Iklan
Seni

Menciptakan Karya Seni Dari Lautan Sampah Plastik Bali

Seniman asal Jerman, liina klauss​, menggugah kesadaran publik soal pencemaran sampah di laut Indonesia yang terlanjur parah. Caranya? Menciptakan instalasi warna-warni berbahan sandal jepit, limbah plastik paling tak terbayangkan manusia.

oleh Sattwika Duhita
08 Juni 2018, 8:48am

All photos courtesy Potato Head 

Bali kini tak bisa lagi hanya disebut sebagai Pulau Dewata, karena sudah ada status baru sebagai "Pulau Sampah". Sedih sih, tapi begitu kenyatannya. Lautan di wilayah Indonesia, tak hanya Bali, sudah dipenuhi sampah—yang tentu saja membunuh biota laut. Peneliti Cornell University, James Cook University dan LSM Environmental Defense Fund mensurvei 124.000 karang di berbagai samudra. Kesimpulan mereka mencengangkan, kondisi Indonesia termasuk yang paling parah untuk lingkup Asia Pasifik. Dalam setiap 100 meter persegi wilayah laut Tanah Air, terdapat 25,6 sampah plastik.

Penyelam Inggris pernah mengunggah rekaman Manta Point, lokasi menyelam yang terletak 20 kilometer dari pusat Ibu Kota Provinsi Denpasar, yang penuh sampah kantong plastik, botol minum, sandal jepit dan sedotan. Video ini lalu dia unggah ke Facebook dan YouTube. Video itu tentu saja segera menggegerkan publik.

Di tengah situasi suram inilah, seorang seniman asal Jerman berusaha menggugah kesadaran publik. Namanya Liina Klauss. Dia berkolaborasi bareng restoran Potato Head Bali untuk mengungkap realita pencemaran laut ini, dengan membuat instalasi seni berbahan 5.000 sandal jepit. Semua sandal yang mencemari pantai dan laut itu dia pungut di sepanjang pantai barat Bali.

Klauss dan timnya melakukan bersih-bersih pantai sebanyak enam kali, dan berhasil mengumpulkan sandal jepit dalam jumlah besar. Sedangkan proses penciptaan instalasinya butuh waktu berminggu-minggu. Dengan semua kerja keras itu, publik mendapat dua hal: karya seni yang enak dilihat, sekaligus menyadarkan kita betapa mengerikan skala kerusakan yang sudah tercipta dari plastik yang kita biarkan mengalir ke lautan nusantara.

Reporter VICE, Sattwika Duhita, ngobrol bareng Klauss untuk membahas motivasinya membuat instalasi seni tersebut, serta membicarakan ancaman yang mengintai Indonesia (serta Bali tentunya) kalau tak kunjung serius membenahi persoalan sampah plastik di lautan.

VICE: Halo Liina. Kenapa kamu membuat karya seni berbahan sandal jepit? Kamu memungutinya dari mana?
Liina Klauss: Saya memunguti banyak sandal jepit di pantai-pantai wilayah barat Pulau Bali. Warna sandalnya cantik-cantik, jadi saya tertarik pakai sandal jepit buat instalasi. Saya juga ingin orang menyadari kalau kehidupan sehari-hari kita sangat memengaruhi tingkat pencemaran laut. Orang Indonesia senang pakai sandal jepit, mungkin karena udara di sini panas banget. Nah, saya mau menunjukkan kalau sampah yang mencemari laut justru datangnya dari benda yang kita pakai sehari-hari.

Menurutmu apa yang bakal terjadi kalau sandal-sandal itu dibiarkan dan tidak dipungut?
Sama seperti yang terjadi ketika kita membiarkan polusi laut: sampah, seperti plastik, datang dari daratan, lalu tersapu ke lautan. Sampah ini akan terjebak dalam gyres. Lima gyres utama pada bumi memiliki berton-ton plastik. Gyres adalah arus berputar di laut. Ada gyres yang dipenuhi sampah. Plastik-plastik terjebak di lautan sirkular ini dan hanyut semakin dalam. Kalau kita tidak membersihkan pantai, sampah-sampah ini akan masuk ke arus dan perlahan laut akan mengurainya, dan mikroorganisme akan mencernanya. Jadi semua dampak buruk tadi akan kembali ke manusia.


Tonton dokumenter VICE mengenai timbunan sampah legendaris yang saking banyaknya ketika terbakar sudah seperti aktivitas Gunung Berapi:


Kamu dan tim butuh berapa lama memunguti sampah-sampah tersebut?
Saya mulai pada 2017, dan kami pergi ke pantai enam kali untuk pembersihan. Pada awalnya, lembaga nonprofit One Island One Voice lah yang menggagas acara bersih-bersih ini. One Voice One Island merilis grafik yang menunjukkan kalau sampah sandal jepit mencakup empat persen dari sampah plastik. Saya sangat salut dengan inisiatif One Voice One Island yang memulai gerakan pengumpulan sampah sandal jepit di Bali.

Berapa banyak orang yang membantumu untuk membangun pahatan ini?
100 orang untuk membersihkan pantai, 100 orang untuk menemukan 5000 alas kaki yang hilang, dan 5 orang untuk membangunnya. Semua materi yang digunakan dalam instalasi ini berkelanjutan.

Apakah menurutmu seni dan aktivisme lingkungan seperti ini bisa berjalan beriringan?
Seni memiliki kemampuan untuk menunjukkan masalah. Seni harus bisa menarik perhatian publik. Aktivisme juga melakukan hal yang sama, kan? Jadi, jika digabungkan, seni dan aktivisme bisa menciptakan suara yang lebih kuat, membuat orang memperhatikan sebuah isu tertentu.

Kamu tuh tipe yang optimis atau pesimis soal masa depan lautan?
Kita harus bergerak sekarang. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana kita bisa bertahan di planet ini. Kita perlu mengubah kebiasaan. Kita benar-benar harus menjadikan ini prioritas. Polusi dapat merusak sistem manusia. Kita bisa menghancurkan kemanusiaan, dan diri sendiri, kalau tidak melakukan perubahan apapun. Kita harus lebih bertanggung jawab.

Pernahkah kamu khawatir kondisi sampah di lautan Indonesia terlambat ditangani?
Kamu tahu, kan, kamu bisa ambil bagian. Kamu gak akan bisa maju kalau mikirnya kayak begitu. Satu-satunya yang bisa membantu kita membuat perubahan ya dengan melakukannya. Satu-satunya cara untuk memiliki solusi kreatif dan berkelanjutan adalah dengan bertindak. Beginilah cara kita menciptakan perubahan.

Banyak orang bilang instalasi seni kayak gini enggak bakal berdampak riil. Apa tanggapanmu?
Ya karya saya ini kan baru langkah pertama untuk menyadarkan publik. Pertama-tama, kalau kamu mau orang tahu masalahnya apa, kamu harus membuat mereka melihatnya. Instalasi ini kan memang bukan solusinya, melainkan tahapan pertama untuk menyelesaikan masalah. Da dari sini, bersama-sama kita bisa mengupayakan solusi sebenarnya dan menciptakan materi yang 100 persen bisa didaur ulang. Jadi, akan ada banyak kemungkinan dan solusi kreatif yang bisa kita lakukan.

Menurutmu, kelak orang Indonesia atau penduduk negara manapun semakin sadar untuk menghentikan pencemaran laut?
Saya rasa orang-orang selalu setuju kalau plastik berbahaya. Masalahnya mereka barangkali kurang sadar bahwa masalah ini menjadi semakin serius. Kita semua adalah konsumen, jadi kita punya bertanggung jawab terhadap apa yang kita beli. Kalau kita enggak punya pilihan saat ini, maka kita akan selalu pakai plastik.