Iklan
badminton

Bisingnya Penonton Badminton Kita Tak Ada Lawan

Atlet badminton asing sering gentar pas tampil di Istora Senayan. Kento Momota sampai ikutan nonton laga Jojo Christie di lapangan sebelah saking ramainya penonton bersorak.

oleh Diana Fitriani
28 Januari 2019, 10:57am

Penonton dengan atribut heboh selalu ada tiap kali pertandingan digelar di Istora Senayan. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters

Buat kalian yang selama ini menonton pertandingan badminton di Indonesia dari layar televisi, dan merasa suasana amat gaduh, cobalah sekali-kali merasakannya langsung di lapangan. Saya melakoninya pekan lalu, saat mengikuti rangkaian Daihatsu Indonesia Masters 2019. Jujur, kondisinya jauh lebih bising dari perkiraan. Tiap keluar dari stadion kepala saya pening. Telinga juga terus-terusan pengang dan terasa berdentum-dentum hingga menjelang tidur.

Gemuruh penonton di Istora dihasilkan dari berbagai macam sumber suara. Mulai dari paduan teriakan penonton, tepukan balon yang dikasih gratis sama panitia, celetukan iseng, omelan penonton ke pemain, dan seterusnya. Ada satu lagi sumber kebisingan khas penonton badminton di Indonesia, yakni teriakan berulang "EEE...AAA" yang mengingatkan kita pada acara televisi legendaris dipandu Tukul Arwana.

Penonton Indonesia cukup terkenal di kancah badminton global sebagai yang paling heboh (bahkan ada blogger olahraga menjuluki suporter paling 'tidak ramah' bagi atlet sedang bertanding). Pernah ada media yang menghitung, ternyata gemuruh di Istora mencapai 115,6 desibel. Lebih nyaring dari suara yang didengar penggemar musik metal saat berada dalam area mosh pit.

Sepanjang Indonesia Masters 2019, penonton di sekitarku enggak cuma menyoraki pertandingan yang melibatkan pemain Indonesia lho. Kalau di lapangan lain ada yang kelihatannya lebih seru, mau yang main sama-sama atlet asing, penonton bisa nebeng nyorak-nyorakin.

Sorakan macam itu terjadi, misalnya, dalam round pertama ganda putri antara Yuri Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) versus Chang Ye Na/Jung Kyung Eun (Korea Selatan). Aslinya, sebagian penonton lagi menyimak duel tunggal putri Dinar Ayustine (Indonesia) melawan Saina Nehwal (India). Sampai kemudian terjadi reli panjang menarik di lapangan ganda putri. Penonton satu stadion beralih memberi semangat kepada Chang dan Jung, karena pasangan Jepang lawan mereka adalah ranking satu dunia yang terkenal sulit banget dikalahkan.

Hasil akhir, pasangan Korea menang dengan skor set kedua telak, 21-9. Terima kasih, penonton Indonesia!

Sejak selesai direnovasi awal 2018, demi menyambut Indonesia Masters dan Asian Games tahun lalu, Istana Olahraga (Istora) di Kompleks Gelora Bung Karno Senayan harus diakui jadi lebih oke buat performa pemain bulu tangkis Indonesia. Setelah puasa gelar, sepanjang 2018 Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir berhasil juara Indonesia Open 2018 (Indonesia Masters tahun ini adalah momen perpisahan Butet—panggilan Liliyana. Nanti akan ada liputan khusus soal pensiunnya sang atlet legendaris itu di VICE), Marcus Gideon-Kevin Sanjaya juga memenangkan Indonesia Masters 2018. Sementara dalam Asian Games 2018, Jonatan 'Jojo' Christie, Fajar-Rian, Anthony Ginting, Owi-Butet, dan Greysia Polii-Apriyani Rahayu, semuanya memborong medali.

Kebisingan tadi mungkin oke-oke saja buat pemain Indonesia, tapi pastinya enggak oke buat atlet tamu. Istora Senayan lebih baik secara infrastruktur, sementara bisingnya tetap bikin gentar pemain asing.

Istora sudah tergolong stadion bulu tangkis standar internasional. Tapi, kapasitasnya relatif kecil, cuma muat tujuh ribuan penonton. Bandingkan dengan stadion bulu tangkis lain di Asia, kayak Taipei Arena Taiwan, tempat Chinese Taipei Masters yang bisa menampung 15 ribu orang, atau Nanjing Youth Olympic Games Sports Park Arena, tempat kejuaraan dunia BWF, dengan kapasitas 61 ribu penonton!

Lalu kenapa Istora yang lebih kecil jauh lebih sukses memicu kebisingan dibanding stadion bulu tangkis lainnya?

Dari hasil analisis saya, jarak antara tribun penonton dan lapangan hanya sekitar tiga meter. Amat ideal mengamplifikasi sorakan. Apalagi susunan setnya berupa empat lapangan samping-menyamping. Format kayak gini memudahkan penonton mengikuti semua pertandingan yang sedang terjadi. Ketika empat pertandingan berlangsung bersamaan dan penontonnya semangat teriak semua, suasananya jadi gila banget.

1548672916729-Screen-Shot-2019-01-28-at-175441
Penonton di Istora riuh mendukung ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Foto dari arsip PBSI.

Jika penonton bahagia karena bisa ekspresif sekaligus berisik, pemain merasakan efek beragam. Misalnya pasangan Malaysia Goh Liu Ying/Chan Peng Soon yang kalah di semifinal dari Tontowi/Liliyana. Mereka menilai dukungan penonton tuan rumah yang amat gaduh itu seru. Mereka enggak begitu masalah dengan sorakan intimidatif penonton. Goh dan Chan merasa penonton cukup fair. Ketika reli bagus dimenangkan oleh pemain tamu, mereka juga mendapatkan apresiasi dari penonton. "Paling kalau ngomong ke partner harus teriak-teriak," kata Goh Liu Ying.

Pemain ganda putri Jepang, Ayaka Takahashi, di semifinal melawan pasangan tuan rumah Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, juga menganggap main di Indonesia sebagai pengalaman spesial karena hanya terjadi dua tahun sekali, yaitu saat Indonesia Masters S500 dan Indonesia Open S1000. Takahashi bilang, penonton Istora Senayan bikin dia benar-benar merasakan pengalaman bermain tandang.

Di antara beberapa pemain internasional, Kento Momota—atlet Jepang yang belakangan merangsek ke jajaran papan atas tunggal putra terbaik dunia—termasuk yang menyukai semangat penonton Istora. Apalagi fans Momota di sini tempo hari lumayan banyak dan berani. Saat Momota melawan Anthony Sinisuka Ginting di perempat final, penggemar asal Indonesia ada yang terang-terangan mendukung Momota, tanpa peduli dipandang sinis karena mendukung lawan.

Meski Momota bilang keriuhan penonton menyalurkan energi positif ke dirinya, dia juga mengalami kejadian bodoh gara-gara aksi penonton. Peristiwa itu terjadi saat ia bertanding bersamaan dengan Jonatan Christie di babak kedua Indonesia Masters 2019. Terdistraksi oleh kehebohan di lapangan Jojo, Momota sampai kehilangan fokus karena ikutan menyimak pertandingan di lapangan sebelah.

"Saya pikir pertandingan tadi antara Jonatan menghadapi Shi Yuqi sangat luar biasa. Soalnya dukungan penonton banyak sekali," kata Momota saat konferensi pers. Untung saat itu Momota berhasil menang dari pemain Denmark.

Bukan hanya pengalaman menyenangkan atau kocak yang terjadi karena penonton ribut. Momen panas dingin sempat terjadi antara penonton dengan pemain lawan karena menyerukan kalimat "Denmark, go home, Denmark" yang ditanggapi dengan ledekan balik oleh pemain Denmark Boe/Mogensen. Memang enggak semua sorak-sorai penonton bernada suportif. Tidak jarang teriakan mereka lebih terdengar intimidatif, misalnya dengan nge-boo lawan ketika servis, sampai menuntut shuttlecock diganti.

Wajar bila pemain asing ada yang sampai marah besar sama kebisingan penonton Indonesia. Insiden itu terjadi saat ajang Indonesia Masters 2018. Pemain asal Hong Kong, Tse Ying Suet, merasa penonton yang berisik bikin dia kesulitan menangkap instruksi pelatih saat jeda reli, dan itu membuatnya kalah.

Tse Ying Suet enggak sendirian. Ada satu pemain yang sangat legendaris dan dikenal benci banget sama bisingnya Istora Senayan. Dia adalah Lin Dan, pemenang emas olimpiade tunggal putra dua kali. Wajar aja doi sebal, Lin Dan yang sering menghadiri setiap turnamen di Indonesia memang sering kalah di stadion ini.

Bisa kebayang sih dongkolnya. Aku saja yang gembira karena bisa nonton atlet-atlet terbaik dunia masih merasa pening, apalagi Lin Dan. Udah pening, kalah pula.

Memang bisingnya Istora ini enggak ada duanya. Saranku buat pembaca sekalian, sensasi bising ini wajib dialami, minimal sekali seumur hidup deh.

Tagged:
indonesia
Olahraga
Bulu Tangkis
Jonatan Christie
Kento Momota
Penonton Badminton
Daihatsu Indonesia Masters 2019
Indonesia Open