Subkultur Anak Muda

Kembalinya Kancah Drifting Mobil Modif di Mosul, Bekas Jantung Kekuasaan ISIS

ISIS melarang anak muda Irak balapan mobil selama tiga tahun berkuasa. Setelah kota ini berhasil direbut militer Irak, anak-anak muda di sana memulai lagi revolusi budaya.

oleh Mustafa Sadoun
25 Mei 2018, 5:39am

Semua foto oleh Mustafa Sadoun.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Arab

Setiap hari minggu, di kawasan pemukiman nyaris terlantar akibat kehancuran selama pertempuran perebutan kota, anak-anak muda Mosul menggelar kompetisi tafheet (drifting) mobil-mobil modifikasi. Kegiatan yang sekira tahun lalu, masih mustahil dilakukan lantaran dilarang oleh rezim khilafah Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Mosul dulu adalah kota metropolis terbesar kedua di Irak, yang sempat dicaplok ISIS. Khalifah ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, bahkan memproklamirkan kelahiran khilafah baru di kota tersebut pada 2014. Tahun lalu, Mosul akhirnya berhasil direbut kembali oleh militer Irak, setelah sempat menjadi jantung kekuasaan pemerintahan militan selain Raqqa di Suriah.

Mobil-mobil yang digunakan anak muda Mosul itu rata-rata tua, buatan pabrik Jepang. Di seantero kota, hanya ada satu lokasi memiliki jalan aspal paling memadai untuk ban kecil yang berfungsi sebagai titik fokus pengemudi nge-drift (gaya menyetir sambil ngepot dalam kecepatan tinggi).

Tempat ini berukuran sekitar setengah lapangan sepakbola, diapit gundukan kerikil tempat penonton berdiri menyaksikan kompetisi.

Di tepi alun-alun, sekitar sepuluh mobil berbaris menunggu giliran drifting di hadapan ratusan penonton. Di antara kerumunan itu, penggemar dari kota lain yang rela mengemudi berjam-jam hanya untuk menyaksikan pebalap favoritnya nge-drift.


Setelah ISIS menguasai Mosul empat tahun lalu, para polisi syariah melarang olahraga populer anak muda tersebut. Orang-orang yang tertangkap basah ngedrift, surat izin mengemudinya langsung disita dan dihukum bui. Setelah militer Irak berhasil membebaskan warga sipil, Juli 2017, anak-anak muda segera menghidupkan lagi kancah drifting yang dulu ramai. Mereka mengadakan pertemuan rutin di lokasi yang sama setiap Jumat. Mereka kembali membangun subkultur ini, untuk meramaikan kehidupan yang suram gara-gara nyaris 80 persen bangunan di sana hancur.

Sinan Adel, 29 tahun, adalah pengemudi yang aktif di kancah drifting lokal. Dia ikut menghidupkan kompetisi agar rutin. Sekarang, setelah kegiatan anak muda Mosul kembali normal, Adel ingin agenda drifting disebarluaskan ke kota-kota besar lain di seluruh Irak. “Kami bekerja dengan kelompok penghobi balap mobil dari seantero negeri ini, untuk membuat acara serupa di sebanyak mungkin tempat,” ujarnya saat diwawancarai VICE. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa subkultur anak-anak muda di Mosul dan Irak aktif masih hidup. Itu juga membantu kami merasa kami tidak terisolasi dari bagian dunia lainnya. Yang kami butuhkan sekarang dari pemerintah adalah sarana yang memadai untuk balap mobil dan drifting.”

Sejauh ini, Sinan dan teman-temannya belum mendapatkan bantuan. Tidak ada sponsor atau hadiah dari kompetisi mereka. Panitia pun tidak membebankan biaya pendaftaran. Semua uang yang mereka habiskan untuk mobil dan pertandingan keluar dari kantong pribadi masing-masing.

Bagi Salem Ahmad, 26 tahun, ngedrift sejak awal hanya hobi untuk mengisi waktu luang. Dia mengatakan dulu, sebelum ISIS berkuasa, dia senang berkeliaran di trek. “Saya gemar ngoprek mobil, memperbaiki mesin, dan memodifikasi ban sesuai preferensi pembalap terkenal."

Dia cukup disegani drifter Mosul lain untuk saat ini. Tetapi persaingan mungkin tidak akan terus lesu terlalu lama, mengingat makin banyak anak muda kembali menekuni hobi modifikasi dan balap mobil setelah ISIS hengkang dari kota tersebut.


Tonton dokumenter VICE menyorot kebiasaan ilegal anak muda Arab Saudi balapan mobil dan drifting gila-gilaan:


Kompetisi drifting Mosul mulai menarik banyak anak muda dari luar kota. Hani Hadi, 28 tahun, yang tinggal di Dohuk—kota berjarak 80 kilometer dari Mosul, dekat perbatasan Turki—mengaku bersama teman-temannya rela berkendara ke Mosul saban Jumat hanya untuk menonton kompetisi drifting.

“Kami membawa sekitar sepuluh mobil dari Dohuk, lalu konvoi ke Mosul,” ujarnya kepada VICE. “Kami tidak memiliki kompetisi kayak gini di kota kami. Hidupnya kancah drifting ini semua berkat insiatif anak-anak muda, makanya perlu kami dukung.”

Simak foto-foto lain Mustafa Sadoun yang merekam gairah kompetisi drifting di Mosul:

Salem Ahmad
Sinan Adel