye media digital. Yang beda lagi itu, kalau dulu kampanye Pilpres rasanya enggak terlalu menargetkan generasi muda, beda dengan kampanye tahun ini.

Apa sih pendapat kamu mengenai Golput?
Menurutku, meski golput itu kerap dianggap negatif, atau dianggap menggambarkan sikap apatis, golput juga ada gunanya. Yang pertama kalau angka golput tinggi, berarti ada tingkat ketidakpuasan yang tinggi juga dari masyarakat. Golput bisa jadi tolok ukur baru mengukur bagus enggaknya demokrasi negara. Jadi, menurutku baik buruknya golput sebetulnya harus lebih diperhatikan lagi, siapa tahu sebenarnya golput bisa jadi kunci buat pemilu yang lebih baik.

Isu apa yang menurutmu paling penting saat ini?
Pendidikan. Mulai dari playgroup, sampai S3. Untuk orang tidak mampu sampai orang paling berada di Indonesia. Pendidikan bukan hanya di bidang sains, tapi pendidikan yang memanusiakan manusia. Menurutku itu yang harus dibenahi dan diperhatikan dulu. Karena jika isu ini beres, yang lain bakal ngikut. Kenapa sih kita tidak fokus ke sumber permasalahannya? Negara yang bisa maju menurutku adalah negara yang sadar pentingnya literasi dan wawasan pribadi tiap warga negaranya.