Musik

Perjalananku Menikmati Semua yang 'Folk' dari Folk Music Festival 2018

"Tak perlu bingung mendefinisikan folk itu apa deh, yang penting sing along pas Jason Ranti, enggak usah gengsi juga kalau mau nyanyi pas Fourtwnty."

oleh Titah AW
13 Agustus 2018, 10:43am

Penonton antri masuk ke venue Folk Musik Festival 2018. Foto oleh Umar Wicaksono

Dua panggung besar didirikan dalam kepungan suhu yang mencapai angka 13o celcius. Tanah lapang kawasan Agrowisata Batu yang jadi tempat gelaran Folk Malang Festival 2018 jadi terasa auto-syahdu berkat latar belakang pemandangan gunung-gunung berkabut. Penonton masih cukup lengang siang itu, saya duduk beralas rumput, berusaha membungkus badan dengan syal merah marun yang saya bawa. Dalam hati saya mengumpat kecil, shit salah bawa baju.

Folk Music Festival 2018 yang diadakan pada 3-5 Agustus 2018 lalu adalah acara tahunan yang diakui atau tidak, punya pamor besar dalam perkara legitimasi musisi folk tanah air. Tapi apa iya?

Dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju kemari, saya sudah berjanji pada diri sendiri, “Sudah, nggak usah ikutan bingung mendefinisikan folk itu apa deh, yang penting sing along pas Jason Ranti, nggak usah gengsi juga kalau mau nyanyi pas Fourtwnty,” batin saya. Diadakan saat geliat folk tengah ramai, FMF 2018 tentu saja diharapkan bisa memberikan jawaban atas kerancuan definisi folk yang selalu jadi gunjingan banyak orang.

Musisi pertama yang tampil di panggung utama Arief S. Pramono dengan gitar kopongnya kedapatan melagukan empat kata kunci paling klise yang digunakan orang untuk mendefinisikan musik folk: senja, kopi, rindu, dan cinta. Keempat kata tersebut terangkum dengan polos di lagunya "Bersama Senja". Saya tak bisa menahan kikik geli, ah masa folk benar-benar seperti itu?

Namun sorenya, tampil Daramuda trio indie-bitches kesayangan kawula muda yang menggebrak panggung pertama untuk proyek mereka dengan lagu "Salam Kenal". Di lagu itu, trio Rara Sekar, Sandrayati Fay, dan Danilla mengolok musisi-musisi folk yang terjebak pada kata kunci folk yang awam tersebut. Sungguh dinamika yang jitu.

Suasana di sisi penonton saat Pusakata sedang manggung. Foto oleh Umar Wicaksono

Sesungguhnya persoalan ini sudah dibahas di hari pertama FMF 2018. Penonton yang datang sejak hari pertama akan menemukan hari penuh literasi. Di area lapang yang lebih rendah dari area musik itu diadakan empat panel diskusi soal Festival, Sastra Indonesia Timur, Folk Indonesia Timur, dan Geliat Media Online.

Pada panel Folk Indonesia Timur, Fuad Abdulgani-vokalis Elemental Gaze yang juga antropolog- dan Is Pusakata mencoba mengusut asal muasal stereotip rumusan senja-kopi-rindu di lagu-lagu folk masa kini. "Ada pengalaman praktikal soal rindu pada masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Timur yang merantau," ujar Fuad. Ia juga bercerita soal mobilisasi orang-orang Timur Indonesia ke Jawa dan Eropa oleh Belanda pada tahun 1500-an yang secara tak langsung menimbulkan 'kerinduan kolektif' yang membekas hingga kini.

Is juga menambahkan, “Soal rindu dan senja itu memang dekat dengan orang kita, kan Indonesia negara kepulauan tropis dan masyarakatnya petualang, wajar itu,” ujarnya. Saya yakin banyak yang lega mendengar jawaban tersebut. Tapi folk memang rumit, karena setelah itu mereka juga menjabarkan soal bagaimana folk harusnya mewakili identitas masyarakat, beserta seluruh konflik dan eksotismenya.

Versi lain folk yang lebih garang ditampilkan oleh secret guest hari kedua, yaitu Navicula. Dalam format akustik, mereka tampil membara dengan menyanyikan lagu-lagu anthemic. Robi dan kawan-kawan jadi satu-satunya musisi yang dengan gamblang mendongengi khalayak folk-urban-syahdu soal konflik agraria, peliknya pilihan jadi petani, sampai urgensi ASI di tengah gempuran industri makanan. Mengingatkan bahwa dalam folk selain bermanis-manis, kita perlu sedikit ber marxist-marxist. Untuk saya, hari itu Navicula menyelamatkan “Folk” dalam Folk Music Festival 2018.

Salah satu efek buruk dari menonton sebuah festival dengan rangkaian acara padat adalah kamu tak mungkin mendapat pengalaman yang benar-benar utuh. Namun untuk nama-nama tertentu, saya rela menahan dingin dan menonton dengan khidmat.

Seperti saat Gardika Gigih memainkan grand piano di panggung sebelah kiri. Kabut-kabut gunung di belakang panggung jadi terasa sinematik. Sandrayati Fay juga berhasil memperlambat waktu saat memainkan “Rest” dan “Ephemeral”. Penampilan istimewa juga disuguhkan Efek Rumah Kaca sebagai penghujung malam kedua. Gerombolan aktivis cum musisi ini kembali reuni dengan mantan basis mereka, Adrian Yunan. Lagu-lagu anthemic mereka berhasil membuat penonton berdiri melawan dingin dan mengepalkan tangan sambil sing along. Lega rasanya mendapati segelintir pemuda-pemudi masa kini dengan fasih menyanyikan nama aktivis-aktivis ’98 yang hilang di lagu “Jingga”. Untung saja gerombolan panitia yang anehnya menggunakan seragam bermotif tentara tak lalu berbuat sesuatu.

Di hari terakhir, line up yang ada membuat saya cukup pesimis. Seharian, saya cuma beringsut ke depan panggung untuk menonton pertunjukan slide show Jason Ranti yang mengocok perut. Saya lalu melipir kembali hingga jadwal Reda naik panggung, penampilan yang mengharukan. Sejak ditinggal Ari Malibu meninggal dunia karena kanker tenggorokan Juni lalu, Reda memutuskan meneruskan proyeknya. Separuh Ari Reda terbukti tetap syahdu, dan niscaya doa-doa untuk Ari Malibu mengambang ke langit dalam sunyi saat “Aku Ingin” dilantunkan.

Penampilan duo irish-folk asal Malang Wake Up Iris! Juga patut diapresiasi. Alih-alih di atas penggung, mereka turun ke tengah penonton dan memainkan musik mereka disana. Diroad, band asal Palembang juga mencuri hati dengan suara-suara khas melayunya. Diroad, dan tiga band lain adalah jebolan progam Gang of Folk di FMF tahun ini. Sebuah program untuk mencari musisi-musisi folk potensial dari luar daerah.

Selebihnya, hari itu saya lebih memilih menghabiskan waktu di area literasi. Toko Buku Fatimah, yang dikelola gerombolan literasi asal Yogya WARN!NGMAGZ berubah jadi markas penyair-penyair berkumpul. Saya sendiri sempat mengikuti lokakarya puisi oleh sejoli manis asal Ambon, Theorisia Rumthe dan Weslly Johannes. Mereka berdua juga membuka booth puisi seketika untuk siapa saja dengan menyetor nama.

“Banyak puisi jadi begitu indah bukan karena apa yang ia katakan, tapi oleh apa yang ia sembunyikan,” Aan Mansyur sempat berkata. Maka ketika penonton riuh sing along “Zona Nyaman” dan menertawai vokalis Fourtwnty yang buka baju di tengah suhu 12o, saya menemukan sebuah perayaan tersembunyi di pojok area literasi. Tempat dimana mesin tik biru milik Weslly Johannes-penulis Tempat Paling Liar di Muka Bumi- digilir oleh Aan Mansyur, Gunawan Maryanto, dan beberapa penonton perang puisi. Masing-masing wajib membuat puisi spontan. Berbekal sari apel dan otak yang sudah sedikit linglung kedinginan, saya pun mengetik sebuah puisi. Kapan lagi bisa berduel melawan sastrawan-sastrawan ini berpuisi?

FOLKTIVALIST tampil urakan di gelaran literasi FMF 2018. Foto oleh Umar Wicaksono

Lingkaran itu berjalan secara organik, Theoresia Rumthe -rekan Weslly dalam menulis kumpulan puisi Tempat Paling Liar di Muka Bumi- memosisikan diri sebagai MC dan mengubah momen itu jadi panggung pembacaan puisi. Rara Sekar, mantan vokalis Banda Neira yang sedang berlindung dari serbuan fans yang mengajak foto bersama, bergabung dan mensyarati penggemarnya untuk berpuisi sebelum berfoto. Lingkaran yang semula kecil makin membesar. Penonton yang berseliweran di area pasar kreatif pun sekali dua kali mampir untuk ikut membaca puisi dan bertepuk tangan. Sepertinya bukan ide buruk untuk menambah panggung puisi di FMF tahun depan.

FMF pada akhirnya tak memberi jawaban gamblang soal apa itu folk. Namun dinamika yang terjadi di panggung lewat ragam musisi yang ditampilkannya telah memberi wawasan menarik soal kompleksnya usaha pendefinisian genre musik di arena dan waktu yang terus berubah ini. Saya sih ternyata lebih menaruh perhatian pada area literasi, sesekali terhanyut dalam musik, urusan pertanyaan folk tadi, saya memilih kembali setuju dan sedikit mengubah sabda kaisar folk dunia Bob Dylan dalam lagunya: “Times Folk, They Are A-Changin’!”