Iklan
20 Tahun Reformasi

Generasi 90'an Tak Sadar Kenangan Masa Kecilnya Sempat Dibajak Propaganda Orde Baru

Lagu anak Cindy Cenora sampai serial 'Tuyul dan Mbak Yul' pada 1998 pernah dimanfaatkan pemerintah menggalakkan program 'Aku Cinta Rupiah'.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
23 Mei 2018, 7:13am

Kolase foto oleh Dini Lestari. Sumber foto dari Shutterstock, unsplash, wikimedia commons, dan youtube

Generasi 90'an punya keyakinan angkatan merekalah yang paling bahagia—kecuali mereka tahu, sebagian nostalgia manis itu sebetulnya propaganda pemerintah. Barangkali benar, anak muda Indonesia di dekade 90’an hidup disertai lagu anak yang betulan bicara soal anak, main video game masa itu enggak perlu direbetin bayar in-app purchase melulu, dan TV pun punya ritme jelas: malam waktunya tontonan orang tua membosankan, sementara sabtu dan minggu penuh kartun atau film-film vampir Cina.

Di luar memori indah tadi, andai generasi 90'an jeli, Orde Baru sebenarnya sempat membajak berbagai aspek budaya pop untuk mempertahankan kekuasaannya menjelang momen Reformasi. Tragisnya, setelah 20 tahun, aku termasuk yang baru sadar kalau ada banyak propaganda tersebar lewat lagu anak dan serial TV sepanjang semester pertama 1998.

Contoh paling nyata tentu saja lagunya Cindy Cenora, “Krismon”, yang kalau kita dengarkan lagi sebetulnya termasuk lagu anak paling politis sepanjang sejarah Republik ini. Anak-anak dipaksa memahami fakta pahit, bahwa orang tua nyaris bangkrut secara finansial gara-gara nilai tukar melambung dari awalnya stabil di kisaran Rp2.500, tiba-tiba melesat lebih dari Rp16 ribu.

Inti lagu Cindy Cenora berkisah soal suara hati seorang anak kecil kelas menengah yang keinginannya biasa dituruti, mendadak ayah-ibunya kesusahan.

Ku minta baju baru
Katanya lagi krismon
Ku minta sepatu baru
Katanya lagi krismon
...
Su su sah su su su sah
Enggak ada yang murah

Lagu Cindy lainnya yang juga bernuansa politis berjudul “Aku Cinta Rupiah”. Sebagai anak umur lima tahun ketika lagu ini pertama kali keluar, lagu ini tentunya sangat familiar, nempel banget di kepalaku, bahkan mungkin generasiku.

Kampanye “Aku Cinta Rupiah” digalakan oleh Menteri Sosial kala itu, Siti Hardiyanti Rukmana atau biasa dijuluki Tutut, anak pertama penguasa Orde Baru, Suharto.

Kampanye itu bertujuan buat mendorong siapapun yang punya atau biasa bertransaksi dengan dolar di Indonesia untuk segera melepas dolarnya. Sejak saat itulah, lagu-lagu dan tayangan kesukaan anak-anak terasa sangat propagandis.

Nih coba kita lihat saja bagaimana lagu untuk anak, liriknya malah seperti imbauan iklan layanan masyarakat.

Aku cinta rupiah Biar dolar dimana-mana
Aku suka rupiah, karena ku anak Indonesia
Aku cinta rupiah, biar dolar merajarela
Aku suka rupiah, karena ku tinggal di Indonesia
Dolar punya Amerika, rupiah punya Indonesia
Papa juga tukar dolar, Mama belanja memakai rupiah

Lirik “nasionalis” juga terasa sekali di lagu “Krismon” dari penyanyi yang sama.

Aku cinta buatan Indonesia
Harga murah enggak kalah mutunya
Aku cinta buatan Indonesia
Tersedia di mana saja

Nasionalisme banal digalakan di masyarakat, seakan-akan rakyatlah yang dibebani tanggung jawab untuk cinta rupiah. Absurd juga ya, anak-anak kecil diminta untuk cinta rupiah. Emangnya bocah SD doyan jual beli valas buoooss??!!! Dalam lagu itu juga ada imbauan untuk “melepas dolar” yang kita punya. Lah aku masih 5-6 tahun, punya dolar dari mana? Lagian lagunya juga bias kelas, buat yang papa mamanya masih punya dolar. Yang ambruk mah boro-boro punya dolar, rupiah aja kagak.

Sepanjang 1998 saja, ada 16 bank yang ditutup pemerintah karena kekurangan modal. Situasi tersebut memperparah krisis di Indonesia, ketika negara-negara Asia lainnya mulai bangkit dari dampak gejolak moneter 1997. Biang keroknya adalah selama momen liberalisasi industri perbankan sejak 1988, pengelolaan bank ternyata memang serampangan.

Sejarawan JJ Rizal menyatakan sepanjang berkuasanya Rezim Orde Baru, praktik oligarki yang sama sekali tidak prudent menjadi salah satu penyebab runtuhnya ekonomi. “Ada praktik oligarki politik untuk kepentingan penjarahan ekonomi yang menggunakan negara sebagai alatnya. Itu hanya bisa dilakukan oleh pejabat atau elite, dan itu yang mendorong rupiah menjadi tidak terkendali, akhirnya jatuh dan Dollarnya melambung tinggi,” ujar Rizal.

Alhasil, kampanye Kementerian Sosial sebetulnya bisa ditafsirkan sebagai upaya mengalihkan perhatian masyarakat (dan anak-anak) dari inkompetensi pemerintah mengelola perekonomian nasional.

Selain lagu, propaganda sejenis bisa kalian temukan dalam sinetron anak-anak Tuyul dan Mbak Yul. Di episode ke-43, berjudul “Aku Cinta Rupiah”, dialog propagandis yang tak lazim kita dengar dalam sinetron menyasar segmen penonton segala umur muncul di sana-sini. Tengok saja obrolan Yulia yang diperankan Dominique Sanda bareng tokoh Sandra yang diperankan Ersa Mayori berikut:

Sandra : “Tapi mbak, mungkin enggak ya kejadian kayak waktu itu keulang lagi?”
Yulia : “itu kan cuma kerjaan para spekulan aja. Lagian begitu barang-barang itu habis di pasaran, pemerintah langsung nge-drop beras lagi.”
Sandra : “Oya? Mbak tahu dari mana?”
Yulia : “Kamu tuh makanya koran dibaca nonton berita. Pemerintah kan sudah menjamin kalau persediaan sembilan bahan pokok itu cukup sampai Maret”

Masih dalam episode yang sama, Yulia dan seorang tokoh bernama Bella berdebat. Mereka meributkan rencana Yulia hendak menukarkan dolar ke rupiah. Yuli enggan menerima saran Bella untuk menyimpan dolar.

Bella : “elo mau nukerin? Berapa banyak Yul?”
Yulia : “Sekitar 6000 Dollar”
Bella : “Tapi kenapa waktu 11 ribu itu lo enggak jual aja? Kan lumayan hasilnya. Yasudah sekarang lo simpan aja tunggu Dolar naik lagi baru lo jual”
Sandra : “Kalau naik, kalau turun gimana?”
Bella : “Ya beli lagi buat simpanan, lumayan kan
Yulia : “Eh itu berarti ikut ngancurin situasi ekonomi yang sekarang sudah sulit. Lo tahu enggak sih, sekarang semua orang itu usaha sebisa mereka untuk nyelamatin krisis moneter yang ini. Lihat aja mahasiswa di kampus sekarang lagi heboh bikin gerakan cinta rupiah, masa sekarang kita mau ikut-ikutan ngacauin situasi yang sudah kayak begini? Makanya sekarang, begitu punya dolar lempar lagi deh ke pasaran. Tukerin deh dolar-dolar elo”

JJ Rizal menyebut bahwa kampanye “Aku Cinta Rupiah” diinisasi oleh Tutut karena pemerintah panik melihat nilai rupiah yang semakin merosot. Kampanye berbau nasionalistik yang jatuhnya terkesan banal ini disebut Rizal berangkat dari semangat “nasionalisme takhayul”, sebagai ciri khas Orde Baru.

“[Sisipan propaganda di lagu dan serial TV] produk politik memanfaatkan nasionalisme yang selama ini orang Indonesia mengerti secara gampangan,” kata Rizal. “Nasionalisme itu rasa cinta terhadap tanah air, mau benar atau salah itu enggak peduli. Nah menurut saya di sinilah realitas itu disingkirkan. Keburukan ditutupi, karena itu kata yang cocok ya cuma satu yaitu nasionalisme yang hanya takhayul itu.”

Masalahnya, kenapa harus menyisipkan pesan politis ke anak-anak? Rizal berasumsi bahwa Orde Baru adalah rezim yang sangat sadar investasi wacana pada anak. Mereka ingin citra rezim selalu terjaga, seandainya OrBa runtuh sekalipun (dan memang akhirnya betul-betul terjadi tak sampai lima bulan setelah kampanye Cinta Rupiah digalakkan). Menurut JJ Rizal lagi, sejak lama anak adalah simbol penting dalam propaganda Orde Baru.

Anak dianggap melambangkan kesucian, kepolosan, dan masa depan. Itulah mengapa film propaganda nomor wahid, “Pengkhianatan G30S/PKI” menyediakan durasi cukup panjang berupa adegan dramatis tewasnya Ade Irma Nasution akibat tembakan pasukan Tjakrabirawa. Mobilisasi anak-anak SD-SMP menonton film itu sepanjang dekade 80’an terbukti menancapkan teror yang terus menghantui penduduk Indonesia masa kini.

Anak 90’an memang agak “mending”, cuma dapat sekian tahun teror anak jenderal membasuh muka sama darah—minimal dibanding generasi muda yang tumbuh besar satu dekade sebelumnya. Tapi mereka tidak bisa lagi naif memakai slogan “cuma anak 90’an yang tahu ini apaan...”

Iya, kami sekarang tahu rasanya ketika ingatan polos dulu sempat dibajak kepentingan rezim.