Iklan
Sejarah Bumi

Ilmuwan Temukan Bukti Penyebab Asli Punahnya Dinosaurus

Efek pendinginan global, yang disebabkan oleh menguapnya belerang, menyiksa makhluk hidup yang selamat sampai mereka binasa.

oleh Becky Ferreira; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
14 September 2019, 11:39am

Ilustrasi hantaman meteor ke Bumi yang bikin punah dinosaurus. Foto via Getty Images/puchan 

66 juta tahun lalu, hari berjalan seperti biasa ketika tiba-tiba asteroid raksasa menghantam Bumi dengan kecepatan 15 mil per detik. Tabrakan itu menghasilkan ledakan keras yang kekuatannya setara dengan lebih dari satu miliar bom atom.

Serpihan debu asteroid menghalangi cahaya matahari dan mengakibatkan punahnya 75 persen makhluk hidup di Bumi, termasuk dinosaurus. Puing-puing itu, yang diendapkan dalam 24 jam setelah kepunahan massal, sekarang dijadikan sampel dan diteliti oleh para ilmuwan modern.

Sean Gulick, profesor riset Geofisika di University of Texas, memimpin tim peneliti yang merekonstruksi “hari pertama Kenozoikum”—masa pada periode geologi modern yang terjadi setelah era dinosaurus Mesozoikum—menggunakan bebatuan kuno tersebut. Penelitian mereka diterbitkan pada Senin di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

1568054850574-210535_web
Sean Gulick dan peneliti Joanna Morgan memegang sampel inti. Gambar: University of Texas di Austin Jackson School of Geosciences

Benda berharga ini mengendap di dalam kawah Chicxulub selebar 100 mil yang berada di bawah Semenanjung Yucatán, Meksiko. Walaupun bagian dari formasi ini sudah pernah diambil sampelnya, Gulick dkk adalah orang pertama yang mengebor sampai ke “kawah puncak” — dataran tinggi di tengah kawah.

Mereka menduga cincin puncak ini tidak mengalami erosi yang begitu parah setelah gempa susulan, menjadikannya arsip peristiwa geologis utuh yang terungkap dalam jangka waktu pendek.

“Ini adalah jejak peristiwa yang dapat kami pulihkan dari dalam ground zero,” Gulick menyatakan. “Benda ini memberi tahu bagaimana peristiwanya memengaruhi lingkungan sekitar dari lokasi kejadian.”

Pada 2016, Gulick ikut memimpin misi pengeboran di cincin puncak, yang berada 450 meter di bawah perairan Teluk Meksiko. Mereka mengeluarkan sampel yang terkubur sedalam 1.300 meter di dasar laut dengan bantuan kapal Liftboat Myrtle.

Sampel inti tersebut menguak dampak ledakan memicu kebakaran hutan ribuan kilometer jauhnya. Sisa-sisa ekosistem yang telah terbakar kemudian disapu bersih oleh gelombang tsunami. Kawah puncak, yang naik ke ketinggian 425 kaki dalam 24 jam, sebagian terbentuk dari abu bekas kebakaran.

“Dalam sehari, air tsunami menyeret material seperti serpihan arang dari garis pantai,” bunyi penelitian. “Arang-arang itu kemungkinan terbentuk dari pepohonan yang terbakar di sekitar Teluk Meksiko, berhubung situs dampaknya berupa lautan.”

Para dinosaurus di dekat garis pantai ikut terbakar, dan jasadnya terseret air sampai ke zona ledakan yang ratusan kilometer jauhnya. Mereka lalu terkubur di dasar laut.

Dampak ledakan asteroid melepaskan sejumlah besar zat belerang yang menghalangi cahaya matahari dan menghasilkan pendinginan iklim. Lantas, sebagian besar spesies Mesozoikum punah karenanya.

Masalahnya, tim Gulick hampir tidak menemukan endapan kaya belerang di lokasi ledakan, yang mendukung teori bahwa material sulfur menguap ke atmosfer ketika asteroid menghantam Bumi. Banyak makhluk hidup yang selamat dari banjir dan kebakaran, tetapi perlahan-lahan punah karena berubahnya iklim.

Gulick menyebut efek pendinginan global sebagai “penyebab asli kepunahan”. “Satu-satunya cara kepunahan massal terjadi yaitu karena ada efek atmosfer,” ujarnya.

Kesimpulannya, kebangkitan masa Kenozoikum menyiksa makhluk hidup yang selamat hingga mereka binasa.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard